
Davis keluar meninggalkan ruko tempat tinggal Diora dengan hati yang gembira. Entah mengapa ia sangat senang melihat wajah Diora yang kesal akibat ulahnya. Membuatnya sangat ingin mengerjai Diora setiap saat.
Davis dan George masuk ke dalam mobil tesla keluaran terbaru milik George yang baru saja ia beli, bahkan baru di datangkan oleh dealer mobil. Langsung mereka coba gunakan untuk ke tempat Diora.
George langsung tertawa terbahak-bahak ketika sudah di dalam kendaraan beroda empat itu. “Biarkan aku foto kau sebagai kenang-kenangan,” kelakarnya sudah tak dapat ditahan lagi tawa yang terpendam selama tiga puluh menit itu. Ia sudah siap dengan kamera ponselnya untuk membidik Davis.
“Diam kau!” seru Davis tak suka, memberikan sorotan tajam pada George.
George berdecak, lalu mengingatkan Davis tentang keinginan Davis kepadanya. “Serba salah saja aku ... aku banyak bicara kau tak suka dan selalu kau sumpal mulutku.” Ia mengingat kembali ketika mulutnya dijejal dengan potato chips dan sapu tangan milik Davis. “Aku diam tak perduli kau pun protes 'kenapa kau juga dingin denganku' apa kau tak ingat itu,” cibir George menirukan kata-kata Davis semalam ketika Davis bercerita dengannya, dan hanya dijawab singkat tak perduli.
“Kau yang tak pandai menempatkan dirimu,” kilah Davis.
__ADS_1
“Ya ... ya ... ya ... maha benar tuan muda dengan segala keangkuhannya.” George menirukan cibiran Diora untuk Davis dengan memperagakan gaya yang sama. “Kemana tujuan kita sekarang?” tanyanya, menengok sebentar ke arah Davis yang masih melihat ruko milik Diora dari dalam mobil.
“Kantor catatan sipil,” jawab Davis tanpa memalingkan pandangannya yang masih menatap jendela lantai dua, menampakkan siluet Diora tengah berganti pakaian.
“Untuk apa kau kesana?” George bertanya sembari melajukan mobilnya dengan perlahan.
“Mendaftarkan pernikahanku,” sahut Davis melihat jalan depan karena pandangannya sudah tak dapat menangkap siluet Diora lagi.
“Mana bisa ... kau harus memiliki kartu identitasnya,” celetuk George memberitahu salah satu syarat untuk mendaftarkan pernikahan di kantor catatan sipil.
“Bagaimana bisa?” George heran, sejak kapan ia mendapatkan itu. “Asli kan?”
__ADS_1
“Tentu saja asli, apa kau tak melihat? Kemarin aku di cafe mengambil paksa dari dompetnya,” tukas Davis bangga karena bisa mengambil kartu identitas Diora.
“Ohh ....” Geroge hanya berohria. Dirinya memang tak mendengar dan tak melihat ketika Davis mengambil dompet Diora dengan paksa. Sebab dirinya menyumpal telinganya dengan airpods, mendengarkan musik dengan kencang dan berselancar dengan ponselnya agar tak seperti obat nyamuk.
“Kenapa kau berhenti di sini? Aku bilang ke kantor catatan sipil bukan ke butik, apa kau tuli juga sekarang?” berang Davis ketika George memarkirkan mobil tepat di depan salah satu butik ternama di Helsinki.
“Apa kau mau ke kantor catatan sipil dan mempermalukan dirimu dengan menggunakan pakaian wanitamu itu?” tanya George menunjuk pakaian yang dikenakan Davis dengan telunjuknya. “Jika iya, aku sih tak masalah,” ujarnya hendak menyalakan mesin mobil yang sudah ia matikan tadi.
“Hei apa yang kau lakukan? Hentikan!” tuding Davis mencegah tangan George yang siap menekan tombol bertuliskan engine start stop.
“Aku kira, kau ingin mengejutkan seisi kantor catatan sipil. Pasti akan seru ada waria bertubuh kekar masuk ke dalam sana,” kelakar George sembari menertawakan Davis.
__ADS_1
“Lebih baik kau diam sebelum ku sumpal lagi mulumu dengan sepatuku,” ancam Davis.
“Serba salah saja aku, ku diamkan kau seperti semalam tau rasa,” decak George sedang memasang mode sahabat.