
“Jika kau hanya ingin membuatku kesal, lebih baik kau biarkan aku berjalan sendiri.” Diora melipat kedua tangannya di dada, mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya.
Davis tak menjawab ocehan Diora, ia hanya menyunggingkan senyumnya. Pria itu puas, sudah melihat ekspresi wajah yang membuatnya kecanduan untuk mengerjai istrinya terus.
“Keluarlah ... aku ingin membersihkan diriku,” usir Diora mengibaskan tangannya.
Davis hanya menyunggingkan senyum penuh arti di bibirnya. Ia berjalan ke arah Diora, memposisikan dirinya duduk di samping wanita itu. Tubuhnya semakin ia dekatkan dengan badan istrinya. Lalu tangannya ia arahkan ke balik punggung Diora.
Diora menahan nafasnya agar tak terbawa suasana mendebarkan itu. Kini fikirannya sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.
“Apa yang kau lakukan?” tegur Diora ketika wajah mereka saling berhadapan dan merasakan tangan kekar suaminya menyentuh bagian punggungnya.
“Aku hanya membantumu membukakan ritsleting,” sahut Davis. Ia langsung mendorong kening istrinya setelah berhasil menurunkan zipper gaun Diora.
Diora bernafas lega, ia fikir Davis akan memaksanya untuk melayani di atas ranjang saat ini juga.
__ADS_1
“Mandilah, aku akan membuatkan makan malam untuk kita.” Davis melenggangkan kakinya, keluar kamar dan menuju dapur.
Diora turun dari ranjang, lalu menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Seketika ia terpukau dengan apa yang ia lihat. Kamar mandi yang begitu luas, elegant, dan mewah. Bahkan lampunya pun menggunakan lampu kristal.
Diora merendam dirinya di jacuzzi berisi air hangat. Ia memakai shampo dan sabun milik Davis yang ada di sana. Setelah dua puluh tahun, akhirnya ia bisa merasakan mandi di kolam yang berharga fantastis itu.
“Apa sungguh semua ini desainnya?” gumam Diora masih tak percaya jika Davis dapat mendesain hunian sebagus ini.
Setelah selesai membersihkan diri, wanita itu melangkahkan kakinya keluar, tujuannya yaitu walk in closet yang tak jauh dari kamar mandi.
Diora membuka satu persatu pintu almari besar, sembari mengedarkan pandangannya untuk mencari dimana suaminya meletakkan pakaian untuknya.
“Kenapa tak ada satupun baju wanita?” gerutunya setelah membuka semua pintu namun tak menemukan sehelaipun pakaiannya.
Hancur lebur ekspektasinya tentang tuan muda yang ia fikir sama dengan di novel itu. Ternyata suaminya tak ada mempersiapkan pakaian ganti untuknya.
__ADS_1
Dengan mendengus sebal, ia mengambil asal kaos Davis untuk dipakainya. Daripada tak memakai baju, lebih baik menggunakan milik suaminya saja.
Kaos putih polos yang kebesaran jika dipakai Diora. Itu adalah pilihannya. Wanita itu mencoba mencari celana yang muat untuknya. Namun tak ada, semuanya kebesaran.
Dengan berat hati, ia hanya mengenakan kaos putih polos kebesaran dan meminjam dalaman milik Davis yang terlihat masih baru, sebab masih berada dalam box.
“Apa kau pingsan? Kenapa kau lama sekali,” tegur Davis dengan suara beratnya menggema di dalam ruangan berisi pakaian, aksesoris, sepatu, dan tas miliknya itu.
“Apa matamu rabun? Jelas-jelas aku masih berdiri tegap,” cela Diora menunjuk dirinya.
Glek ...
Susah payah Davis menelan salivanya. Pemandangan di hadapannya membuat sesuatu yang tertidur dan mengkerut tiba-tiba saja meronta meminta untuk dikeluarkan.
“Apa kau sedang mencoba menggodaku?” tuduhnya seraya berjalan dengan tatapan penuh damba ke arah Diora.
__ADS_1