My Rich Husband

My Rich Husband
Part 36


__ADS_3

“Sok tau kau itu! Justru orang yang selalu memikirkan kemungkinan terburuk adalah orang yang sangat berhati-hati dan waspada terhadap situasi yang dihadapi,” elak Davis tak terima dengan ucapan Diora yang secara tidak langsung mengatai dirinya memiliki sifat buruk. “Coba kau minum dulu, jika tidak terjadi apapun denganmu maka aku akan meminumnya,” titahnya.


“Maha benar tuan muda dengan segala keangkuhannya,” cibir Diora dengan mengangkat kedua tangannya dan sedikit mendongakkan kepala seperti orang yang sedang berdoa dengan semesta. Lalu ia meminum jahe panas milik Davis yang sudah berubah hangat. “Puas?” ketus Diora meletakkan kembali gelas ke meja. “Lihat ... tidak terjadi apapun denganku.”


“Good girl,” ucap Davis mengelus kepala Diora. Membuat Diora terheran dengan perlakuannya dan langsung memegang tangan Davis untuk berhenti melakukan hal itu.


“Aku akan membuatkanmu yang baru,” usul Diora hendak beranjak namun tangannya dicekal oleh Davis.


“Tidak perlu,” tampik Davis. “Aku akan meminum ini.” Ia mengambil gelasnya lalu meminum tepat pada bekas bibir Diora yang masih terlihat ada sedikit saliva Diora belum mengering. “Meminum bekas bibirmu ternyata lebih nikmat.” Ia tersenyum kepada Diora yang terlihat mengerikan bagi wanita berdarah Finlandia-Melbourne itu.


Apa lagi meminum langsung dari bibirmu. Lanjut Davis dalam hati.

__ADS_1


“Kau sengaja ya,” tuduh Diora dan dijawab kedikan bahu oleh Davis.


Diora mengatupkan bibirnya, kedua tangannya mengepal pertanda saat ini ia sangat kesal. Itu adalah minuman ketiga yang Davis minum tepat dibekas bibirnya.


“Jadi ada apa tuan muda yang terhormat datang kemari?” tanya Diora penuh penekanan pelan disetiap katanya, tak ingin berlama-lama berdebat lagi. Berurusan terus dengan Davis membuat mereka lupa dengan tujuan tamu tak diundang itu.


“Aku ingin menawarkan kesepakatan denganmu,” jawab Davis tenang lalu sedikit mengangkat sudut bibirnya penuh arti.


“Kesepakatan?” Diora menaikkan sebelah alisnya. “Kesepakatan seperti apa yang dimaksud?”


“Syarat apa?” Diora yang penasaran mulai terpancing.

__ADS_1


“Kau harus menikah denganku,” jawab Davis tepat di depan wajah Diora yang diam membeku.


Apakah Tuhan secepat ini mengabulkan doaku? ... kenapa harus tuan muda yang bisa membuatku mati berdiri kapan saja karena kearoganannya. Diora berbicara dalam hati, mengingat pria yang meminta untuk menikah dengan dirinya itu selalu membawa pistol kemanapun. Bahkan ketika ia sedang membersihkan pakaian Davis yang basah, ada pistol di saku dalam jaketnya.


“Aku akan memikirkannya,” tukas Diora, menyipitkan matanya untuk melihat dengan seksama wajah Davis yang ia sudah fikir dari semalam, jika pernah bertemu dengannya tapi dia tidak ingat. Sebab ketika malam badai salju, wajah tampan Davis ditumbuhi bulu-bulu yang sudah panjang di rahang kokohnya. Sedangkan untuk pertemuan kedua mereka, Davis sudah mencukur berewoknya hingga menyisakan satu milimeter saja. Membuatnya terlihat lebih tampan. “Aku seperti pernah melihatmu,” gumamnya.


Jadi selama ini dia tak mengenaliku? Bagus ... dia tak akan tahu kelemahanku. Gumam Davis dalam hati.


“Waktumu hanya tersisa dua hari untuk memikirkannya.” Davis melihat jam tangan rolex yang melingkar di tangannya, melihat tanggal yang tertera pada jamnya. “Jika dalam dua hari kau tak ada jawaban dan kau tak bisa mengganti mobil dan dua setel pakaianku, maka hari itu juga aku akan menjemputmu untuk ke kantor catatan sipil,” ucapnya mantap dengan penuh percaya diri. Ia yakin jika Diora tak akan bisa mengganti dengan waktu singkat.


“Dua setel? Bukankah kemarin hanya satu?” tanya Diora heran.

__ADS_1


“Ya, ditambah pakaianku yang kau guyur tadi,” jawab Davis sedikit tersenyum mengejek.


“Dasar penindas!”


__ADS_2