My Rich Husband

My Rich Husband
Part 145


__ADS_3

“Lepas!” sentak Gabby bersamaan dengan suara Davis yang menggema begitu keras dari kejauhan.


Tangan Eliana dihempaskan dengan sangat kasar oleh Gabby. Jambakan yang begitu kuat membuat rambut Diora rontok begitu banyak di tangan Eliana.


Semua mata kini tertuju pada Davis yang berjalan ke arah tiga wanita itu.


“Berani kau menyakiti istriku!” tuding Davis yang sudah sangat emosi, ia tak mengijinkan satu orang pun menyakiti wanita yang ia cintai itu. “Kau sudah bosan hidup rupanya?” Ia langsung mengeluarkan pistol dari dalam jasnya.


Dor ...


Satu tembakan melesat tepat pada tangan yang digunakan untuk menjambak Diora.


“Argh ...,” pekik Eliana kesakitan. Darah mengucur deras dari bagian tubuhnya yang terkena peluru.


“Itulah balasan karena tanganmu berani menyentuh rambut istriku.” Davis membelai rambut Diora yang sudah acak-acakan.

__ADS_1


Diora tak dapat berkata apa-apa lagi, tubuhnya bergetar ketakutan mendengar suara tembakan yang begitu nyaring di telinganya. Ia sampai memejamkan mata dan menutup telinganya.


Sedangkan Gabby begitu tenang dan biasa saja, dirinya sudah terbiasa dengan suara seperti itu, apa lagi melihat darah. Ia bahkan tak menolong Eliana yang sudah bersimpuh dengan tubuh yang lemas.


“Jangan takut, ada aku.” Davis mencoba menenangkan Diora dengan memeluk dan membelai rambut hingga punggung.


Eliana yang melihat Diora begitu dicintai oleh suaminya sangat tak rela. Diora terlalu banyak dianugerahi kebahagiaan, ia harus tahu rasanya sakit hati. Ia sangat mengenali wajah Davis, wajah yang persis dengan pria yang memberikannya uang untuk mengikuti rencananya. Ia akan membongkar kebusukan Davis agar hubungan Diora dan Davis menjadi retak.


“Kau tahu? Diora, suamimu itu sangat licik! Kejadian di hotel saat aku bersama Danzel itu adalah rencananya! Dia menginginkanmu berpisah dengan kekasihmu itu agar kau bisa dimiliki oleh suamimu sekarang!” ungkap Eliana dengan segenap emosinya.


“Apa benar yang dikatakan olehnya?” Diora bertanya pada Davis, sebab pria itu tak berkomentar apapun sedari tadi.


Davis menarik nafasnya dan menghembuskannya kasar. Tak mungkin ia menutupi kelicikannya lagi terlalu lama. Ia akan menerima konsekuensinya, asalkan Diora tak memintanya untuk bercerai. “Ya.”


Diora semakin menjauh, kepalanya menggeleng tak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia dengar.

__ADS_1


“Aku tak menyangka ternyata kau sepicik itu! Aku bahkan sudah menuduh Danzel yang tidak-tidak.” Air mata Diora terus lolos semakin deras.


“Aku bisa menjelaskan semuanya.” Davis mendekat, ia ingin meraih tangan istrinya, namun Diora semakin menjauh.


“Berhenti! Aku ingin sendiri.” Mungkin wanita itu butuh waktu untuk menenangkan hati dan fikirannya yang mendadak menjadi kacau. Diora berlari keluar gerbang universitas.


“Kenapa kau tak mengejarnya!” sentak Gabby yang geram karena Davis hanya berdiam diri.


“Bukankah dia menyuruhku untuk berhenti? Aku hanya mengikuti kemauannya saja, mungkin dia memang butuh waktu sendiri untuk beberapa saat,” timpal Davis, matanya tak lepas dari punggung Diora yang terus berlari.


“Kejar! Dasar tak berguna! Jika terjadi apa-apa dengannya jangan pernah kau menyesal! Biarkan rubah ini aku yang mengurusnya!” titah Gabby penuh penekanan disetiap katanya.


“Urus dia, hubungi anak buah Cosa Nostra untuk membawanya!” Davis langsung berlari mengejar Diora yang sudah sangat jauh.


“Diora awas ...!” Suara itu begitu keras memberi peringatan ketika terlihat ada sebuah mobil melaju sangat kencang ke arah Diora.

__ADS_1


Brak ...


__ADS_2