
Selembar kertas putih dengan tinta hitam dan dilengkapi materai masih dipegang erat oleh Diora. Sebelum genggaman tangan pada kertas melemah, tat kala ia membaca poin yang harus dilakukan untuk menebus hutangnya selama menjadi istri pria arogan yang selalu membuatnya kesal dan bisa mati berdiri kapan saja.
Ia akan senang jika isi perjanjian itu sama dengan cerita novel yang sering dibacanya. Ia sudah mempersiapkan mental dirinya beberapa hari lalu untuk menjadi pembantu di rumah besar pria yang akan menjadi suaminya itu. Pembantu dengan status sebagai istri, biasanya itu yang dilakukan tuan muda arogan pada cerita yang dibacanya.
Namun, kenapa tidak ada satu poinpun di kertas itu yang menuliskan bahwa dirinya seorang pembantu. Semua berisi tugas seorang istri yang harus dikerjakan olehnya. Tetap saja isi poinnya sangat membuat Diora kesal, lebih baik ia menjadi pembantu berkedok istri.
“Kenapa tidak ada satu poin pun yang menyebutkan bahwa aku harus melayanimu seperti seorang pembantu?” tanya Diora menatap wajah tampan Davis dengan tatapan heran.
“Karena aku menjadikanmu istriku bukan pembantuku,” jawab Davis. “Bukankah memang seharusnya istri melakukan itu semua dengan suaminya,” imbuhnya. Davis sengaja membuat perjanjian agar bisa mengikat Diora dengan hukum yang kuat.
“Tapi kenapa semuanya menguntungkanmu? Kenapa tidak ada yang menguntungkanku?” timpal Diora dengan sedikit nada kesal.
__ADS_1
“Karena kau yang berhutang padaku,” balas Davis.
Diora mendengus kesal, poin pertama saja sudah membuatnya sebal. Ia ingin mencoba merubah isi perjanjian itu agar sama-sama menguntungkan bagi kedua pihak.
“Harus mencintai dan memikirkan pihak pertama sebagai suami, tidak boleh memikirkan apa lagi mencintai pria lain selain itu.” Diora membacakan poin pertama. “Kau harus menambahkan, pihak pertama juga harus mencintai dan memikirkan pihak kedua sebagai istri. Itu baru adil,” usulnya.
“Kenapa harus?” Davis menaikkan sebelah alisnya.
“Tambahkan saja.” Davis menyetujui usul Diora, sebab ada benarnya juga. Meskipun ia tak menyadari bahwa dirinya hanya terobsesi dengan kebaikan Diora yang menolongnya, bukan mencintainya. Di hatinya tetaplah masih mencintai Gwen. Namun ia tak menyadari itu. “Jika kau melanggar poin itu, maka akan aku tembak mati pria yang kau cintai,” ancamnya dengan tatapan menghunus Diora.
Diora menelan salivanya dengan susah payah, artinya ia harus benar-benar melupakan Danzel mulai sekarang untuk menyelamatkan nyawa mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
“Aku juga akan meninggalkanmu dan tak akan mau kembali lagi jika kau melanggar poin itu,” ancam Diora tak mau kalah dan dirugikan. Ia tak ingin sewaktu-waktu akan ditelantarkan ketika sudah mulai mencintai Davis.
“Oke setuju,” balas Davis.
“Harus tidur satu ranjang dan memeluk suami ketika tidur, tidak boleh pisah ranjang.” Diora membacakan poin kedua. Ia hendak protes dengan poin itu, namun suara berat Davis membuatnya mengurungkan niat.
“Tidak ada bantahan,” tegas Davis dengan nada penuh penekanan. Ia sengaja menaruh poin itu, karena yang membuatnya sangat ingin memiliki Diora adalah pelukan hangatnya.
“Dasar penindas.” Diora mengerucutkan bibirnya, membuat Davis sangat ingin menyesapnya saat ini juga.
“Kondisikan bibirmu, jika kau tak ingin aku terkam sekarang,” ancam Davis mencubit bibir Diora.
__ADS_1
“Aww ...,” pekik Diora. “Sakit tau.” Ia menampik jari Davis yang mencubitnya.