My Rich Husband

My Rich Husband
Part 85


__ADS_3

Sepanjang malam, Davis tak pernah melepaskan Diora dari rengkuhannya. Pria itu begitu tak ingin kehilangan istrinya.


Davis berjanji akan menyayangi dan mencintai Diora sepenuh hati. Ia akan mencoba untuk tak berkata kasar, membentak, dan memaksa lagi.


Di alam bawah sadar Diora, wanita itu mendengar seluruh ocehan suaminya. Ia sangat tersentuh hatinya, ternyata Davis mencintainya. Tak seperti apa yang ia fikirkan tentang pernikahan karena hutang.


Bahkan kisah suaminya yang memilukan pun ia mendengarnya. Wanita itu merasa tak sendirian hidup penuh kepiluan, ternyata suaminya tak jauh berbeda dengannya.


...........


Pagi hari yang cerah menyapa seluruh insan di muka bumi ini untuk beraktifitas. Namun tidak dengan sepasang suami istri yang masih setia dengan tidur saling berpelukan.


Ya, Diora semalam telah siuman setelah ia mendengar kisah memilukan. Ia tak ingin membuat hidup suaminya semakin pilu karena kehilangan dirinya yang enggan kembali.


Diora memandang wajah suaminya, mengelus lembut bulu-bulu halus yang tumbuh di wajah itu, sudut bibirnya terangkat sempurna. “Ternyata kau tampan.”


Davis membiarkan istrinya memandanginya hingga puas. Hampir tiga puluh menit, Diora tak bosan mengagumi ketampanan suaminya.


Namun tiba-tiba ...

__ADS_1


“Baaa ....”


Suara itu mengejutkan Diora hingga reflek matanya kembali terpejam dan berpura-pura tidur. Ia sangat malu jika tertangkap basah sedang memandang suaminya dengan rakus.


Membuat sang pemilik suara itu terkekeh. “Mau sampai kapan pura-pura tidur?” godanya seraya mendaratkan ciuman selamat pagi di bibir istrinya yang sudah tak pucat lagi.


Diora masih setia dengan actingnya, ia sangat malu untuk membuka matanya saat ini.


“Jadi masih mau tidur nih?” Davis kembali memeluk erat tubuh istrinya. Tangannya mencoba menggelitiki Diora, menguji sekuat apa istrinya itu beracting.


“Hentikan ... hentikan ... cukup ....” Tubuh Diora menggeliat geli. “Jail banget sih.” Memukul pelan sang pelaku.


“Cinderella sudah bangun rupanya,” seloroh Davis memandang lekat wajah cantik itu. “Mau mandi atau makan dulu?”


“Bisa kau lepaskan saja, ini?” Diora menggerakkan tangannya yang terpasang infus.


“Tunggu sebentar.” Pria itu memanggil Sophie yang masih menikmati liburan gratis darinya.


Tak berapa lama, sang psikiater itu pun datang.

__ADS_1


“Hallo, nona Diora,” sapa Sophie. “Kau mengingat suaraku?”


“Hi,” balas Diora, ia nampak berfikir sejenak. Seperti pernah mendengar suaranya namun dimana. “Apakah kau yang bernama Sophie?” tebaknya setelah teringat.


“Ya ... ternyata kau pandai mengingat,” seloroh Sophie. “Aku bantu melepas infus ya.” Ia mulai melepaskan jarum yang lumayan panjang tertancap di pembuluh vena tangan pasiennya.


“Terima kasih, Sophie.” Senyum ramah Diora pancarkan.


Sophie tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. “Setelah ini, kita berjemur bersama ya?” ajaknya. Ia mencoba untuk menyembuhkan fobia Diora dengan mengajak melawan langsung apa yang ditakuti.


Diora menggeleng pelan, ia sungguh tak ingin terkena panas lagi.


“Tidak apa, aku akan membantumu melawannya.” Sophie mencoba menguatkan.


“Aku akan menemanimu, tenang saja.” Davis merengkuh pundak istrinya untuk dia usap, seolah ia sedang menyalurkan kekuatan melalui itu.


Diora merasa mendapatkan dukungan pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.


“Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu.” Davis mulai mengangkat tubuh yang menurutnya enteng itu setelah Sophie keluar meninggalkan mereka.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan ... aku bisa berjalan sendiri,” protes Diora.


“Tidak apa, aku hanya ingin menggendongmu saja,” balas Davis dengan lembut dan tatapan teduh menenangkan. Membuat Diora melongo tak percaya, biasanya suaminya akan menatap tajam dan berkata ‘diam dan menurutlah’.


__ADS_2