My Rich Husband

My Rich Husband
Part 159


__ADS_3

Suasana yang seharusnya mengharukan bagi Diora karena ia mengetahui orang tua kandungnya atau malah suasana akan menjadi menegangkan ketika wanita itu tak dapat menerima kenyataan dengan lapang dada. Mendadak berubah menjadi kepanikan lokal akibat ulah kaki Lord.


Si empunya kaki terlihat biasa saja tak merasa bersalah sudah membuat Diora panik karena mengira ada gempa.


Lord malah asik meremas-remas tangannya yang berair. Sungguh lucu pria paruh baya itu, ternyata predikat mantan bos mafia terkejam takut dengan anaknya sendiri.


Ternyata memang benar bahwa tak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan semata. Mungkin jika ada orang yang mengaku dirinya sempurna, dia adalah salah satu pasien gangguan jiwa tingkat kehaluan setinggi angkasa, asal jiwanya tak terganggu seperti Celine dan Cassandra saja.


Bayangkan jika sungguh ada gempa. Mereka saat ini berada di lantai lima belas, betapa paniknya jika bumi bergoyang sedasyat yang dirasakan Diora. Mungkin bangunan yang nyaris kokoh itu akan menjadi tak kokoh lagi dan orang-orang akan kalang kabut menyelamatkan diri masing-masing.


Entah seberapa kuat kaki Lord bergetar hingga menimbulkan goncangan seperti itu.


“Astaga ... jantungku hampir copot karena takut,” seloroh Diora seraya mengelus dadanya lega.


“Kenapa harus takut, kan ada aku yang selalu menjagamu,” timpal Davis membanggakan dirinya seolah ia adalah suami dan calon ayah siaga.


Diora melirik sekilas ke arah suaminya, lalu melengoskan kembali mukanya. Ia masih mogok bicara dengan Davis.

__ADS_1


Astaga! Ternyata dia masih mendiamkanku, ku kira setelah tadi mau menanggapi dan memegang tanganku, dia sudah tak merajuk lagi. gumam Davis dalam Hati.


Davis yang awalnya sudah senang karena Diora mau membuka suara untuknya mendadak runtuh seketika.


Jika istrinya itu tak mendiamkannya hanya saat panik saja, pria itu malah berharap Diora akan panik terus agar selalu membutuhkannya.


Diora memilih berbicara dengan Lord untuk mengulangi pertanyaan yang dilontarkan tadi.


Lord pun mengulangi seperti kalimat kedua yang dia ucapkan.


“Maksud papa, papa orang tua kandungku? Yang membuatku? Memproduksiku? Pabrik asliku?” Diora mengulanginya untuk memastikan. Wajahnya bahkan terkejut bukan main.


“Benarkah itu, ma?” Diora mencari pembenaran pada wanita yang melahirkannya.


Natalie tersenyum dan mengangguk. “Benar, semua itu benar, papa kandungmu adalah Lord dan Gabby adalah adikmu satu papa.”


Natalie yang sudah mulai bisa berfikir normal kembali sudah mengetahui dan menerima semuanya setelah Lord menceritakan rentetan kejadian kepada dirinya.

__ADS_1


Natalie tak marah, sebab Lord memperlakukannya sangat lembut dan sangat bertanggung jawab atas perbuatannya. Bahkan pria itu tak masalah dengannya yang memiliki penyakit HIV AIDS.


“Ini buktinya, jika kau masih belum percaya.” Lord memberikan selembar kertas yang usianya sudah lima tahun kepada Diora.


Diora membulatkan matanya, kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar karena sangat terkejut setelah membaca tulisan itu.


“Ja-jadi, papa Gabby adalah papaku juga?”


Semua orang mengangguk. Lord pun menceritakan semuanya, kejadian mulai dari awal dirinya yang melakukan kesalahan menodai Natalie, hingga dia mengetahui bahwa Diora adalah anaknya ketika mendonorkan darahnya untuk Diora yang mengalami kecelakaan.


“Jadi, papa sudah tahu sejak lima tahun lalu?”


“Ya.”


“Kenapa tak mengatakan langsung padaku? Apa papa tak tahu aku hidup sendirian setelah kematian nenekku!” hardik Diora yang mulai menangis.


“Aku tak berani, takut kau akan membenciku jika tahu kenyataan sesungguhnya,” timpal Lord. Dalam hatinya terus berdoa agar Diora bisa menerimanya.

__ADS_1


“Astaga ... mana ada anak yang tak menerima orang tua kandungnya sendiri.” Di luar dugaan Lord, ternyata Diora tak marah padanya.


__ADS_2