My Rich Husband

My Rich Husband
Part 154


__ADS_3

Perawat yang dibingungkan dengan kelakuan sepasang suami istri itu terselamatkan ketika Lordeus, Natalie, Gabby, dan George datang menjenguk.


Berita bahwa Diora berada di rumah sakit langsung mendarat di telinga dua orang paruh baya itu, tentu saja anak buah Cosa Nostra yang masih setia memberikan informasi kepada Lord.


Sedangkan Gabby datang karena menyaksikan langsung kejadian beberapa jam yang lalu di depan Helsinki University. Ia menghawatirkan kondisi sahabatnya itu. Setelah mengurus Eliana, ia langsung beranjak pergi.


George? Entahlah, pria itu sepertinya sedang mencoba untuk dekat dengan Gabby. Ia mensabotase GPS di ponsel wanita itu agar tahu dimana posisinya. Dan berdalih ingin menjenguk Diora juga.


Mereka berempat secara tak sengaja berpapasan di lobby rumah sakit, karena tujuannya sama, mereka pun masuk secara bersamaan.


“Bagaimana kondisinya?” Pertanyaan pertama yang langsung didengar ketika pintu terbuka.


“Baik, hanya butuh istirahat karena hamil muda,” jawab Davis.


Lord, Natalie, dan Gabby nampak senang mendengar kabar bahagia itu. Sedangkan George biasa saja, sebab bukan istrinya yang hamil.


Natalie langsung mendekati putrinya dan duduk di samping Diora. “Mama senang, akhirnya akan memiliki cucu.” Senyumnya merekah, tangannya mengusap lembut perut Diora.

__ADS_1


“Aku juga senang.” Diora dan Natalie pun berpelukan.


“Selamat atas kehamilanmu.” Gabby menepuk pundak Diora.


“Selamat.” Hanya satu kata yang diucapkan oleh George, bahkan pria itu tak berekspresi ketika mengucapkannya.


“Aku turut bahagia, karena sebentar lagi bisa menimang cucu.” Kini Lord membuka suaranya.


Semua orang mengucapkan selamat dan turut bahagia atas kabar yang baik itu.


Kecuali Davis yang kurang bahagia, karena masih butuh mendapatkan ampunan dari sang istri. Pria itu masih diambang kegalauan, mencari cara agar istrinya tak mendiamkannya lagi.


Namun sayang, Diora tak menanggapinya. Wanita itu mengalihkan pembicaraan agar semua orang tak ada yang menanggapi suaminya.


“Aku akan memiliki empat anak sekaligus, jadi kalian bisa menggendong satu-satu tak perlu berebut.” Diora mengelus perutnya dan tersenyum bahagia.


Davis menggaruk tengkuknya. Itukan yang aku katakan.

__ADS_1


“Wah, hebat sekali suamimu membuatnya,” puji Natalie.


“Terima kasih, ma.” Besar kepala sekali Davis mendengarnya.


“Cih! Aku yang hebat, yang mengandungkan aku bukan dia.” Diora tak mau kalah. Ia ingin dipuji juga.


Davis memilih diam dan tak menimpali ibu hamil yang seperti singa itu.


“Kau, kapan menyusul seperti Diora? Apa kau tak ingin menikah dan memiliki anak juga sepertinya?” Lord bertanya kepada Gabby, ia sungguh ingin melihat kedua anaknya itu bisa hidup bahagia bersama pria yang mampu menjaga mereka. Sebelum ajal menjemputnya.


George yang sedari tadi diam, menajamkan telinganya untuk mendengar jawaban dari Gabby.


“Menikah? Untuk apa? Cinta hanya merepotkan saja, hanya membuatku sakit hati. Lagi pula aku bisa meminta satu anak Diora untuk aku asuh,” jawab Gabby.


“Enak saja minta, bikin sendiri dong.” Diora tak terima anaknya diminta.


“Aku hanya bercanda, mana mungkin aku meminta anakmu sungguhan, jika mau memiliki anak, mudah saja, aku tinggal menyewa pria di luar sana untuk menyumbangkan benihnya. Tanpa harus menikah aku tetap bisa memiliki anak,” kilah Gabby.

__ADS_1


Mendengar jawaban Gabby membuat George mengepalkan tangannya.


__ADS_2