
“Diam, dan menurutlah,” titah Davis dengan nada penuh penekanan, serta wajah yang tak menunjukkan ekspresi apapun. Namun tatapan matanya menatap sangat tajam.
Diora sungguh langsung terdiam, entah mengapa mendapatkan tatapan seperti itu membuat dirinya tak berkutik sama sekali.
Wanita itu menikmati hangatnya air yang merendam kakinya saat ini. Rasanya seperti tengah di terapi, rasa pegal perlahan berkurang. Meskipun dia merasakan sakit dibagian kaki belakangnya.
Davis masih sibuk entah mengambil apa, sembari membiarkan wanitanya untuk beberapa saat merelaksasi kaki.
Setelah mengambil apa yang ingin diambilnya, Davis kembali dengan membawa sebuah kotak dan juga handuk kecil.
“Apakah kakimu masih pegal?” tanya Davis seraya mengeluarkan kaki Diora dari air yang sudah mendingin. Ia mengeringkan kulit basah itu dengan handuk.
“Lumayan ... aku bisa sendiri.” Diora hendak mengambil alih handuk dari tangan Davis, namun pria itu sudah menatapnya lagi dengan mata elangnya.
“Kau bisa menurut tidak!” bentak Davis yang tak sabar. Ia mengambil plester dari kotak kesehatan yang ia bawa dan menutup luka pada tumit Diora akibat menggunakan heels.
“Lain kali, kau tak perlu melakukan itu,” pinta Diora memalingkan wajahnya dan mengatur nafasnya.
__ADS_1
Kesehatan jantung wanita itu sepertinya perlu diperiksakan. Sebab, saat ini Diora sedang merasakan debaran hebat. Mendapatkan perhatian kecil dari Davis membuatnya sedikit tersentuh.
*Sial! Bisa kalah taruhan aku*, jika dia memperlakukanku seperti ini terus. Aku tak ingin jatuh cinta dengannya duluan. Gumam Diora dalam hati.
“Kau lupa? kau tak berhak mengaturku!” seru Davis, tak lupa ia sunggingkan senyum sinisnya. Lalu ia mengembalikan seluruh barang yang ia ambil ke tempat semula.
“Setidaknya sifat arogan dan seenak jidatnya itu, bisa ku jadikan alasan untuk tak mencintainya duluan,” gumam Diora seraya menyunggingkan senyum sedikit leganya.
Diora bangkit dari duduknya, ia hendak mencari kamar untuknya beristirahat. Jalannya masih sedikit pincang, sebab dirinya tak biasa menggunakan heels, sehingga membuatnya tak tahan dengan tekanan yang ditimbulkan dari sepatu tinggi itu. Bahkan saat ini, ia masih merasakan seperti menggunakan heels.
“Dimana kamarmu?” tanya Diora kepada Davis yang masih sibuk di dapur.
“Aku bisa berjalan sendiri.” Diora memberontak agar diturunkan.
“Kau tak sadar? Jalanmu saja pincang,” tolak Davis sembari berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
“Aku hanya pincang, bukannya lumpuh,” elak Diora mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Cup
Sebuah kecupan mendarat sempurna di bibir Diora. Membuat wanita itu langsung memukul dada Davis.
“Kenapa kau menciumku?” kesal wanita itu.
“Agar kau diam,” balas Davis dengan nada datarnya. “Jika kau tak menurut, aku sungguh akan menciummu, bukan mengecupmu,” ancamnya.
Diora mendengus sebal, pria itu selalu saja mengancamnya. Seolah mengancam seseorang adalah hobinya dan sudah mendarah daging.
“Kau bisa tidak, menggunakan tanganmu itu untuk membukakan pintu,” titah Davis tat kala mereka sudah berada di depan kamarnya.
Kedua tangannya yang menggendong Diora, membuatnya kesulitan untuk membuka handle. Bisa saja ia menurunkan wanita itu, lalu membuka pintu. Namun ia tak tega melihat Diora yang menahan sakit di kakinya.
“Kau kan bisa menurunkan aku dulu,” protes Diora. Namun tangannya tetap membuka kayu besar di hadapannya.
Davis menghempaskan tubuh Diora ke kasur empuknya dengan sedikit kasar. Hingga tubuh wanita itu memantul seperti di trampolin.
__ADS_1
Pria itu sengaja melakukannya karena ia sangat rindu melihat wajah kesal Diora. Padahal dalam satu hari saja, ia sudah membuat istrinya kesal dengan sifat seenak jidatnya.