My Rich Husband

My Rich Husband
Part 24


__ADS_3

“Diora, maafkan Danzel ya,” mohon Megan. Ia memegang tangan Diora dan menatap dengan tatapan sendu. “Ini pasti hanya jebakan wanita itu saja!” Kini ia memberi sorotan tajam pada Eliana. Setelah mendengar kebenaran dari Gabby, ia percaya seratus persen bahwa ini adalah trick kotor yang dilakukan Eliana untuk masuk ke dalam keluarganya yang kaya.


“Benar apa yang mereka katakan, aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu pada orang lain, percayalah padaku,” bujuk Danzel duduk bersimpuh di hadapan Diora.


“Apa yang kau lakukan El? ... berdiri,” pinta Diora. Ia pegang bahu Danzel agar berdiri. Namun Danzel enggan untuk berdiri sebelum mendapatkan maaf dari Diora.


“Ku mohon percayalah padaku, aku tidak akan berdiri sebelum kau memaafkanku,” mohon Danzel untuk kesekian kalinya.


Diora nampak berfikir, memang benar Danzel hampir tak pernah melakukan kejahatan sekalipun. Dirinya terlalu baik untuk disebut manusia, bahkan dia adalah pria yang sangat menjunjung tinggi kehormatan seorang wanita. Ia sangat menghargai wanita, bahkan dengan Diora pun ia bisa menahan hasratnya. Berciuman pun mereka tak pernah.


“Benar ... kau tahu betul bagaimana sifat putraku Dior, pasti kau tahu mana yang benar dan mana yang salah,” imbuh Megan ikut meyakinkan.

__ADS_1


“Baiklah ... aku memaafkan dan mempercayaimu, berdirilah,” lirih Diora. Ia berjongkok mensejajarkan diri di hadapan Danzel dan berucap, “jangan sampai terjebak pada situasi seperti ini lagi.” Ia lebih memilih percaya Danzel daripada Eliana, sebab Eliana sudah pernah membohonginya.


“Aku mencintaimu.” Danzel merengkuh tubuh Diora. Rasa senang tak dapat ia sembunyikan, kata maaf yang sangat ingin dia dengar dari mulut Diora ditambah rasa percaya yang diberikan Diora kepadanya membuatnya sangat senang.


Di sudut ruangan lain, Davis yang melihat rekaman CCTV dalam kamar Danzel sangat geram. Rencananya tak berjalan mulus. Ia membanting gelas berisi wine yang berada di tangannya.


“Sial! Mengapa mereka berdamai!” berang Davis penuh emosi.


“Baik,” jawab George. Ia menghubungkan suara yang otomatis akan terdengar di earpod kecil di telinga Eliana. “Ini.” Ia memberikan sebuah earpod untuk dipakai Davis. “Kau sudah tersambung, katakan saja apa yang akan kau katakan.”


“Apa yang kau lakukan ha! Cepat selesaikan tugasmu! Jika kau tak berhasil membuat Diora meninggalkan Danzel, maka jangan harap kau bisa melihat lagi!” ancam Davis penuh penekanan disetiap katanya. “Aku bisa melihatmu dari sini, jangan harap tidurmu nyenyak jika tak berhasil!”

__ADS_1


“Suruh dia menyibak selimutnya, ada bercak darah di sana,” imbuh George tanpa memberikan ekspresi wajah apapun.


“Bagaimana kau tahu?” tanya Davis penasaran karena tak mungkin ada bercak darah di sana.


“Katakan saja padanya,” jawab George tak ingin banyak ditanya. Ia hanya memastikan misi pertama mereka berhasil dengan menambahkan sedikit ide spontan yang tak diketahui Davis.


“Cepat kau sibak selimutmu! Jika perlu kau berdiri dari tempat tidur itu!” titah Davis sesuai anjuran George.


Setelah mendapatkan perintah dan ancaman itu, Eliana langsung membuka suara dan benar-benar melakukan apa yang diperintahkan.


“Lalu bagaimana denganku?” tanya Eliana menangis. “Apa kalian tidak memikirkan perasaanku? Aku yang dirugikan saat ini,” raungnya memukul dadanya seolah-olah sangat sesak.

__ADS_1


“Hei wanita jalang!” seru Megan, tak ada kelembutan untuk Eliana seperti ketika ia berbicara dengan Diora. “Jangan sok merasa dirugikan! Bahkan kau mungkin sudah tak perawan lagi!” sinisnya dengan berkacak pinggang.


__ADS_2