
Sepulang bekerja, Danzel melajukan mobilnya, membelah jalanan Kota Helsinki di malam hari dengan sangat kencang. Jalanan mulai ramai akan kendaraan berlalu lalang yang hendak beraktifitas ataupun pulang kerja, membuatnya harus lebih berhati-hati agar tak menabrak pengendara lain.
Dirinya ingin cepat sampai pada alamat tertera di undangan pernikahan yang didapatkannya sepulang dari pertemuannya dengan Diora di mall. Selepas mendapatkan undangan itu, Danzel langsung mencoba menemui Diora untuk meminta penjelasan. Namun nihil, ia tak dapat menemukan Diora dimanapun. Bahkan sahabatnya Gabby pun tak tahu keberadaan wanita yang ia cintai.
Danzel kini ingin meminta penjelasan dengan mantan kekasihnya yang memaksanya untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang terjadi beberapa hari lalu, dimana dia merasa tak pernah melakukan hal sekeji itu.
Bukankah ia sudah jelas mengatakan akan mencari bukti bahwa dirinya tidak bersalah, agar hubungannya dengan Diora tak berakhir. Namun, mengapa secepat ini wanita itu memutuskan untuk menikah dengan orang lain dibandingkan menunggunya mencari bukti.
Berbagai fikiran berkecamuk di kepalanya saat ini. Bahkan Danzel yang selalu berfikir dengan kepala dingin, kini sudah dikuasai oleh amarah yang membuncah. Membuat akal sehatnya terhambat untuk bekerja seperti biasa.
Danzel langsung memarkirkan mobil sportnya tepat di depan pintu masuk Helsinki Cathedral, buru-buru ia melemparkan kunci mobil pada petugas yang berjaga di depan pintu untuk memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
“Dimana ruangan mempelai wanita?” Danzel bertanya dengan wajah yang terlihat sangat marah, bahkan nada bicaranya pun sedikit terdengar ketus.
“Di-disana tuan,” jawab salah satu petugas dengan nada yang terbata-bata karena takut, sembari menunjuk sebuah lorong yang menghubungkan ke ruangan mempelai wanita.
Danzel langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan yang ditunjuk oleh petugas. Hentakan mantap kaki berbalut pantofel menggema disepanjang lorong. Langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu kayu besar bergaya classic, dimana tertulis 'just for bride’ yang menandakan bahwa di dalam situlah wanita yang ia cari.
Brak ...
“Da-danzel?” Diora berbicara terbata-bata dengan wajah yang sangat terkejut. Ia merasakan hawa mencekam dari raut wajah Danzel yang belum pernah ia lihat, ini adalah kali pertamanya melihat wajah tampan itu dipenuhi amarah.
“Kenapa kau terkejut? Apa kedatanganku tak diharapkan?” sinis Danzel berjalan mendekat ke arah wanita bergaun pengantin itu.
__ADS_1
“Bu-bukan begitu.” Diora menundukkan kepalanya, memutus kontak mata dengan Danzel. Entah mengapa kini ia merasa bersalah dengan pria itu.
“Bisa kau tinggalkan aku berdua dengannya,” pinta Danzel kepada Gabby yang kini tengah memegang pundak Diora untuk menguatkan.
“Tidak, jika ingin berbicara silahkan saja aku tak akan mengganggu,” tolak Gabby. Dirinya tak mungkin meninggalkan Diora dengan Danzel yang kondisinya seperti orang tengah kesetanan.
Tak ada gunanya Danzel mengusir Gabby, ia tahu betul bahwa wanita satu itu selalu melindungi Diora. Sehingga akan sulit untuk memaksanya keluar.
“Bisa kau jelaskan? Bagaimana bisa kau menikah dengan orang lain? ... kenapa kau tak menungguku membuktikan kepadamu seluruh kebenarannya? ... atau semua ini memang rencanamu ha! Kau yang merencanakan untuk menjebakku dengan temanmu itu kan? ... untuk memudahkanmu meninggalkanku dan langsung menikah dengan pria lain! Agar kau tak merasa bersalah meninggalkanku secara tiba-tiba ... iya kan?” tuduh Danzel panjang lebar tanpa jeda sedikitpun. Ia mengeluarkan segala fikiran yang berkecamuk di kepalanya. Bahkan ia tak memberi waktu Diora untuk menjawabnya.
“Keluar!”
__ADS_1