
Lordeus memilih duduk di kursi samping Davis. Ia malas berdiri terlalu lama karena tak adil jika semua orang duduk manis, tapi dirinya masih setia berdiri seperti seorang ajudan. Pria paruh baya itu mengulangi lagi pertanyaannya setelah pantatnya mendarat sempurna di kursi yang sangat nyaman itu.
Diora mengernyitkan dahinya ketika pertanyaan, “bagaimana jika aku adalah orang tua kandungmu?” Lolos dari mulut seorang Lordeus untuk kedua kalinya.
Papa kandung sahabatnya sendiri, bertanya seperti itu membuatnya bingung setengah mati. Ia merasa seperti sedang menjalani ujian kesetiakawanan sekaligus penganggakatan sebagai anak angkat. Padahal wanita itu tak tahu bagaimana prosesi mengangkat anak, tapi sudah berfikir seperti itu saja.
Bagaimana tak seperti ujian, jika semua mata sudah menatap serius ke arah Diora, menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir yang sudah menjadi objek penglihatan Davis.
Uh! Davis sepertinya harus berpuasa untuk menyergah istrinya yang masih saja merajuk dan membentengi dirinya agar tak tersentuh oleh pria penuh gairah itu.
Jika saja disana ada jangkrik, katak, dan makhluk sawah lainnya, mungkin saat ini sudah memenuhi seisi ruangan itu karena menertawakan nasib pria arogan yang saat ini sudah menjadi pengemis ampunan istrinya.
Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi sunyi menunggu jawaban. Dan atmosfernya menjadi mencekam bagi Lord, namun tidak bagi Davis.
Lord takut jika kejujurannya malah membuat Diora membenci dirinya.
__ADS_1
Sedangkan Davis, pria itu sedang tertawa puas di dalam hatinya. Akan ada satu orang lagi yang menjadi mangsa singa liar yang sedang mengandung itu.
Yang ditanya malah nampak bingung memikirkan pertanyaan itu. “Em ... maksudnya bagaimana?”
Aduh, apa hamil empat anak sekaligus mempengaruhi kinerja otaknya untuk berfikir. Padahal pertanyaannya sangat jelas untuk langsung dijawab.
“Jelaskan saja,” bisik Davis ditelinga Lord. Ia sedikit mengulum senyumnya. Pria itu masih saja menghasut mertuanya sendiri.
“Jika aku papa kandungmu, apakah kamu menerima kenyataan itu?” Lord mengulang pertanyaannya dengan mengubah sedikit kalimatnya, mungkin Diora akan paham sekarang.
“Apa kalian tak merasakan ada gempa?” Diora nampak panik, sebab ia merasakan guncangan yang tadinya pelan malah sekarang menjadi semakin kencang di ranjang pasien yang harganya selangit itu.
“Tidak, tak ada gempa apapun disini, mungkin perasaanmu saja,” sahut Davis mencoba menenangkan.
“Sungguh, ini bergetar sedari tadi tak berhenti.” Wanita itu masih terus mempertahankan opininya.
__ADS_1
Davis merasa aneh dengan istrinya, semua orang merasa biasa saja tak merasa mengalami guncangan seperti saat ada bencana alam yang terjadi akibat pertemuan dua lempeng bumi yang saling bertabrakan itu.
“Mungkin kau pusing, istirahatlah, tak perlu menjawab pertanyaan yang membuatmu semakin serasa diputar otaknya,” bujuk Davis dengan lembut. Ia hendak membantu menurunkan ranjang agar lurus dan nyaman digunakan untuk tidur.
Davis berfikir bahwa istrinya terlalu terkejut dengan pertanyaan dadakan yang sangat berat itu. Ia tak ingin istrinya stres memikirkannya. Mengingat nasihat dokter agar tak membuat Diora banyak pikiran yang akan mengakibatkan hal buruk nantinya pada janin dalam perut rata itu yang masih sangat muda umurnya.
“Stop!” Diora menghentikan tangan Davis yang sudah mengambil remote untuk mengendalikan ranjang pasien. “Coba kau pegang ini.” Ia mengarahkan tangan suaminya untuk menyentuh kasur.
“Bergetar kan? Sedari tadi ini bergetar seperti ini.”
Davis menghela nafasnya dan menatap ke arah Lord. “Pak tua, hentikan kakimu itu! Kau membuat istriku panik karena mengira ada gempa.”
Lord tersadar dengan apa yang ia lakukan saat ini. Ia langsung menghentikan kakinya yang sedari tadi bergetar karena sangat gugup. Ternyata gempa lokal yang terjadi di ranjang Diora karena ulah Lord.
“Maaf.”
__ADS_1