My Rich Husband

My Rich Husband
Part 151


__ADS_3

Diora merasa bosan, suaminya bahkan keluar tanpa pamit dan tak juga kembali. Padahal sudah satu setengah jam lamanya. Entah kemana perginya Davis, Diora tak tahu.


Wanita itu menjadi bertambah kesal. Seharusnya suaminya selalu menunggu disampingnya hingga membuka mata, seperti dirinya yang dengan setia menunggu Davis di samping pria itu saat suaminya terbaring di rumah sakit beberapa minggu yang lalu.


Diora yang tadinya ingin memaafkan suaminya, mengingat keempat bayinya yang berada di dalam perutnya mendadak berubah fikiran.


“Pergilah kau sana, tak usah kembali sekalian!” Wanita hamil itu marah-marah sendiri di dalam ruangan.


“Lebih baik aku jalan-jalan keluar.” Diora sudah suntuk hanya berbaring di brankar saja.


Wanita itu segera menurunkan kakinya, memakai alas kaki yang disediakan oleh rumah sakit. Ia mengayunkan kakinya seraya tangannya mendorong tiang infus.


“Seperti suara suamiku,” gumam Diora saat melintasi kamar kelas satu yang lokasinya selisih tiga lorong dari ruangannya.


Diora melihat dari sela-sela pintu yang sedikit terbuka. Setelah memastikan siapa orang yang berada di dalam ruangan itu, ia kembali melangkahkan kakinya menuju entah kemana.


Wanita itu terlihat cemberut sepanjang jalan. Ia kesal dengan suaminya, bisa-bisanya pria itu pergi meninggalkannya selama lebih dari satu jam dan malah menunggui wanita lain daripada menunggunya.


Diora tak sempat mendengar obrolan Davis dan Gwen. Ia sudah sangat kesal dan hatinya begitu panas.

__ADS_1


“Cih! Jangan harap pengampunan dariku!” rutuk Diora sepanjang perjalanan.


Kaki jenjang itu menuntun Diora menyusuri lorong demi lorong, naik turun lift tanpa tahu tujuannya kemana. Yang jelas, ia sedang tak ingin kembali ke ruang rawatnya. Biarkan suaminya bingung mencarinya.


...........


Setelah keluar dari ruangan Gwen, Davis langsung menuju ruangan rawat istrinya. Ia berharap, istrinya belum membuka matanya agar ketika Diora bangun, yang dilihat adalah dirinya.


Segera membuka handle pintu dan mendorongnya hati-hati agar tak mengganggu orang di dalamnya.


“Dimana istriku?” Davis begitu terkejut tak mendapati istrinya di dalam.


“Kau melihat istriku? Wanita yang dirawat di ruangan ini?” tanyanya dengan nada khawatir.


“Tidak, tuan, saya baru saja ingin masuk untuk meletakkan ini.” Perawat ini menunjuk trolly makanan yang ia dorong.


Davis mengacak-acak rambutnya frustasi. Kemana perginya istrinya itu. Ia takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan pada wanita yang ia cintai dan empat buah hatinya.


Davis menyusuri seluruh lorong, mencari disemua ruangan, bahkan kamar mayat pun tak luput ia periksa.

__ADS_1


Tak ada, wanita itu seperti semut yang bersembunyi di dalam sarangnya. Sulit dijangkau.


“Kemana kau pergi?” raung Davis mengusap kasar wajahnya. “Kemana lagi aku harus mencari?” Ia berkacak pinggang seraya otaknya berfikir.


Davis memutuskan untuk kembali ke ruangan Diora, mungkin istrinya sudah kembali lagi ke sana.


Klek!


Pintu dibuka. Dan masih sama, kosong.


Pria itu mencoba menghubungi ponsel Diora.


“Shit! Ponselnya disini,” umpat Davis mendapati ponsel istrinya berbunyi di dalam tas yang berada disana.


Pikiran pria itu sudah melayang memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi dengan istrinya.


“Apa mungkin dia diculik?” tebak Davis. “Jika ada yang berani menculiknya, akan aku pastikan tak akan bisa menghirup udara segar lagi!” raungnya.


Davis lalu menghubungi anak buahnya untuk mencaritahu keberadaan istrinya. Tak lupa ia juga menghubungi George, orang yang selalu ia andalkan dalam segala hal.

__ADS_1


__ADS_2