My Rich Husband

My Rich Husband
Part 105


__ADS_3

Celine menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Tangannya menggenggam erat ponsel.


“Ma ... mama ...,” teriak Celine begitu nyaring, menghentikan perdebatan Dawson dan Cassandra.


“Apa?” sahut Cassandra dengan ketus.


“Lihatlah ....” Celine memperlihatkan berita dari ponselnya.


Cassandra dan Dawson pun membaca dengan seksama berita yang diberikan oleh Celine.


“Oh ... ternyata si anak sialan itu hidup enak di Finlandia ya.” Cassandra tersenyum smirk.


“Kemasi barang-barang kalian, kita berangkat ke Finlandia sekarang juga!” titah Dawson, lalu melenggang ke kamarnya.


“Untuk apa? Kenapa kita ke Finlandia?” Pertanyaan bodoh keluar dari mulut Celine.


Cassandra hanya mengedikkan bahunya. “Turuti saja dia, mungkin dia punya rencana menarik dengan anak sialan itu.” Ia ikut melenggang meninggalkan Celine.


Menurut, hanya itu yang bisa Celine lakukan saat ini.


Mereka sungguh-sungguh terbang ke Finlandia malam ini juga dengan pesawat komersil biasa. Sebab, jet pribadi keluarga Dawson sudah dijual.


Entah apa yang keluarga tak normal itu rencanakan hingga secara dadakan pergi ke negara nan jauh disana.


...........

__ADS_1


Diora dan Davis telah kembali ke penthouse. Sudah dipastikan pria itu menggagahi istrinya lagi tanpa henti. Tubuh yang begitu sangat nikmat itu begitu candu baginya.


Davis terbangun terlebih dahulu, sebab ada panggilan telefon masuk di ponselnya. Diyakini itu adalah hal yang sangat penting, sebab sudah berkali-kali dering ponsel berbunyi.


Pria itu langsung beranjak dari ranjang menuju balkon. Langsung menggeser tombol hijau untuk mengangkat telfonnya.


“Halo,” sapa Davis.


“Bisa kau ke kartelku sekarang juga?” Ternyata Lord yang menelfonnya pagi-pagi sekali.


“Penting atau tidak?”


“Ini sangat penting.”


“Mendesak atau tidak?”


“Jika mendesak, katakan saja melalui telefon, untuk apa menungguku datang kesana, perjalanannya saja membutuhkan waktu tiga puluh menit,” cibir Davis.


Lord mengumpat dalam hati menantunya yang begitu berani dengannya. Jika tak mengingat Davis adalah suami dari anak kandungnya, sudah dipastikan pria itu tak dapat melihat matahari terbit keesokan harinya.


“Kau, sudah berani sekarang denganku ya!” berang Lord.


“Untuk apa aku takut denganmu? Jika kau macam-macam denganku, aku tinggal memberitahu Diora siapa kau,” ancam Davis.


Kartu As Lord yang begitu tak ingin diketahui oleh Diora berhasil membungkam pria paruh baya itu.

__ADS_1


“Sudahlah kau kesini saja, dan bawa sekalian asistenmu itu,” pinta Lord.


“Kalau aku tidak mau?”


“Jika kau tak mau, akan aku beritahukan pada Diora semua rencana licikmu yang menjebaknya.” Tersenyum puas Lord bisa membalas ancaman Davis.


“Satu jam lagi aku kan kesana.” Davis menutup dengan kesal sambungan telefonnya. “Sial! Kenapa pak tua itu harus tau rencanaku,” gerutunya.


Davis sungguh tak rela meninggalkan istrinya, ia sangat ingin membawa Diora kemana-mana agar mudah menyergahnya. Namun apalah daya, sang mertua mengacaukannya.


Segera menelfon sahabatnya untuk memberitahu. “Jemput aku lima belas menit lagi!” titahnya tanpa penjelasan apapun dan langsung menutup telefonnya.


George bahkan belum sempat membalas ucapannya. Pria itu mengumpati Davis habis-habisan di apartemennya.


Langsung bersiap-siap untuk membersihkan diri. Davis mandi dengan kecepatan kilat.


“Kau sudah bangun?” Davis segera mencium kening istrinya.


“Hmm ... kenapa kau sudah rapi? Apa kau akan berangkat ke kantor sepagi ini?” tanya Diora. Ia melihat suaminya sudah berpakaian rapi dan wangi, padahal masih pukul enam pagi.


“Ya, aku ada urusan mendesak, kau tak perlu menyiapkan makanan untukku, aku harus pergi sekarang,” pamit Davis, lalu mencium bibir istrinya.


Pria itu langsung meninggalkan kamar, sebab George sudah memberitahunya bahwa telah sampai di basement penthousenya.


Diora hendak bermain ponselnya sebentar, sebelum bersiap ke kampusnya. Wanita itu mengerutkan keningnya tat kala begitu banyak panggilan dan pesan yang masuk. Semenjak menikah dengan Davis, ia selalu mengaktifkan mode getar di ponselnya dan jarang sekali bermain ponsel.

__ADS_1


“Danzel? Kenapa dia menghubungiku?” gumam Diora.


__ADS_2