My Rich Husband

My Rich Husband
Part 40


__ADS_3

Hari sabtu, seharusnya menjadi hari libur untuk semua orang. Waktunya mengistirahatkan tubuh setelah lima hari bekerja. Namun tidak bagi Danzel. Hari ini ia harus melakukan meeting dengan client di restoran Ravintola kesukaannya yang berada di dalam mall.


“Bukankah itu nona Diora tuan?” ujar Steve menunjuk dua orang wanita yang tengah asik bermain pump it up di wahana permainan khusus orang dewasa.


Ketika peristiwa di hotel, Steve memang tidak tahu apapun. Sebab dirinya tidak ikut bertemu client. Ia ijin untuk menjaga anaknya yang sedang sakit, dan Danzel pun mengijinkannya karena masih bisa melakukan pekerjaannya sendiri.


Steve sudah tahu permasalahan bosnya, namun ia tak dapat mencari dalang dibalik penjebakan tuannya. Sehingga tak ada yang dapat dijadikan bukti untuk membuktikan bahwa Danzel tidak bersalah.


Danzel menghentikan langkahnya, melihat ke arah Steve menunjuk. Hatinya senang bisa melihat Diora, karena mantan kekasihnya itu selalu menghindarinya, bahkan untuk sekedar membalas pesanpun tak mau.


“Ayo kita ke sana,” ajak Danzel melangkah dengan pasti mendekati Diora yang sedang tertawa bahagia, namun sedetik kemudian tawa itu hilang ketika bertemu pandang dengan dirinya.

__ADS_1


Hati Danzel terasa sakit melihat raut wajah mantan kekasihnya yang langsung berubah drastis setelah melihatnya. Biasanya Diora akan selalu senang jika bertemu dengannya, namun tidak dengan saat ini.


Ingin sekali dirinya bersimpuh di hadapan Diora hingga wanita itu mau memaafkannya dan menerimanya kembali. Jika itu bisa merubah pendirian Diora, pasti akan ia lakukan saat ini juga.


“Bisa kita bicara?” pinta Danzel ketika Diora sudah bersiap akan pergi menghindarinya.


“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, hubungan kita sudah berakhir,” tolak Diora dengan halus, ia memalingkan wajahnya memunggungi Danzel. Sekuat tenaga dirinya menahan gemuruh di dadanya yang mulai meletup agar tak menangis.


“Aku tak membencimu,” ucap Diora, suaranya seakan tercekat untuk melanjutkan. “Tapi aku sedang menata ulang hatiku,” lanjutnya lirih. Semakin bergemuruh dadanya, ketika mengucapkan kata-kata itu kepada orang yang masih terukir di hatinya.


“Aku sangat mencintaimu dan aku tau kau masih mencintaiku,” tegas Danzel. Ia mendekati Diora dan memeluknya dari belakang. Menghirup dengan rakus aroma vanilla yang melekat pada tubuh mantan kekasihnya. Tak memperdulikan berontakan yang diberikan Diora dan tak memperdulikan tatapan para pengunjung yang ingin tahu dengan perdebatan mereka.

__ADS_1


“Lepas,” rintih Diora mencoba keluar dari rengkuhan tangan kekar itu.


“Tidak ... aku tak akan melepaskanmu, sebelum kau berkata jujur jika kau masih mencintaiku,” tolak Danzel semakin mengeratkan tangannya.


“Lepaskan aku, kau membuat kita menjadi bahan tontonan,” lirih Diora. Ia malu dengan tatapan para pengunjung yang melihatnya dengan aneh, bahkan ada yang mengabadikan dengan ponsel mereka.


“Aku akan melepaskanmu asalkan kau jujur dengan perasaanmu,” usul Danzel membuat Diora menghela nafasnya dalam-dalam untuk menguatkan.


“Aku memang masih mencintaimu, tapi itu semua sudah tak penting lagi ... kau tetap harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu.” Lelehan air mata lolos dengan sendirinya, sakit bukan main Diora mengucapkan itu. Tak pernah menyangka ia akan merelakan cintanya dengan cara seperti ini.


“Apa kau tega memisahkan kita yang saling mencintai?” cecar Danzel. Sejujurnya ia kecewa dengan keputusan Diora memintanya menikahi wanita yang sama sekali tak ia cintai.

__ADS_1


__ADS_2