My Rich Husband

My Rich Husband
Part 139


__ADS_3

Davis ingin tahu bagaimana perkembangan kesehatan mama Diora, maka dari itu ia mengajak Lord untuk duduk empat mata dengannya.


Kini dua pria itu tengah berada di balkon, sengaja Davis menutup pintu agar pembicaraan mereka tak terseret angin hingga terdengar ke dalam tempat tinggalnya. Lebih tepatnya agar tak ada yang mendengar perbincangan mereka.


Tak ada minuman ataupun camilan sebagai teman berbincang mereka, hanya sekotak nikotin yang dibawa oleh Lord.


“Kau mau?” tawar Lord menyodorkan kotak hitam bertuliskan Treasurer London Luxury Black.


“Tentu.” Davis mengambil sebatang tembakau yang terbalut kretek berwarna hitam itu.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Lord tanpa memandang wajah lawan bicaranya.


“Bagaimana perkembangan kesehatan mama Diora?” Davis bertanya setelah membuang asap ke udara.


“Kejiwaannya kian membaik, tapi kesehatannya kian memburuk.” Helaan nafas penuh penyesalan keluar dari mulut Lord.

__ADS_1


“Apa dia sakit?” tanya Davis menyimpulkan.


“Kau tahu sendiri kan penyebab kejiwaannya terguncang?” Lord menjawab dengan pertanyaan.


Davis mengangguk. “Karena dijajakan.”


“Ada beberapa pria brengsek yang tak memakai alat pelindung,” jelas Lord dengan rahang yang mulai mengeras.


“Maksudmu, mama Diora terkena HIV?”


“Ya.”


“Stadium infeksi akhir.” Sembari memejamkan mata Lord menjawab pertanyaan, ada jutaan jarum yang menancap di hatinya ketika mengatakan itu. Ia juga merasakan sakit saat tahu kenyataannya minggu lalu dimana Natalie tiba-tiba kondisinya drop.


“AIDS?”

__ADS_1


“Ya.”


Davis mulai tersulut emosinya mendengar penuturan Lord. Artinya tubuh Natalie sudah tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan infeksi yang ditimbulkan dari serangan virus itu.


Yang Davis fikirkan saat ini adalah istrinya, ia tak tahu lagi harus bagaimana menyembunyikan penyakit Natalie. Dia tak ingin melihat kesedihan Diora yang baru saja merasakan hidup bahagia.


“Akan ku cari dan ku balas mereka!” berang Davis, kilatan amarah terlihat jelas di wajah tampannya.


“Tak perlu, aku yakin mereka pasti merasakan yang sama juga akibat perbuatan itu,” cegah Lord. Ia hanya menebak saja, namun sangat yakin tentang hal itu. Sebab virus yang berada di dalam tubuh Natalie dapat menular dengan berhubungan badan dan orang-orang yang menikmati tubuh wanita itu tanpa alat pelindung dapat dengan mudah tertular.


“Apa itu sebabnya kau memberinya pakaian tertutup? Untuk menutupi ruam?” Salah satu gejala yang ditimbulkan virus itu adalah memiliki ruam atau bintik di kulit.


“Hmm ....” Lord mengangguk. “Dia juga sudah mulai mudah lelah, maka dari itu aku tak pernah mengajaknya keluar, tapi hari ini aku tak bisa menolaknya, ia begitu sedih merindukan putrinya.”


“Lalu, kita harus bagaimana? Diora selalu merengek ingin bertemu mamanya setiap hari, bahkan dia ingin mamanya tinggal disini, aku tak ingin istriku itu sedih jika tahu kondisi yang sesungguhnya.”

__ADS_1


“Itulah alasan aku ingin menikahi Natalie, aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku dimasa lalu yang menjadikannya seperti saat ini. Aku sudah memprediksi jika putriku itu pasti ingin tinggal bersama mamanya karena ia fikir tak ada keluarga lain selain dirinya. Mungkin dengan aku menikahi Natalie dia tak akan meminta hal itu padamu. Kita bisa membuat jadwal rutin mereka bertemu agar Diora tak curiga dan mengetahui penyakit yang diderita mamanya.” Hanya itu yang dapat Lord fikirkan saat ini. Entah mengapa menghadapi dua orang yang penting dalam hidupnya lebih sulit dibandingkan menghadapi musuhnya.


“Berapa lama lagi dokter memprediksikan sisa hidupnya?”


__ADS_2