
Davis, George, dan Lord kini sudah berada di ruang bawah kapal lagi. Sang tawanan telah berbusana, mengenakan pakaian pelayan. Sangat cocok sekali pakaian itu untuk keluarga gila itu.
Tiga pria tampan itu segera duduk kembali di kursi kebesaran mereka masing-masing. Melipat tangan di dada dan menyilangkan kaki kanan pada kaki kiri mereka secara bersamaan, seolah ada telepati yang menghubungkan mereka hingga kompak melakukannya.
“Bagaimana hiburannya, pak tua gila? Menyenangkan bukan?” tanya Davis dengan sorot mata tajamnya.
“Kalian yang gila! Tak punya hati menggilir istri dan anakku! Tak berperasaan!” raung Dawson dengan mata mendelik.
Tiga pria itu sama-sama berdecak dan menggeleng. “Tidak mengaca,” ujar mereka bersamaan.
“Hei! Wanita jalang! Enak bukan digilir?” Kini Lord yang melayangkan pertanyaan pada Cassandra dan Celine.
“Uh ... nikmat, aku mau lagi,” kata Cassandra dengan mengulum bibirnya.
“Bercinta dengan kekerasan sungguh menggairahkan,” sambung Celine dengan tatapan menggoda menginginkan lagi.
“Ck! Benar-benar jalang,” sahut George. “Permainan selanjutnya,” imbuhnya tak ingin membuang waktu.
Davis menepuk tangannya memberikan isyarat. Agar anak buahnya masuk membawakan alat bermain mereka.
Masuklah seorang pria berperawakan tinggi, tegap, kekar, wajah sangat sangar dengan brewok yang tebal membawa besi cekung berisi bara api beserta tongkat besi yang di ujungnya terdapat lambang Cosa Nostra, tak lupa capitan arang.
“Kau, bisa keluar.” Davis mengibaskan tangannya mengusir.
“Wow ... apakah kita akan pesta barbeque disini?” seloroh George dengan wajah yang tak pernah berubah ekspresi.
__ADS_1
“Tentu saja, apa kau mau ikut?” tawar Davis menyodorkan tongkat besi pada sahabatnya.
“Tidak, terima kasih ... aku akan menonton kalian bersenang-senang,” tolak George. Matanya terus menatap tajam ke depan.
“Baiklah, kita akan memberikan persembahan selanjutnya pada kalian.” Davis menyerahkan tongkat besi pada Lord.
Davis dan Lord memasukkan besi yang mereka pegang ke dalam bara api untuk beberapa saat, menunggunya hingga besi mulai memerah pertanda sudah panas.
“Apa yang akan kalian lakukan?” tanya tiga tawanan bergetar ketakutan.
“Aku hanya memberikan pemanasan untuk kalian, sebelum merasakan panasnya api neraka,” jawab Davis dengan senyum smirk.
“Ah kita terlalu baik rupanya, memberikan mereka pemanasan,” timpal Lord.
Davis segera maju untuk mendekati Dawson.
“Kalian gila! Apa yang akan kalian lakukan!” raung Dawson meronta ingin melepas ikatan tangan dan kakinya.
“Sstttt ....” Davis memberikan isyarat agar diam. “Kau, terlalu berisik! Aku tak suka!”
Ces ...
Besi panas itu pun mendarat tepat di bibir Dawson.
“Arghhh ... panas ....” Sekuat tenaga Dawson merintih kesakitan. Bibirnya sudah gosong tak berbentuk.
__ADS_1
“Kau, hebat ... aku suka cara penyiksaanmu.” Celine memuji Davis.
“Oh ... kau suka ya? Sekarang giliranmu merasakan juga,” decak Lord dengan menaikkan sebelah alisnya seperti orang menantang.
Ces ...
Besi panas yang sudah di panasi lagi itu mendarat sempurna di bibir Celine.
“Arghh ... kau gila! Kejam!” rintih kesakitan wanita itu.
“Hahaha ... kalian lebih baik bekerja bersamaku menyiksa orang dan menikmati rintihan mereka seperti ini,” tawar Cassandra.
Davis memberikan isyarat pada Lord dan dijawab anggukan.
Ces ... ces ...
Dua besi panas sekaligus mendarat pada kedua pipi yang penuh dengan operasi plastik itu.
“Arghh ... kalian semua gila!” raungnya.
“Hoam ....” George menguap seolah-olah tidurnya terganggu. “Kalian terlalu berisik!” Ia berdiri dari duduk ternyamannya. “Sebagai balasan karena kalian mengganggu kenyamananku.” Ia mengambil capitan arang. “Buka mulutnya!” titahnya pada anak buah Cosa Nostra.
George segera mengambil arang panas yang masih merah. Memasukkannya pada mulut ketiga orang di hadapannya. “Paksa mereka untuk mengunyah!” titahnya lagi.
Davis, George, dan Lord pun menyudahi permainan mereka setelah membalas dengan besi panas dan arang panas pada tubuh tiga tawanannya.
__ADS_1