My Rich Husband

My Rich Husband
Part 108


__ADS_3

Davis, George, Lord, dan Gio pun menyusun rencana penangkapan keluarga Dawson. Mereka saling berdiskusi satu sama lain, menyampaikan pendapat mereka masing-masing.


“Jangan sampai istriku terluka sedikitpun!”


Kalimat terakhir sebagai penutup diskusi mereka.


“Dia juga putriku, mana mungkin aku rela membuatnya terluka,” timpal Lord.


“Dimana mama Diora sekarang?”


Lord pun mengajak Davis dan George ke salah satu kamar yang cukup besar. Ia memencet sebuah tombol hingga menampilkan kaca transparan dimana terlihat seorang wanita dengan kulit sudah mulai sedikit berkeriput namun masih terlihat sangat cantik, meskipun rambutnya kumal. Sorot mata wanita itu begitu kosong, duduk di pojok ranjang dengan memeluk kedua kakinya.


“Apa kau merawatnya dengan baik?” tanya Davis.


“Tentu saja, dia cinta pertamaku, namun aku juga yang menyebabkannya seperti itu,” desah Lord penuh penyesalan.


“Aku ingin mempertemukan istriku dengan mamanya.” Davis menatap penuh keseriusan pada Lord.

__ADS_1


“Jangan sekarang, aku tak ingin Diora sedih melihat kondisi mamanya saat ini, lebih baik menunggu depresinya sembuh, aku sudah mengerahkan psikiater terbaik,” tolak Lord.


“Baiklah, hubungi aku segera jika kondisinya sudah membaik.” Davis sudah membalikkan badannya untuk keluar. “Jika sudah tak ada yang ingin disampaikan lagi, aku dan George akan pulang,” pamitnya.


“Tunggu ....” Lord menghentikan langkah kaki kedua pria tampan itu. “Masih ada hal penting yang ingin aku sampaikan dengan kalian.” Ia mengajak Davis dan George ke rooftop kartelnya.


Kartel yang begitu tinggi dengan halaman yang sangat luas, pohon-pohon besar tumbuh disekitarnya. Udara dari tempat itu begitu sejuk dan asri.


Lord meletakkan tiga gelas di meja, lalu menuangkan wine ke dalamnya untuk dinikmati bersama.


Pria paruh baya itu ingin mengajak Davis dan George berdiskusi tentang hal yang sudah lama ia pikirkan. Kekuasaannya harus segera berpindah tangan pada orang yang tepat.


“Tapi kau masih kuat dan perkasa bagi pria seusiamu,” timpal Davis seraya menikmati wine.


“Memang, tapi aku berencana ingin pensiun dan hidup bersama Natalie dengan tenang,” jelas Lord. “Aku ingin menjadikan Gabby sebagai penggantiku, hanya dia anakku yang kuat dan sudah terlatih sejak kecil, aku tak mungkin menjadikan Diora sebagai penggantiku sebab dia tak sekuat Gabby.” Ia menatap ke arah George untuk melihat reaksi pria itu.


“Aku tak setuju, meskipun putrimu terlihat terlatih dalam bela diri, tapi dia tetap seorang wanita yang pasti memiliki sisi lemah,” tolak George dengan sorot mata dinginnya.

__ADS_1


Tepat seperti dugaan Lord, pria itu seperti ada sesuatu dengan Gabby putrinya.


“Lalu, menurutmu siapa yang cocok menggantikan posisiku jika bukan dia?” Lord menatap serius.


“Terserah, yang pasti jangan dia, kau sama saja menaruh putrimu dalam bahaya jika menjadikannya seorang pemimpin dunia mafia,” timpal George.


“Bagaimana jika kau? Sepertinya kau cukup pintar,” tawar Lord pada George.


“Tidak, aku tak menyukai dunia mafia, aku lebih senang hidup dengan tenang bersama keluargaku kelak.” Ucapan George seolah ada sebuah arti yang tersirat.


Lord menyunggingkan senyumnya, entah apa yang ada dipikirannya itu.


“Baiklah, bagaimana jika kau?” Lord menawarkannya pada Davis. “Kulihat kau juga cukup pintar dengan cara-cara licikmu dan kearogananmu itu, sepertinya kau cocok mengantikanku,” imbuhnya.


“Jika kau yakin, aku tak masalah.” Davis menerimanya, ia memang melihat betapa seriusnya sorot mata Lord ketika mengatakan ingin hidup bersama Natalie, seolah pria itu ingin menebus semua kesalahannya dimasa lalu.


“Mulai sekarang, kau akan menggantikanku.” Lord berjabatan tangan dengan Davis.

__ADS_1


Setelah sepakat, Lord pun mengajak Davis untuk diperkenalkan pada anak buahnya sebagai pemimpin baru Cosa Nostra.


__ADS_2