
Davis yang ingin terlihat gentleman di mata istrinya dengan mengundang langsung Danzel untuknya meminta maaf langsung disaksikan oleh istrinya malah berbalik keadaan. Bukannya mendapatkan pujian, pria itu malah mendapatkan amukan dari si ibu hamil itu.
“Astaga ... kau itu keterlaluan! Kau yang membutuhkannya tapi kau dengan entengnya menyuruh Danzel kesini! Sungguh kau itu semena-mena sekali memerintahkan orang seenak jidat!” Diora berucap dengan penuh emosi, tangannya memukul punggung kekar suaminya dengan keras. Karena yang paling mudah dijangkau tangannya bagian itu dengan posisi suaminya yang tengah duduk. Tak mungkin dia memukul kepala suaminya, tak sopan.
Davis yang mendapatkan pukulan hanya diam saja, membiarkan istrinya meluapkan emosinya. Ketika Diora sudah lelah memukul, Davis segera menggenggam tangan dengan jari-jari lentik itu, mengusap lembut lalu mencium punggung tangannya. “Maaf jika aku salah lagi,” ucapnya lembut.
Davis mendongakkan kepalanya menatap wajah istrinya lekat-lekat, sorot matanya terlihat penuh cinta. Diora sedang mematung mendapatkan perlakuan suaminya yang selalu manis. “Jangan marah-marah terus, kasian anak-anak di dalam sini nanti ketakutan mendengar Mommynya galak sekali.” Ia mengelus lembut perut rata istrinya, lalu mencium perut itu.
Danzel yang berada di dalam ruangan itu sungguh seperti orang yang tak dianggap. Menyaksikan adegan yang sangat mesra secara langsung. Apa lagi seseorang yang ia lihat adalah wanita yang masih ada di hatinya. Betapa lapang dada pria itu. Namun di sudut hatinya ada kelegaan yang begitu besar, karena mantan kekasihnya terlihat begitu dicintai oleh suaminya.
Danzel menghirup dalam-dalam oksigen, lalu menghembuskan nafasnya perlahan. “Apa kalian itu menganggapku sebagai patung? Aku diundang kesini hanya untuk menyaksikan kemesraan kalian? Oh astaga ... tega sekali kalian denganku yang sudah tak memiliki kekasih lagi ini,” selorohnya dengan bergeleng kepala.
__ADS_1
Davis merasa bersalah dengan Danzel, karena dirinyalah yang menyebabkan Danzel kehilangan kekasih. Ia segera membalikkan tubuhnya untuk menatap Danzel yang sedang duduk di sofa dengan wajah sedikit kesal. “Maaf, tunggu sebentar, aku selesaikan menyuapi istriku dulu, baru aku akan berbicara denganmu,” ujarnya.
Danzel mengibaskan tangannya. “Lakukanlah, teruskan saja anggap aku tak ada.”
Davis melanjutkan untuk menyuapi istrinya, Diora pun yang sangat lapar menerima suapan itu hingga habis. Davis segera memberikan air mineral dan juga vitamin dan Diora sangat menurut langsung meminumnya.
Davis segera mengambil tisu untuk membersihkan sudut bibir istrinya yang sedikit basah terkena air.
“Sudah.” Davis segera menghampiri Danzel ketika ia sudah selesai meletakkan nampan dan meja ke tempat semula.
“Oke, hal penting apa yang ingin kau sampaikan padaku hingga menyuruhku datang kemari?” tanya Danzel tanpa basa basi. Berada di dalam sana terlalu lama bisa membuatnya kebakaran hati.
__ADS_1
“Di hadapan istriku, aku mengucapkan permintaan maafku dengan tulus, maaf karena sudah mengganggu waktumu hingga harus datang kemari, maaf jika aku pernah menjebakmu berada di hotel bersama seorang wanita, tapi aku tak memberimu obat perangsang sehingga kau tak melakukan apapun dengan wanita itu, aku hanya memberimu obat tidur dengan dosis tinggi saja. Maaf sudah membuat kekasihmu marah denganmu karena kejadian itu dan membuatnya memutuskan hubungan denganmu, dan maaf sudah merebut kekasihmu hingga menjadikannya istriku.” Davis mengulurkan tangannya sebagai permintaan maaf.
Danzel menatap Davis, mencari ketidaktulusan dari ucapan itu. Namun tak ada, Davis sungguh tulus mengucapkannya. Danzel langsung berdiri dan membalas jabatan tangan Davis. “Karena kau tulus, maka aku memaafkanmu. Asal kau selalu membahagiakan Diora, dan tak menyakitinya seujung kukupun, aku melepaskannya untukmu.”
Diora yang menyaksikan itu begitu terharu, suaminya yang tadinya angkuh dan arogan ternyata bisa meredam semua sifat buruknya itu hanya demi dirinya. “Kalian membuatku menangis,” gumamnya sangat pelan seraya mengusap air mata yang lolos menerobos keluar.
“Apa kita bisa berteman?” pinta Davis setelah selesai berjabat tangan.
“Tentu saja.” Tak ada alasan Danzel untuk menolak itu, ia menganggap bahwa ini adalah taraf tertinggi dalam mencintai seseorang, yaitu mengikhlaskannya hidup bahagia dan berdamai dengan keadaan.
“Terima kasih.” Davis segera memeluk Danzel sebagai tanda mereka sekarang berteman, dan dibalas oleh Danzel dengan hal yang sama pula. Mereka melakukannya hanya selama tiga detik saja.
__ADS_1