My Rich Husband

My Rich Husband
Part 33


__ADS_3

Keesokan harinya, Diora bingung ingin melakukan apa. Sebab dirinya tak memiliki semangat untuk menjalankan aktifitas seperti sedia kala. Ia bingung harus bagaimana caranya mengganti mobil dan baju yang hanya bisa dibeli oleh sultan itu. Hingga dirinya lupa akan kejadian di hotel kemarin yang membuatnya patah hati lokal.


Bahkan saat ini ia masih mengenakan baju tidurnya, duduk bersandar di ranjang dengan rambut yang acak-acakan. Berselancar dengan ponselnya mencari cara agar mendapatkan uang banyak secara instan.


“Bahkan aku jual diri selama tiga hari saja tak akan bisa mendapatkan uang sebanyak itu,” desahnya setelah membaca berapa penghasilan wanita penghibur sekali pakai.


“Atau aku menjadi sugar baby saja ya?” tanyanya dengan diri sendiri. Lalu mencari job desc dan pendapatan sebagai wanita simpanan om-om. Serta informasi lain yang terkait.


“Ih ... aku tidak mau dilabrak oleh istri sugar daddyku nanti.” Diora bergidik ngeri setelah melihat video yang ada di youtube dimana seorang wanita sudah berumur bertengkar dengan wanita muda.


“Ya Tuhan ... tolonglah hambamu untuk keluar dari permasalahan yang sangat sulit ini ... apapun cara engkau menolongku untuk keluar dari masalah ini, pasti aku akan menerimanya, meskipun dengan cara menikahi tuan muda kaya seperti di novel,” doanya dengan sungguh-sungguh, mengeratkan kedua tangannya untuk saling berpegangan dan meletakkannya di depan mulut serta matanya terpejam menggambarkan kesungguhannya.


Bel yang sengaja Diora pasang sebagai penanda ada tamu datang berbunyi, ketika Diora masih membacakan rentetan doa yang sama berkali-kali. Membuatnya langsung berlari menuju lantai dasar.

__ADS_1


“Sia ...,” ucap Diora terhenti ketika ia melihat siapa tamu yang datang ke kediamannya sepagi ini. “Tuan ... ini belum tiga hari kenapa kau sudah mencariku?” tanyanya dengan wajah bingung.


“Apa kau tak mempersilahkanku masuk?” tanya Davis, namun dirinya sudah melenggangkan kakinya masuk ke dalam diikuti oleh pengikut setianya.


“Kau sudah masuk,” celetuk Diora dengan wajah kesal. Ternyata pria arogan juga tidak memiliki sopan santun.


“Kau juga tidak mempersilahkanku duduk,” tukas Davis, bergeleng kepala dan berdecak mengejek Diora yang tak memperlakukan dirinya sebagai tamu dengan baik.


“Kau terlalu lama,” ketus Davis mendorong kepala Diora yang masih dapat ia jangkau.


“Maaf,” ketus Diora tak ikhlas mengatakannya. “Bisa tidak jika kau itu tak kasar dengan wanita,” serunya dengan wajah kesal.


“Aku tidak kasar,” elak Davis tak merasa dirinya berlaku kasar dengan Diora, sebab kasar menurutnya adalah ketika ia menghajar seseorang. “Aku hanya memegang jidatmu dengan telunjukku.” Ia menunjuk jidat Diora.

__ADS_1


“Ya ... ya ... tuan muda selalu benar,” cibir Diora. Ia sudah banyak membaca cerita novel tentang CEO arogan seperti Davis yang merasa hanya dirinyalah paling benar. “Maha benar tuan muda dengan segala keangkuhannya,” imbuhnya.


“Tidak buruk pujian yang kau berikan,” ucap Davis bangga merasa dipuji. Ia menyilangkan kakinya seolah-olah dirinyalah pemilik ruko berlantai dua itu. Bahkan ia duduk di sofa single yang paling berbeda dari sofa lainnya karena sofa itu khusus untuk Diora.


Diora mendengus sebal untuk yang kesekian kalinya, untung saja stok kesabarannya melimpah. Jika tidak, mungkin saat ini ia hanya tinggal nama saja.


“Ada apa tuan kesini?” Diora bertanya sambil mengikat asal rambut panjangnya. Membuat leher jenjang berwarna putih dan mulus miliknya terpampang nyata.


Glek ...


Davis menelan salivanya dengan kasar, melihat sesuatu yang membuat dirinya seketika merasa panas ingin sekali menanggalkan seluruh pakaiannya.


“Apa kau tidak memberiku air? Aku sangat kepanasan di sini,” celetuk Davis dengan mengibaskan tangannya untuk mengipasi wajahnya yang kepanasan karena hasrat yang dihasilkan dari fikiran liarnya.

__ADS_1


__ADS_2