
“Tuan, mereka sudah selesai,” ujar salah satu anak buah Cosa Nostra seraya membangunkan Davis dari tidurnya.
Setelah menunggu selama empat jam hingga tiga pria itu tertidur di bar pada kapal pesiar itu, akhirnya ajang pergiliran selesai juga.
“Hmm.” Davis mengibaskan tangannya tanda mengusir.
“Hei! Bangun!” Menggoyangkan tubuh dua pria beda generasi yang masih terlelap dengan posisi duduk.
“Engh ....” Lord dan George merenggangkan otot mereka bersamaan.
“Apakah sudah selesai?” tanya George dengan mata sayunya yang masih mengantuk.
“Ya,” jawab Davis singkat.
George melihat jam Richard Mille yang melingkar di tangannya. “Hah! Sebentar sekali mereka bermain, apa mereka semua ejakulasi dini.” Ia mendengus tak sesuai perkiraannya. Dua puluh pria menggilir dua wanita hanya waktu empat jam, itu sangatlah cepat baginya.
“Ayo kita lanjutkan sebelum matahari terbit, aku tak ingin istriku mencariku ketika ia sadar jika aku tak ada disana,” jelas Davis seraya mengenakan kembali jas yang ia lepas.
“Mana mungkin istrimu mencarimu, pasti dia sedang asik bersama mamanya, apa kau lupa jika kita mengunci mereka?” timpal Lord mengingatkan.
__ADS_1
“Justru karena kita mengunci mereka, sebelum mereka terbangun dan panik tak bisa keluar dari kamar itu,” imbuh Davis segera berdiri untuk kembali melanjutkan aksinya.
Lord dan George pun mengikuti, dengan aura yang begitu bersinar ditambah terpaan angin laut dimalam hari, membuat ketiga pria yang gagah itu semakin mempesona.
Mereka segera memasuki ruang bawah kapal. Davis masuk terlebih dahulu, namun ia langsung keluar kembali sehingga bertabrakan dengan George.
“Apa kau tak bisa hati-hati,” berang George karena benturan di kepala mereka sangat keras. “Kenapa kau keluar lagi?” tanyanya heran.
“Kenapa? Kau lihat saja sendiri.” Davis mempersilahkan sahabatnya untuk masuk, namun George langsung keluar lagi.
Lord merasa heran dengan Davis dan George yang keluar lagi. “Kenapa kalian keluar lagi?”
“Ternyata kalian anak muda yang memiliki sopan santun.” Lord memuji Davis dan George dengan menepuk pundak dua pria itu. Tanpa berfikiran aneh-aneh, ia langsung masuk ke dalam.
Davis langsung menutup pintunya dari luar. Membuat Lord di dalam berteriak mengumpatinya.
“Dasar menantu kurang ajar!” raung Lord setelah membuka kembali pintu dan keluar dari ruangan.
Davis dan George tertawa terbahak-bahak dengan reaksi Lord yang menunjukkan kemarahannya karena dikerjai oleh menantunya. Tak disangka, George si pria dingin ternyata bisa tertawa lepas dan Davis si pria arogan pun demikian. Secara tidak langsung, hubungan mereka bertiga ternyata semakin dekat.
__ADS_1
“Aku tak ingin mengotori mataku sendirian,” jelas Davis dengan memegang perutnya yang sakit akibat tertawa.
“Kita bertiga impas, ternodai matanya.” George menepuk pundak Lord agar tak marah-marah.
Lord mendengus, namun melihat Davis dan George tertawa terbahak-bahak membuatnya ikut tertawa. Entah apa yang membuatnya tertawa, namun ia sangat senang. Tak pernah ia merasa memiliki seorang teman dan sahabat seperti dua pria itu. “Kalian sangat kompak,” pujinya.
Tawa mereka pun berhenti, Davis segera menyembur anak buahnya karena mereka yang menyebabkan matanya ternodai.
“Apa kalian gila! Kalian membiarkan mereka telanjang dan mempersilahkan kita masuk!” berang Davis setelah mengumpulkan anak buahnya.
Alasan Davis, George, dan Lord keluar lagi dari ruangan karena mereka melihat tubuh ketiga tawanannya polos tanpa sehelai benangpun dengan posisi terikat tangan dan kakinya. Bahkan posisi kakinya pun terbuka lebar sehingga mereka merasa risi melihatnya.
“Maaf, tuan ... pakaian mereka robek, jadi tidak kami tutup kembali tubuh mereka.” Dengan kepala menunduk, salah satu pria menjelaskan alasannya.
“Aku tak mau tau, cari kain untuk menutup mereka!” titah Davis tak mau ada bantahan.
“Baik, tuan.” Segera mereka melaksanakan tugasnya.
“Ternyata anak buah Cosa Nostra bar-bar juga, aku baru mengetahuinya.” Lord berucap dengan bergeleng kepala mengetahui sisi lain mantan anak buahnya itu.
__ADS_1