
“Aku hanya bisa memantaumu dari jauh, memastikanmu hidup bahagia, dan sehat. Aku juga menempatkan Gabby untuk menjadi temanmu,” imbuhnya.
“Jadi, Gabby juga tahu?” tanya Diora yang masih terisak.
Davis menghapus air mata istrinya yang terus bercucuran membasahi selimut. Diora yang sedang terharu itu menerima perhatian suaminya tanpa melawan.
“Sedari awal, dia sudah tahu semuanya,” terang Lord.
Diora sungguh tak menyangka, ternyata sahabatnya sendiri adalah saudaranya. Dan Gabby bisa menyembunyikan rahasia itu selama lima tahun. Pantas saja banyak orang yang mengatakan bahwa dia dan Gabby mirip. Hanya saja Diora versi kalem, sedangkan Gabby versi galaknya.
Meskipun banyak yang mengatakan mirip, namun Diora tak pernah berfikir bahwa memiliki ikatan darah yang sama dengan sahabatnya itu. Ia berfikir karena terlalu sering bersama, sehingga terlihat mirip.
“Jadi, saat aku menikah, yang mengantarkan dan menyerahkanku papa kandungku?” Lord mengangguk.
“Pantas saja Gabby begitu antusias menawarkan papanya untuk menjadi pendampingku berjalan di altar.” Diora memutar kembali ingatannya ketika ia mengeluh dihari yang bersejarah tak ada orang tuanya, dan sahabatnya dengan bersemangat menawarkan papanya.
“Itu memang keinginanku, mengantarkan anak-anakku untuk aku serahkan pada calon suaminya.”
__ADS_1
Diora sangat bahagia mendengarnya, ternyata papa kandungnya selama ini berada di dekatnya dan tak menelantarkannya. Hanya melindungi dengan cara Lord sendiri.
Air mata Diora sudah tak dapat ditahan lagi. Mengucur deras tanpa permisi.
Diora merentangkan tangannya agar papa dan mamanya memeluk dirinya. Namun malah Davis yang sudah menghambur mendekap erat tubuh yang sudah sangat dirindukan pria itu.
“Lepas! Aku masih marah denganmu!” Diora memukul punggung suaminya.
Davis melepaskannya, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Tubuhmu seperti magnet,” selorohnya.
Diora tak memperdulikan suaminya, ia merentangkan tangannya lagi. Lord pun memeluk tubuh anaknya, begitu juga Natalie yang ikut menghambur.
Lord menyudahi pelukan itu setelah beberapa saat, dan kedua wanita yang ia sayangi itu mulai kesulitan bernafas karena pengap.
“Apa kau tak marah denganku yang membuatmu menderita semasa kecilnya?” Lord harus memastikan hal itu agar tak merasa bersalah sudah memasukkan anaknya sendiri ke jurang kesengsaraan.
Diora menggeleng. “Tidak, justru aku senang karna papaku bukan orang yang menyiksaku, bahkan diam-diam melindungiku dari jauh, ditambah orang yang menyelamatkan hidupku saat aku kecelakaan lima tahun yang lalu. Jadi, tak ada alasan untuk aku marah.”
__ADS_1
Sungguh Lord tak menyangka dengan reaksi Diora. Ternyata menantunya itu sungguh tak membohongi dirinya jika Diora akan memaafkan dan menerimanya.
Sedangkan Davis, seperti angin segar untuknya. Jika kesalahan Lord saja dimaafkan, berarti ada harapan juga untuknya.
“Apa kau juga memaafkan kesalahanku?” Hati-hati sekali Davis bertanya.
Diora tak ingin menanggapi, ia membungkam mulutnya rapat-rapat.
Davis menghembuskan nafasnya, ternyata ampunan untuknya tak semudah Lord. Ia membisikkan sesuatu pada Lord.
“Diora, suamimu bertanya, apa kau juga memaafkan kesalahannya yang sudah berbuat licik untuk mendapatkanmu?” Lord mengatakan apa yang dibisikkan oleh Davis.
“Katakan padanya, tak semudah itu mendapatkan ampun dariku!” Level perangnya ternyata sungguh dinaikkan oleh wanita itu.
“Pft ....” Lord menahan tawanya yang nyaris keluar.
“Jadi, kau membohongiku ketika mengatakan Diora memaafkanmu?” bisik Lord sangat pelan hingga Diora dan Natalie tak dapat mendengarnya.
__ADS_1
“Aku hanya ingin kau merasakan juga mendapat amukan dan aksi mogok bicara seperti aku,” balas Davis dengan cara yang sama seperti Lord.
Lord mengulum senyumnya. “Nyatanya, Diora memaafkanku dan menerimaku dengan lapang dada. Sepertinya, ini adalah karma karena kau membohongiku.”