My Rich Husband

My Rich Husband
Part 80


__ADS_3

Sudah satu hari, namun Diora tetap tak sadarkan diri. Wanita itu seolah nyaman berada di alam bawah sadarnya. Entah apa yang membuatnya enggan untuk membuka mata.


Berbagai cara sudah Davis lakukan untuk membuat istrinya bangun. Ia fikir istrinya itu sengaja tidak bangun karena menghindarinya agar tak berhubungan layaknya suami istri. Bahkan ia sampai mengancam untuk menelanjangi jika Diora tak juga bangun. Namun semua itu tak berhasil.


Davis, George, dan Gabby kini berada di dalam kamar. Menatap sang terapis yang sedang mencoba berkomunikasi dengan Diora. Beruntungnya terapis itu seorang wanita, sehingga Davis tak begitu rewel seperti saat dokter kemarin.


Psikiater bernama Sophie itu mulai mengetukkan jarinya sebanyak tiga kali di pundak Diora. Entah ilmu apa yang dimilikinya hingga membuat Diora yang masih memejamkan mata dapat menanggapi seluruh pertanyaannya.


“Hi, Diora,” sapa Sophie.


“Siapa?” tanya lembut Diora.


“Aku Sophie, anggap saja aku temanmu.”


“Oh ... hi, Sophie.”


“Aku ingin membantumu untuk sembuh, apakah kau mau?”


“Aku tidak sakit, Sophie.”


“Jika kau tidak sakit, lalu kenapa kau tak juga membuka matamu?”

__ADS_1


“Karena tempatku memang disini, tempat yang dingin dan gelap.”


“Apa kau tak suka di tempatku saat ini?”


“Ya ... disana terlalu terang dan panas, aku tidak suka.”


“Kenapa kau tak suka?”


“Karena kata papaku, tempatku adalah disini ... di ruangan kecil tak ada cahaya dan dingin.”


Sophie menatap ke arah tiga orang yang tengah duduk dengan berbagai ekspresi itu, Gabby dengan wajah paniknya, Davis dengan wajah seriusnya, dan George tetap dengan wajah tanpa ekspresinya. Ia tersenyum sembari menggelengkan kepala, pertanda bahwa memang tak ada keinginan dari dalam diri Diora untuk bangun.


“Akan ku bayar kau berapapun, sekalipun kau meminta sebuah pulau akan aku berikan, asal kau bisa membuatnya terbangun,” tawar Davis.


“Diora.”


“Ya.”


“Boleh aku bertanya?”


“Boleh.”

__ADS_1


“Mengapa papamu mengatakan bahwa tempatmu disana?”


“Entahlah.”


“Maukah kau menceritakannya padaku kejadian saat itu? Aku akan mendengarkanmu.”


“Apa kau janji tidak akan menceritakannya pada siapapun?”


“Janji.”


“Baiklah ... aku berasal dari Melbourne, sedari kecil aku tak pernah bertemu mamaku, terakhir kali aku bertemu dengannya ketika umurku mungkin dua tahun, aku tak ingat, yang jelas aku masih sangatlah kecil ... papa mengatakan bahwa mama sudah meninggal, tapi setiap malam aku selalu memimpikan mamaku berada di ruangan yang sama seperti aku saat ini, sendirian, kedinginan, tatapan matanya kosong, tak terawat, dan sering disiksa oleh seseorang ... aku seperti anak yang tak diharapkan dalam keluargaku, papaku menikah lagi ketika itu dengan sekretarisnya, seorang janda beranak satu ... semenjak itu, aku dimasukkan dalam gudang bawah tanah, katanya tempatku adalah disana ... aku tak pernah keluar sekalipun dari sana, hingga aku terbiasa dan nyaman di ruangan itu.”


“Kau tidak bersekolah.”


“Tidak.”


“Kenapa?”


“Karena aku tak diperbolehkan sekolah.”


“Lalu, bagaimana kau bisa sampai ke Finlandia?”

__ADS_1


“Saat itu aku berumur sepuluh tahun, aku dibawa keluar oleh papaku dan istrinya ... aku sedikit mendengar percakapan mereka, bahwa mereka akan menjualku ... tapi diperjalanan, tiba-tiba saja ada banyak orang yang menghadang ... dan aku tak ingat lagi setelah itu ... aku sudah berada di negara yang berbeda dengan seorang wanita tua, katanya dia nenekku ... kata nenekku, mamaku yang memintanya untuk menjemputku ... aku menurut saja, aku fikir mamaku masih hidup dan aku akan bertemu dengannya, tapi ternyata tidak ... mulai saat itu, aku tinggal bersamanya dan bersekolah.”


__ADS_2