My Rich Husband

My Rich Husband
Part 53


__ADS_3

“Turunkan aku ....” Diora terus memberontak untuk diturunkan dari gendongan Davis. Dirinya sangat malu, sebab seluruh mata yang ada di lobby hotel melihat ke arah mereka. Mereka menatap dengan tatapan iri.


“Tidak,” tolak Davis masih terus berjalan cepat melewati lobby hotel yang luasnya tiga perempat lapangan sepakbola.


“Aku akan berteriak jika kau tak menurunkanku,” ancam Diora.


“Coba saja,” tantang Davis.


“Tolong ... tolong ... tolong ... aku diculik ...,” teriak Diora berharap ada orang yang menolong dirinya.


Tidak ada yang merespon teriakannya, semua hanya diam saja melihat. Bahkan karyawan hotel pun semua hanya diam dan memberi salam hormat ketika mereka melewatinya.


“Hei security ... tolong ... aku diculik,” tunjuk Diora ketika mereka sudah diambang pintu keluar.


Security yang diajak bicara oleh Diora hanya diam, memberikan senyuman, dan anggukan kepala sebagai tanda hormat.


Terlihat mobil Limosin berwarna hitam di depan pintu masuk persis, sudah menunggu kedatangan Diora dan Davis, siap mengantarkan ke tujuan mereka.


Davis memasukkan Diora terlebih dahulu sebelum akhirnya dirinya masuk dan memberi perintah kepada supir untuk jalan ke bandara dengan cepat.

__ADS_1


“Kau sangat enteng sekali, apa kau tak pernah makan?” seloroh Davis sembari memberikan air mineral yang tersedia di Limosin kepada Diora.


“Kau yang terlalu kuat, bukan aku yang terlalu enteng,” elak Diora, tangannya mencekal botol mineral pertanda dirinya tidak ingin minum karena botol itu bekas Davis minum.


“Minumlah! Kau pasti haus,” paksa Davis.


Memang benar kini tenggorokan Diora terasa kering setelah ia berteriak dan menuruni anak tangga sebelum akhirnya dirinya di gendong.


Davis akhirnya memaksa Diora agar meminum air mineral itu karena wanita itu tak juga meminum air yang ia berikan.


“Kenapa kau selalu memaksa!” berang Diora, bibirnya kini mengerucut.


“Karena kau tidak menurut,” balas Davis.


Jalanan yang lenggang memudahkan mereka untuk sampai ke Paris Charles de Gaulle Airport. Hanya butuh waktu sepuluh menit, mereka kini sudah menapakkan kakinya pada lantai marmer bandara itu.


“Kau mau aku gendong lagi atau berjalan sendiri?” tanya Davis.


“Aku mau naik itu saja.” Diora menunjuk trolly yang biasa untuk mendorong koper.

__ADS_1


Tanpa banyak kata, Davis menuruti permintaan Diora. Ia menarik tangan wanita itu hingga ke trolly dan mendudukkan disana. Ia mendorong trolly itu dengan langkah cepat untuk mengerjai Diora agar wanita itu ketakutan.


Namun Diora malah terlihat gembira, dirinya bahkan tertawa lepas seperti menaiki sebuah wahana permainan. Ini adalah kali pertamanya melakukan hal gila. Tentu saja ia sangat senang, sebab tak ada yang memandangnya aneh karena jalanan yang ia lewati adalah jalan khusus untuk para pemilik jet pribadi. Berbeda jika ada yang memandangnya, ia akan malu sendiri dengan permintaannya.


“Huaaa ... yihaaa ...,” teriak Diora menikmati adrenalin trolly barang itu.


“Lebih cepat lagi ...,” pinta Diora membuat Davis sedikit terkekeh. Namun tetap menuruti untuk mempercepat langkahnya, bahkan kini ia berlari.


“Seru sekali,” celetuk Diora. Binar bahagia tergambar jelas di wajah cantiknya.


Davis ikut tersenyum melihat ekspresi Diora yang bahagia hanya dengan hal kecil seperti itu. Sungguh wanita yang berbeda. Dirinya semakin kuat ingin memiliki Diora seutuhnya.


Davis mempersilahkan Diora untuk masuk terlebih dahulu ke dalam pesawat jet miliknya.


“Kenapa kita tidak jalan-jalan dulu sekalian di Paris?” tanya Diora berbasa-basi setelah duduk di kursi yang sangat nyaman.


“Apa kau lupa? Hari ini kita akan menikah,” jawab Davis menatap datar ke arah Diora sembari tangannya memasangkan seat belt.


“Jadi kau bersungguh-sungguh ketika mengatakan akan menikah denganku secepat itu?” Diora membulatkan matanya menatap manik mata Davis lalu menelan salivanya karena semua yang dikatakan pria di hadapannya itu tak pernah main-main.

__ADS_1


“Tentu saja, untuk apa aku berbohong,” sahut Davis.


Ada sedikit rasa terkejut yang dirasakan Diora, entah ia belum tahu apa motif sebenarnya pria yang ada di hadapannya itu mengajaknya menikah dengan waktu yang sangat singkat. Ia hanya berharap semoga pernikahannya tak dihadiri siapapun termasuk Gabby dan Danzel yang pasti akan mencecarnya atau mungkin menghakiminya. Namun ia lupa, jika pria yang akan menjadi suaminya itu pria yang suka melakukan sesuatu seenaknya sendiri.


__ADS_2