My Rich Husband

My Rich Husband
Part 110


__ADS_3

Danzel mengendarai mobilnya sendiri, tujuannya adalah ke Helsinki University. Setelah membaca pesan dari Diora, ia berencana untuk langsung menemui mantan kekasihnya itu. Ia ingin memberikan bukti bahwa dirinya tak bersalah atas kejadian di hotel beberapa saat lalu.


Pria itu menepikan mobilnya ketika melihat orang yang ia kenal sebagai sahabat baik mantan kekasihnya tengah duduk di sebuah cafe. Memarkirkan kendaraan roda empat itu dan langsung berjalan memasuki tempat dengan nuansa modern yang banyak didatangi oleh para mahasiswa.


Danzel sangat berharap dapat bertemu Diora disana. Biasanya jika ada Gabby pasti ada Diora, itulah mengapa ia langsung menuju cafe.


“Gabby?” sapa Danzel.


Gabby langsung tersadar dari lamunannya dan menatap ke arah sumber suara. “Danzel?” sapanya balik. Wanita itu sungguh tak terkejut sama sekali. “Ada apa kemari?” tanyanya.


“Kau sendirian? Dimana Diora?” Danzel langsung duduk di kursi seberang Gabby.


“Baru saja pulang,” jelas Gabby.

__ADS_1


“Apa kau tau tempat tinggal Diora yang baru?”


Gabby mengerutkan keningnya. “Tidak, memangnya ada apa?”


“Aku ingin bertemu dengannya, aku sudah menemukan bukti bahwa aku tak bersalah, dan aku harap dia masih mau menerima aku lagi,” jelas Danzel seraya memperlihatkan surat keterangan dari dokter dan video klarifikasi dokter yang memeriksa Eliana.


“Terlambat, Diora sudah memiliki suami.”


“Aku tau, bahkan aku akan menerimanya meskipun dia janda.”


“Tapi aku sangat mencintainya,” elak Danzel.


“Justru karna kau mencintainya, lebih baik kau relakan dia membina rumah tangganya, tingkatan tertinggi dalam mencintai adalah merelakannya hidup bahagia dengan pilihannya,” nasihat Gabby.

__ADS_1


“Tapi, aku yakin Diora terpaksa menikah dengan tuan Davis dan dia tak mencintainya, semua karena terpaksa, apa aku harus merelakannya hidup dengan keterpaksaan?” Danzel telah menyelidiki latar belakang terjadinya pernikahan mantan kekasihnya, tentu saja melalui Steve. Pria itu pun merasa ada yang janggal dengan rentetan kejadiaan yang dialaminya.


“Mungkin awalnya memang didasari atas keterpaksaan, tapi setelah ku lihat, mereka kini hidup bahagia dan saling mencintai, jadi ku harap kau juga bisa mencari kebahagiaanmu bersama orang lain,” timpal Gabby. “Mencintai tak harus memiliki, bukan?” imbunya dengan tersenyum getir.


“Tau apa kau tentang cinta? Bahkan kau belum pernah merasakan jatuh cinta, selama ini hidupmu selalu sendiri dan menghindari pria,” sela Danzel dengan nada sedikit kesal.


“Apa cinta harus diumbar ke publik? Apakah jika aku mencintai seseorang harus seluruh seisi dunia tau? Tidak kan? Jadi, kau tidak tau apa-apa tentangku jangan sembarangan berucap.” Gabby memasang wajah galaknya. “Pergilah, dan jangan pernah mengganggu rumah tangga Diora. Biarkan mereka hidup bahagia,” pintanya.


Danzel masih enggan untuk pergi. “Apa kau tau? Jika dalang dibalik kejadianku dan Diora adalah suami Diora yang begitu menginginkan kekasihku itu berada disisinya?” Meskipun tak ada bukti nyata, namun ia sangat yakin akan hal itu.


Gabby menarik nafasnya dalam-dalam dan menatap tajam Danzel. “Jangan pernah katakan itu pada Diora, dia kini sudah bahagia dan sebentar lagi akan memiliki anak, jadi biarkanlah dia hidup tenang tanpa tau semua itu.” Ia tahu kejadian sebenarnya setelah papanya menyelidiki, namun tetap menguburnya rapat-rapat setelah mengetahui perlakuan Davis kepada Diora yang begitu perhatian.


“Jadi kau tau? Dan membiarkannya hidup dengan pria yang sangat kejam seperti tuan Davis? Selalu membawa pistol bahkan nyawaku saat itu akan melayang karena pria itu?”

__ADS_1


“Kau, hanya tau luarnya saja, tanpa tau dalamnya. Jadi, ku mohon hiduplah dengan damai dan relakan saja masa lalu.” Gabby langsung bangkit. “Permisi.” Ia meninggalkan Danzel yang menatap kepergiannya dengan tatapan yang entah apa artinya.


__ADS_2