
“Siapa yang menggodamu,” kesal Diora. “Kau tidak mempersiapkan pakaian untukku, jadi aku memakai milikmu,” terangnya seraya berjalan mundur untuk menghindar dari Davis yang wajahnya sudah memerah seperti menahan hasrat untuk dikeluarkan.
“Aku tak ada waktu membelikanmu pakaian,” timpal Davis, berjalan terus tanpa memalingkan tatapan matanya dari tubuh Diora yang terlihat sangat menggoda untuk diterkam.
“Berhenti ....” Diora memberikan isyarat stop dengan tangannya, tat kala Davis sudah berjarak satu meter dari tempatnya berdiri. “Jika kau memaksaku melakukan hubungan suami istri, artinya kau kalah taruhan denganku ... kau mengakui sudah mencintaiku, jika melakukan itu saat ini,” terangnya, lalu memberikan senyum mengejek.
“Siapa yang mau melakukan itu,” elak Davis. “Aku hanya mengajakmu untuk makan, karna kau sangat lama sekali,” kilahnya seraya menggendong tubuh body goals Diora yang menurutnya enteng.
Davis tak mungkin rela dirinya kalah taruhan. Apa lagi bertaruh dengan seorang wanita. Ia akan mencari cara agar Diora mencintainya dan mengatakan kalimat itu kepadanya.
Diora dapat bernafas lega, ia fikir tatapan Davis tadi seperti ingin menerkamnya. Sehingga ia terpaksa mengancam dengan mengingatkan tentang taruhan mereka. Meskipun ia sedikit malu, karena dirinya tertangkap basah memikirkan sesuatu yang tidak-tidak.
Perlahan namun pasti, langkah Davis menghentak lantai marmer dan menuruni tangga dengan sangat hati-hati. Ia mendudukan Diora pada kursi meja makan bergaya minimalis miliknya.
__ADS_1
“Kenapa makanannya cuma satu?” tanya Diora dengan wajah heran.
“Mulai sekarang, kau harus membiasakan dirimu makan satu piring berdua denganku,” jawab Davis, membuat Diora membulatkan mata dan menatap dirinya.
Diora mendengus sebal untuk kesekian kalinya dalam satu hari ini. Pria itu sungguh pelit fikirnya, memberikan makan untuk dua orang saja tidak bisa. Tak apa menurutnya makan satu piring berdua, selagi bukan menggunakan sendok yang sama.
“Ini.” Diora memberikan sendok dan garpu kepada Davis, karena di piring hanya ada satu.
“Kenapa kau memberikanku itu?” Davis meletakkan kembali sendok garpu ke tempat semula.
“Aku memakan dengan itu.” Davis menunjuk sendok yang ada di piring.
“Oh ... bilang dong kalau kau mau pakai yang disini, aku akan mengambil sendok lain.” Tangan Diora sudah memposisikan untuk meraih logam cekung.
__ADS_1
“Apa yang kau lalukan?” geram Davis tak sabar. Mengapa wanitanya itu sangat polos seperti tak pernah makan sepiring berdua dengan mantan kekasihnya.
“Aku ingin mengambil ini.” Sendok ditangan Diora digoyangkan untuk memperlihatkan jika ia tengah mengambil benda itu.
“Letakkan lagi,” titah Davis dengan nada tegasnya.
Diora mengerucutkan bibirnya, namun tangannya tetap mengembalikan benda cekung itu ke tempat semula. “Lalu aku harus makan pakai apa? Pakai tangan?” kesalnya.
“Kau juga makan pakai itu.” Davis mengambil sendok di piring, lalu memberikannya ke Diora.
“Kau ini bagaimana, tidak konsisten sekali ... katamu kau ingin makan menggunakan ini, sekarang kau memberikan ini padaku,” protes Diora seraya menyendok makanan lalu memasukkannya dalam mulutnya, memang saat ini perutnya sudah sangat lapar sekali.
“Karena aku juga makan dengan sendok yang sama denganmu, kau harus menyuapiku,” terang Davis.
__ADS_1
Membuat Diora yang tengah mengunyah makanan, menyemburkan seisi mulutnya ke wajah Davis. Ia sangat kaget dengan penuturan suaminya.
“Katamu ingin makan sepiring berdua, bukan satu sendok berdua ... kau sangat plin-plan,” ejek Diora seraya membantu membersihkan wajah Davis yang ia sembur.