My Rich Husband

My Rich Husband
Part 81


__ADS_3

“Lalu semenjak itu?” Sophie masih terus mengulik lebih dalam peristiwa yang dialami Diora hingga membuat wanita itu takut dengan cahaya.


“Semenjak itu, aku tak pernah tau tentang kehidupan papaku, dan mamaku sampai saat ini aku tak tau ... jika mamaku sudah meninggal, aku sangat ingin tau dimana makamnya.”


“Diora, apakah kau merasa sedikit lega setelah menceritakannya padaku?”


“Ya, terima kasih, Sophie.”


“Kau mau berjanji padaku?”


“Apa?”


“Belajarlah untuk menceritakan kesulitanmu pada orang terdekatmu, jangan pernah mencoba memendamnya sendiri ... sejatinya, kita manusia butuh tempat untuk mencurahkan isi hati.”


“Aku tidak berjanji, tapi akan mencobanya, Sophie.”


“Apakah kau masih tak ingin kembali kesini?”


“Hmm.”


“Apa kau sangat takut dengan cahaya?”


“Ya.”


“Diora, percayalah padaku ... lawan ketakutanmu itu, cahaya matahari tidaklah seburuk yang kau fikirkan, dan tempatmu bukanlah di tempat gelap dan dingin ... melainkan disini, tempat yang luas dan terang bersama orang-orang yang menyayangimu ... apa kau tak kasian pada mereka?”

__ADS_1


“Orang yang menyayangiku hanya sahabatku, nenekku yang sudah meninggal, mungkin mamaku juga akan menyayangiku jika dia berada disini, dan ....” Ucapannya terhenti, Diora meneteskan air mata dari pelupuk yang masih rapat tertutup.


“Dan siapa?”


“Danzel.” Diora mengucapkan dengan suara sedih yang sedikit tercekat.


“Kenapa kau bersedih?”


“Karena dia sudah menghianatiku.”


“Apakah suamimu yang kau maksud?”


“Bukan ... mantan kekasihku yang aku tinggalkan karena melihatnya tidur bersama wanita lain di hotel.”


“Ya.”


“Lalu suamimu? Apa kau tidak merasa dicintai oleh suamimu?”


“Suamiku? Aku menikah dengannya bukan karena cinta, namun karena aku berhutang dengannya ... mungkin dia tak mencintaiku, aku juga belum mencintainya ... tapi berada di dekatnya aku selalu kesal, membuatku sedikit melupakan penghianatan mantan kekasihku.”


“Bukankah artinya suamimu menyayangimu, sehingga mencoba membuatmu melupakan penghianatan kekasihmu?”


“Tidak ... dia tak tau tentang ini, aku tak pernah bercerita padanya.”


“Apa kau merasa terlindungi ketika bersama suamimu?”

__ADS_1


“Tidak ... justru aku merasa takut berada di dekatnya, dia sangat arogan dan selalu membawa pistol kemanapun ... aku mencoba menutupi ketakutanku itu dengan tingkah konyolku yang membuatnya kesal.”


“Apa dia pernah kasar terhadapmu?”


“Tidak ... dia terkadang hanya membentak dan memaksa saja.”


“Apa kau tak ingin bangun juga karena itu?”


“Ya.”


“Kau tau Diora? Sekarang suamimu sedang gelisah menunggumu bangun ... bangunlah dan jalani hidupmu dengan normal.”


“Benarkah? Sepertinya itu tidak mungkin, dia akan selalu membuatku kesal atau membentakku atau memaksaku, jika aku membuka mata.”


“Aku tidak akan membuatmu kesal, memaksamu, atau membentakmu, buka matamu sekarang.” Suara berat Davis dengan nada tinggi menyela pembicaraan Sophie dan Diora.


Diora kini kembali terdiam, ia tak merespon lagi pertanyaan dari Sophie. Sophie mencoba untuk berkomunikasi lagi, namun pasiennya tak mau merespon.


“Mengapa dia tak menjawa seperti tadi?” Davis bertanya dengan nada kesalnya. Sebab setelah ia berbicara, istrinya tak ingin menjawab lagi.


“Tuan, saya tidak tau apa yang kalian alami ... tapi saya mohon perlakukanlah istri anda dengan lembut,” pinta Sophie. “Kemungkinan istri anda lebih memilih berada di alam bawah sadarnya daripada terbangun karena dia tak siap menjalani kehidupan nyatanya, ia memilih berada di zona nyaman ... sepertinya dia sangat mencintai mantan kekasihnya itu ... maka, buatlah istri anda nyaman berada di dekat tuan, cintailah dia sepenuh hati ... mungkin kita melihat nona Diora kuat di luar, namun kita tak ada yang tahu bagaimana isi hatinya.”


“Apa dia akan seperti itu terus?” Kini Gabby yang bertanya dengan penuh kekhawatiran.


“Tidak ... ajaklah berkomunikasi, ia masih bisa mendengarkan, semangati dia agar mau keluar dari zona nyamannya saat ini.”

__ADS_1


__ADS_2