My Rich Husband

My Rich Husband
Part 104


__ADS_3

Mendengar teriakan istrinya membuat Davis langsung buru-buru menghampiri Diora.


“Kenapa? Apakah ada yang sakit?” Wajah pria itu begitu cemas.


“I-itu.” Diora menunjuk ke arah seprai putih yang membungkus kasur.


“Kenapa dengan itu?”


“Ke-kenapa tak ada bercak darah disana?” Wanita itu menangis begitu kencang seolah ia begitu kesakitan. “Aku belom pernah melakukan dengan siapapun ... ta-tapi kenapa bisa tidak ada noda merah seperti di adegan novel.” Isaknya semakin keras didekapan suaminya.


Davis menggelengkan kepalanya, lalu merenggangkan pelukannya dan memegang erat bahu istrinya. “Dengarkan aku, tidak semua wanita mengalami itu. Hanya wanita dengan selaput dara kecil yang mengalaminya,” terang Davis.


Untung saja pengetahuan Davis tentang organ reproduksi wanita begitu luas, sehingga ia tak merasa aneh dengan hal seperti itu. Lagi pula dirinya juga sudah mengetahui jika Diora memang belum pernah melakukan hal itu dengan siapapun, bahkan dengan kekasihnya sekalipun. Meskipun sudah pernah, ia tetap akan menerima Diora, sebab itu adalah wanita pilihannya. Baik buruknya ia akan terima.


“Ta-tapi dinovel ya-yang aku baca, se-semuanya seperti itu.” Diora berucap dengan terbata-bata akibat sesegukan.

__ADS_1


Davis mengusap wajahnya dengan kasar dan membuang nafas frustasinya. “Novel lagi ... novel lagi ... jangan samakan kehidupan nyata dengan cerita novel! Sekali lagi mengaitkan dengan novel atau berani membaca cerita novel, aku akan menghukummu seharian tanpa ampun di dalam kamar.”


“Ta-tapi ....”


Davis langsung menggendong tubuh istrinya untuk dia bawa ke kamar mandi agar lekas membersihkan diri. Tak lupa ia membungkan bibir menggoda itu dengan bibirnya agar tak mengoceh lagi. Segera memasukkan dengan hati-hati ke dalam bathup.


“Mandilah, agar kita segera pulang dan makan ... tak perlu memusingkan hal sepele seperti itu,” pinta Davis. Ia lalu keluar meninggalkan Diora sendiri, jika terlalu lama dirinya disana pasti akan terjadi pergumulan panas untuk kesepuluh kalinya.


...........


Dawson baru saja masuk ke dalam mansionnya dengan wajah yang begitu lesu, baju kumal, dan nafas frustasi.


“Kenapa kau baru pulang!” Cassandra sudah duduk dengan angkuh, kaki kanannya bertumpu di kaki kirinya. Ia sudah menunggu suaminya sejak semalam untuk menanyakan tentang Natalie.


“Terserah aku!” Dawson begitu malas meladeni istrinya. Ia langsung berjalan gontai tak bersemangat, tubuhnya begitu lelah mengurus kekacauan perusahaan. Ditambah asistennya Gio tak nampak lagi batang hidungnya.

__ADS_1


“Apa kau yang membebaskan wanita jalangmu itu dari ruang bawah tanah?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan untuk menatap suaminya.


“Apa maksudmu?” Dawson menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik menatap istrinya yang hanya terlihat punggung saja.


“Semalam aku kesana untuk menemui Natalie, tapi dia tak ada disana! Pasti kau pulang hingga pagi untuk bermain dengannya kan?” tuduh Cassandra.


Dawson segera menghampiri istrinya.


Plak ...


Tamparan keras mendarat di pipi Cassandra hingga memerah.


“Kau, jangan sembarangan bicara! Bagaimana bisa Natalie tak ada disana?”


“Heh! Tak perlu kau berpura-pura tak tau, siapa lagi jika bukan kau yang melakukannya? Apa kau masih mengharapkan wanita jalang yang sudah berani mengandung anak pria lain?” Tatapan sinis Cassandra hunuskan pada suaminya.

__ADS_1


Dawson mengepal erat tangannya, giginya bergemelatuk, matanya mendelik kesal, nafasnya begitu memburu, dan dadanya sudah naik turun begitu marah dirinya. “Gio ...!” teriaknya dengan keras hingga otot-otot di lehernya terlihat begitu jelas.


__ADS_2