
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga, Davis bersiap untuk menjemput istrinya sesuai janjinya.
“Mau kemana, kau?” sergah George menghadang tubuh kekar yang sama tingginya dengan dirinya.
“Menjemput istriku.” Kibasan tangan Davis layangkan sebagai pertanda agar George menyingkir dari hadapannya.
“Belum jam pulang kantor,” cegah George.
“Aku bosnya, jadi terserah aku,” elak Davis.
“Meskipun kau bosnya, tapi tak patut bagimu seenaknya, lagi pula selama ini wajah dari perusahaan ini adalah aku,” sindir George dengan nada dinginnya.
“Bilang saja kau mau ikut,” cicit Davis menyimpulkan dari apa yang ia lihat semenjak di Bali.
“Siapa kata,” elek George, namun ia mengikuti langkah kaki Davis.
“Kau fikir aku tak tau.”
“Memangnya kau tau apa?”
Davis tak merespon, ia hanya menepuk bahu sahabatnya. “Ku tunggu kita menjadi suadara,” cicitnya.
Mereka pun pergi menggunakan mobil yang sama, dengan Geroge sebagai supirnya.
__ADS_1
...........
“Mengapa kau tak pulang?” tanya Gabby yang sudah menaiki motornya siap melaju ke apartemennya. Namun ia hentikan tat kala melihat Diora tengah sendirian menunggu di halte depan kampus. “Mau ku antar?” tawarnya.
“Tidak, aku sedang menunggu suamiku menjemput,” jelas Diora.
Gabby langsung menepikan motornya dan menemani sahabat sekaligus kakak berbeda ibu itu. “Aku akan menemanimu hingga suamimu datang.” Ia tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan Diora.
Tak berapa lama, mobil Davis pun berhenti tepat di depan dua wanita itu.
“Dia sudah datang, aku pergi dulu,” pamit Diora, dijawab anggukan kepala oleh Gabby.
Diora pun langsung masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan oleh Davis. Davis langsung masuk ke dalam kursi pengemudi.
“Kenapa asistenmu turun? dia tak ikut?” Diora nampak penasaran, sebab George malah turun ketika ia masuk dan membiarkan dirinya pergi berdua.
Diora pun menurut saja, memang pekerja kantoran selalu memiliki kesibukan, ia tak berfikiran apapun tentang George.
...........
Mobil berhenti di basement mall termewah di Helsinki, mall dengan sejuta kenangan manis Diora dengan Danzel, mana lagi jika bukan mall yang di dalamnya terdapat restoran Ravintola.
“Kenapa kita ke mall?” Diora penasaran.
__ADS_1
“Kita akan membeli cincin,” jawab Davis seraya membukakan seat belt istrinya.
“Ternyata kau ingat juga jika kita belum memiliki cincin pernikahan,” kelakar Diora. Senyum merekah menghiasi wajah cantiknya.
“Bagaimana aku bisa lupa, jika setiap malam kau selalu merengek mengingatkanku tentang itu.” Davis mengingat kembali kenangan sebelum tidurnya, dimana Diora selalu memberikan sindiran halus kepadanya dengan memperlihatkan jarinya yang kosong tanpa lingkaran indah yang melingkar disana.
Tersenyum puas Diora, sindirannya berhasil membuat suaminya meluangkan waktu untuk mereka mencari cincin bersama.
Mereka pun berjalan bergandengan tangan, seolah sedang memperlihatkan kepada seluruh dunia tentang hubungan mereka berdua.
“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” sapa petugas toko perhiasan Chopard.
“Berikan padaku cincin pernikahan limited edition,” titah Davis.
Petugas itu mengangguk mengerti lalu masuk ke dalam ruangan yang di khususkan untuk karyawan saja.
“Loh ... kalian kenapa disini?” Diora terperanggah melihat sahabatnya dengan asisten suaminya juga berada disana.
Mendengus sebal Gabby. “Dia, memaksaku lagi.” Giginya bergemelatuk menggambarkan betapa bencinya dia dengan George.
“Kau, jangan terlalu membencinya, karena benci dan cinta itu bedanya hanya tipis,” seloroh Diora mengingatkan.
“Cih ... tak sudi,” elak Gabby lalu mendekat ke sahabatnya.
__ADS_1
Tak berapa lama, karyawan toko keluar membawa sepasang cincin yang begitu indah.
“Wah ... wah ... wah ... ada orang miskin disini rupanya, memangnya kau sanggup membayar cincin itu?” hina seseorang yang baru saja datang.