My Rich Husband

My Rich Husband
Part 162


__ADS_3

Kursi roda itu kembali berjalan. Sudut bibir Diora sedikit terangkat mengingat perlakuan manis suaminya. Di dalam sana, tangannya mengusap jas maroon yang menyelimuti tubuhnya.


Wangi maskulin dari parfum yang menempel di kain mahal itu menyeruak masuk ke indera penciumannya. Begitu menenangkan jiwa. Mungkin efek dari sang buah hatinya.


“Hei! Tak sopan langsung masuk begitu saja.” Diora menghentikan tangan suaminya yang ingin langsung membuka pintu tanpa mengetuknya. “Seperti ini dulu.” Kepalan tangannya menyentuh kayu kotak itu sebanyak tiga kali.


“Masuk ....” Suara yang tak begitu kencang itu menyahut dari dalam ruangan.


“Nah baru kita buka pintunya jika sudah terdengar sahutan dari dalam.”


Davis hanya menyunggingkan senyumnya, lalu ia membuka handle pintu.


Wajah cantik kedua wanita itu saling melemparkan senyuman.


“Hi, kita bertemu lagi,” sapa Diora setelah berada di samping Gwen.


Kini Gwen sudah dipindahkan ke ruang rawat yang lebih layak dan bagus lagi dibandingkan yang sebelumnya.


“Senang bertemu denganmu,” sahut Gwen. “Kenapa malam sekali datang kemari?” tanyanya.


“Hanya ingin menyapa.” Diora tersenyum sejenak. “Terima kasih sudah menyelamatkanku. Maaf, karena aku, kau jadi sakit seperti saat ini,” sesalnya. Kepalanya menunduk tak tega melihat kondisi Gwen saat ini.

__ADS_1


“Tak perlu sungkan, anggap saja kita berteman dan aku sedang menyelamatkan teman baikku,” cicit Gwen.


Gwen tak mungkin mengatakan jika dirinya melakukan itu karena ulah mamanya yang ingin membahayakan nyawa Diora karena berambisi untuk menyatukan kembali dirinya dengan Davis. Bisa-bisa meretakkan hubungan suami istri yang terlihat harmonis di matanya itu.


“Baiklah, sekarang kau temanku.” Diora mengelus lembut tangan penuh luka itu. Davis yang menyaksikannya begitu bahagia, mantan kekasihnya begitu akur dengan istrinya.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Diora.


“Ya seperti ini, kakiku tak bisa digerakkan.” Mencoba mengulas senyumnya untuk memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja dengan kondisinya saat ini.


“Maaf, semua karena aku.” Diora menunduk, merasa bersalah atas musibah yang menimpa Gwen.


Gwen menggenggam tangan Diora, menggelengkan kepalanya pelan. “Bukan salahmu, lagi pula suamimu sudah memberikan aku penanganan terbaik. Lihat saja perawat-perawat itu, suamimu menempatkan mereka untuk menjagaku.”


Bahkan Selena pun sudah diberikan pengasuh oleh Davis selama Gwen belum pulih.


“Suamimu itu terlalu berlebihan,” canda Gwen dengan terkekeh untuk mencairkan suasana hati Diora yang terlihat murung.


“Tidak, jika perlu akan ku minta dia menempatkan lebih banyak dari itu.” Diora menatap Davis meminta persetujuan suaminya dan dijawab anggukan.


“Astaga ... ini saja sudah cukup, lagi pula suamimu itu mau mengirimku ke Inggris untuk pengobatan disana.”

__ADS_1


“Kenapa jauh sekali ke Inggris?” Diora bertanya pada suaminya.


“Itu rekomendasi dari dokter.”


Diora mengangguk paham. “Semoga kau bisa cepat sembuh disana.”


Setelah menjenguk Gwen, sepasang suami istri itu kembali lagi ke ruangan Diora. Davis segara membantu istrinya untuk istirahat.


“Apa sekarang kau sudah memaafkan aku?” tanya Davis hati-hati.


“Belum, kau harus minta maaf dengan Danzel, kau sudah menyakitinya.”


“Baiklah.” Davis langsung memakai kembali jasnya, ia terlihat begitu terburu-buru.


“Mau kemana?”


“Bertemu Danzel, aku akan minta maaf dengannya seperti yang kau minta.”


“Besok saja, apa kau tega meninggalkanku sendirian disini? Jika terjadi sesuatu dengan aku dan anak-anakmu ini bagaimana?” Diora kesal dengan suaminya itu.


Davis membuka kembali jasnya, ia mengurungkan niatnya untuk bertemu mantan rivalnya itu. Ia memilih duduk di kursi samping ranjang.

__ADS_1


“Tidurlah, aku akan menjagamu.”


Mendengus sebal Diora, seharusnya suaminya itu langsung ikut merebahkan diri disampingnya. Memeluknya memberikan kehangatan dan kenyamanan. Bukannya duduk dengan tangan yang dilipat di dada.


__ADS_2