My Rich Husband

My Rich Husband
Part 91


__ADS_3

Lordeus sudah mendapatkan seluruh informasi kelicikan Davis yang sengaja menjebak Danzel dan Diora hingga terjadilah pernikahan yang sudah direncanakan oleh Davis.


“Ternyata kau yang merancanakan ini semua.” Senyum yang tak tahu apa artinya itu terbit di bibir pria paruh baya itu.


Ada sedikit rasa kesal, namun juga senang. Sebab, Davis bukanlah orang yang lemah, sehingga ia yakin pasti Diora akan aman berada di samping suaminya itu.


Sembari menikmati nikotin dan alkohol di ruangannya, ia menunggu kedatangan Davis. Entah apa yang akan ia lakukan pada pria itu.


“Lord, Davis dan temannya sudah sampai.” Anak buah Cosa Nostra memberikan informasi.


“Hmm ... suruh mereka masuk,” titah Lord.


Tak berapa lama, Davis dan George masuk dengan wajah yang berbeda. Davis dengan keangkuhannya, sedangkan George dengan wajah yang tak berekspresi.


Melihat raut wajah Davis membuat darah Lord mendidih, ia membayangkan betapa sedihnya Diora ketika mengetahui Danzel bersama wanita lain di hotel.


Bugh ...


Tinjuan Lord yang sangat bertenaga mendarat sempurna di pipi sebelah kanan Davis. Davis yang belum siap mendapatkan serangan itu terhuyung ke belakang, sudut bibirnya bahkan mengeluarkan darah.


“Itu sebagai ganti air mata Diora akibat kau menjebak Danzel.”


Bugh ...


Satu lagi bogem mentah yang lebih kencang mendarat di pipi sebelah kiri pria tampan itu.

__ADS_1


“Itu balasan karna kau membahayakan nyawa Diora dengan memanipulasi kecelakaan mobilnya.”


Bugh ...


Kali ini tendangan mengenai perut Davis, membuat pria itu terbatuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


“Balasan karna kau memaksa Diora untuk menikah denganmu.”


George mengulurkan tangannya untuk membantu Davis yang tergeletak di lantai.


Namun ditepis oleh Davis, pria itu lebih memilih berdiri sendiri. Ia tak ingin dikasihani dan terlihat lemah.


Davis menatap sinis Lord, dan menyunggingkan senyum mengejeknya. “Kenapa kau sangat marah sekali? Memangnya siapa Diora? Apa dia anakmu? Dia hanya sahabat putrimu! untuk apa kau semarah itu.” Ia mencoba memancing Lord agar mengatakan kebenaran yang sesungguhnya.


“Sahabat putriku juga sudah ku anggap anakku,” sanggah Lord. Ia duduk dengan angkuh di sofa. Menaikkan sebelah kakinya untuk bertumpu di kaki satunya.


Sebuah hasil tes DNA yang belum sempat Lord simpan lagi setelah melihat laporan dari anak buahnya. Lord selalu menatap kertas itu, ada rasa bersalah bercampur bahagia setiap kali melihat itu.


Mata Davis sungguh jeli, sedari ia masuk sudah melihat ada kertas yang terlihat aneh. Semakin mendekat, semakin ia baca, semakin benar dugaannya.


“Lalu apa urusanmu?” Lord tak terpengaruh dengan tatapan tajam Davis. Ia mengambil kertas itu dan melipatnya lalu memasukkan ke dalam sakunya.


Bugh ...


Kini Davis yang melayangkan tinjunya kepada Lord.

__ADS_1


“Sebagai ganti kau telah menghancurkan kehidupan istriku semasa kecilnya.”


Bugh ...


“Sebagai ganti karna kau membiarkan putrimu sendiri disiksa oleh orang lain.”


Pria beda generasi itu pun sudah puas setelah melayangkan amarah mereka dengan berkelahi satu sama lain.


Kini mereka duduk dan melakukan perbincangan serius.


“George, berikan pada Lord apa yang kau dapatkan,” titah Davis.


George memperlihatkan semua yang sudah dilihat sepasang sahabat itu di kantor.


“Awas kau Dawson ...!” raung Lord meninju iPad yang ada di hadapannya.


“iPad kesayanganku ....” George sangat sedih melihat benda pipih dan lebar itu terbelah menjadi dua.


“Aku akan menggantinya dengan keluaran terbaru,” tawar Davis.


“Kau fikir semua barang sama saja? Kau tau sendiri kenapa aku sangat menyayangi iPad ini,” kesal George seraya memegangi belahan benda kesayangannya.


“Justru aku tau, bukankah lebih baik itu hancur ... untuk apa kau menyimpan pemberian dari seseorang yang memberikanmu kenangan buruk dan lebih memilih meninggalkanmu!” timpal Davis.


Nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau George mengiyakan tawaran Davis. Sebab sudah tak ada harapan lagi untuk membetulkan seperti semula.

__ADS_1


“Lalu, apa yang akan kita lakukan?” Davis mulai membuka diskusi untuk rencana pembalasan.


__ADS_2