My Rich Husband

My Rich Husband
Part 31


__ADS_3

Diora berjalan dengan membawa nampan berisi pesanannya menuju meja dimana Davis dan George duduk. Self service diterapkan pada cafe tempatnya berada saat ini sehingga tak ada waiters yang akan mengantarkan pesanan pengunjung.


“Dasar pria ... tidak pernah peka,” gerutu Diora. Ia kesulitan membawa nampan untuk menyeimbangkan gelas agar isinya tak tumpah lagi, sebab isi hot cappuccino sudah sedikit keluar dari gelas akibat terguncang tangannya yg tak seimbang.


Sedangkan kedua pria yang ia rutuki, terlihat sedang saling berbincang. Entah apa yang mereka perbincangkan, sepertinya sangat serius dengan wajah mereka yang tak ada ekspresi apapun.


“Silahkan diminum dulu ... aku mentraktir kalian, jadi tak perlu menggantinya,” ucap Diora setelah meletakkan hot cappuccino di depan kedua pria yang obrolannya mereka hentikan ketika Diora datang.

__ADS_1


“Sama-sama,” sarkas Diora karena tak ada ucapan terima kasih yang dilontarkan dari Davis dan George. Mereka malah menatap gelas yang terdapat sedikit noda cappuccino di luarnya dengan tatapan datar.


Diora mendudukkan dirinya di kursi yang kosong, karena hanya terdapat tiga kursi, sehingga itu adalah satu-satunya yang dapat ia duduki. Meletakkan cake dan minumannya, menyeruput iced kesukaannya itu. Jujur saja, dirinya juga haus karena menangis terlalu lama dan belum minum sama sekali.


“Aku ingin kau mengganti mobilku,” ujar Davis membuka suara pada topik utama mereka. Dengan melipat tangannya agar terlihat angkuh dan mendominasi, menatap Diora yang kini asik memakan mousse.


“Aku akan bertanggung jawab memperbaiki mobilmu,” balas Diora. Ia mengeluarkan ponsel, terdapat ratusan notifikasi pesan dan missed calls dari orang-orang yang ia tinggalkan di hotel. Ia tak memperdulikan itu, fokusnya adalah bertanya dengan google, berapa harga perbaikan mobil yang ia tahu itu Bugatti La Voiture Noire. “What? ... bisa untukku membeli mobil baru,” gumamnya setelah melihat perkiraan biaya yang ia butuhkan untuk reparasi. “Aku akan mencicil untuk perbaikannya, karena aku tak memiliki uang sebanyak ini.” Ia memperlihatkan artikel yang baru saja dibaca kepada Davis.

__ADS_1


“Ohh ... syukurlah jika kau tak memintaku untuk memperbaiki, kau sungguh pria baik tuan ... kau sudah memberikanku keringanan, sehingga aku tak perlu mengeluarkan uang yang bisa untukku membeli mobil baru.” Senyum lega terukir di wajah Diora, ia kira Davis tak akan menuntutnya dan tidak memperbesar masalah mereka.


“Aku memang tak mengatakan agar kau memperbaiki mobilku, tapi aku mengatakan agar kau mengganti mobilku,” terang Davis meluruskan perkataannya. Membuat Diora yang sebelumnya sudah lega bisa menikmati hidangannya dengan tenang berubah menjadi tercengang.


“What?” pekik Diora, menatap Davis dengan wajah kaget. “Maksudmu, kau memintaku untuk mengganti mobilmu dengan mobil yang baru?” tanya Diora kaget setelah mencerna apa maksud Davis.


“Ya ... kau harus mengganti mobilku dengan mobil yang sama, keluaran sama, berwarna sama, plat nomor sama, cara bayar cash tanpa kredit sama ketika aku membelinya, dan fitur di dalamnya juga sama,” terang Davis mencecarkan seluruh rentetan syaratnya, lalu memberikan senyuman yang bagi Diora itu mengerikan.

__ADS_1


“Mana bisa seperti itu ... mobilmu kan masih bisa diperbaiki,” tolak Diora merasa keberatan. “Lagi pula hanya sedikit rusak bagian belakangnya, bukan rusak total yang menjadikannya mobil rongsokan,” imbuhnya.


“Aku tidak suka barangku yang rusak lalu diperbaiki, bagiku barang yang sudah rusak pantasnya dibuang, tidak dipakai lagi,” elak Davis dengan sombongnya.


__ADS_2