My Rich Husband

My Rich Husband
Part 47


__ADS_3

“Kenapa kau masih disini?” teriak Diora ketika dirinya keluar dari kamar mandi hotel tempat mereka menginap. Mendapati Davis sedang duduk manis di balkon suite room itu. Untung saja ia sudah memakai baju yang baru dibelikan oleh Davis dari butik.


“Menunggumu,” jawab Davis. Ia memberikan isyarat tangan agar Diora datang mendekat dan duduk di kursi depannya.


Diora memutar bola matanya malas, namun ia tetap melangkahkan kakinya menuju balkon dan duduk tidak manis di hadapan Davis.


“Ada apa? Aku sangat lelah, ingin segera istirahat,” ketus Diora sembari menguap.


“Besok kita akan menikah,” terang Davis memberitahukan hari pernikahan mereka.


“Apa?” pekik Diora. Matanya membulat sempurna, kali ini dia sungguh dibuat kaget bahkan tak percaya. “Kenapa cepat sekali?” bingungnya.


“Cepat atau lambat sama saja, kau tetap harus membayar hutangmu dengan menjadi istriku,” timpal Davis menyunggingkan senyum liciknya. “Tanda tangani ini.” Ia memberikan sebuah amplop coklat berisi sebuah dokumen bermaterai.


“Apa ini?” Diora mengambil amplop coklat yang ada di meja depannya.

__ADS_1


“Buka saja,” titah Davis.


“Surat perjanjian?” ucap Diora setelah mengeluarkan dokumennya dan membaca sekilas tulisan yang paling menonjol bercetak tebal dengan huruf besar semua.


“Ya, kau harus menandatanganinya sebagai jaminan bahwa kau sudah membayar hutangmu dengan syarat-syarat yang aku sebutkan di surat itu,” terang Davis menunjuk dengan dagu dokumen yang tengah dipegang oleh Diora. “Bacalah! Kau harus menjalankan semuanya untuk membayar hutang.”


Diora pun mulai membaca surat perjanjian yang dibuat sepihak oleh Davis tanpa bertanya dengannya.


“Jadi namamu Drake Davis Domonique,” terang Diora setelah membaca nama pihak pertama. Akhirnya dia mengetahui nama pria yang selalu seenaknya itu.


“Kau harus mengingat namaku.” Davis mengeluarkan batang nikotin, bibirnya terasa hambar satu hari tak menyesap nikotin.


“Bibirku terasa pahit jika tak menyesapnya.” Davis mengeluarkan satu kotak tembakau kering yang sudah terbungkus kertas kretek. Hendak mengeluarkan yang baru.


“Sudah dibilang jangan merokok!” seru Diora mengambil bungkus kotak itu, mempotek semua isinya di atas tempat sampah. “Kau bisa menggantinya dengan yang lain,” usulnya setelah duduk kembali.

__ADS_1


“Kalau begitu, kau harus menggantikan rokokku untuk aku sesap.” Davis tersenyum penuh arti ke arah Diora. Mendekatkan kepalanya, siap menyesap sesuatu yang menggugah seleranya.


“Singkirkan fikiran kotormu itu.” Diora mendorong kepala Davis.


“Jika kau melarangku untuk merokok, berarti kau harus mau menggantinya dengan cara lain,” tegas Davis dengan seringai mesumnya.


“Sssttt ....” Diora menempelkan telunjuk di bibirnya, memberikan isyarat agar Davis diam. “Aku sedang mendalami isi surat perjanjianmu,” imbuhnya mengangkat kertas yang ia pegang.


Lima detik kemudian, Diora tertawa terbahak-bahak membuat Davis heran. Seingatnya tak ada yang lucu dari isi perjanjian yang ia buat.


“Umurmu tiga puluh lima tahun,” ucap Diora terjeda karena dia melanjutkan tawanya. “Kau lebih cocok ku panggil uncle daripada suami,” selorohnya.


Davis menatap tajam Diora, membuat wanita cantik itu langsung diam dan menahan agar tak tertawa lagi.


“Aku hanya bercanda,” kilah Diora memberikan senyum terpaksa.

__ADS_1


“Lanjutkanlah membacanya, aku yakin kau tak akan bahagia seperti saat ini,” celetuk Davis. Menunjuk poin penting yang harus dilakukan Diora selama menjadi istrinya.


Benar saja, wajah Diora langsung tertekuk setelah membaca beberapa poin yang tidak menguntungkannya sama sekali. Semua poin hanya menguntungkan Davis semua.


__ADS_2