
Rasa takut Diora perlahan menghilang bersamaan dengan rasa kesal yang baru saja muncul, karena Davis lagi-lagi membuatnya ingin membalas menjahili.
Diora kesal karena kedatangan Davis yang mendadak, mengecup pipinya secara tiba-tiba, serta mengaku menjadi calon suaminya.
Dan paling mengesalkan untuk Diora adalah ketika di dalam mobil, dirinya lupa memakai seat belt. Davis tiba-tiba saja mencondongkan tubuhnya untuk memasangkan seat belt, hingga wajahnya tepat berada di depan wajah Diora.
Tanpa permisi, Davis mengecup bibir merah muda Diora yang sangat menggoda imannya. Membuat Diora kaget dan mendorongnya.
Ciuman pertama Diora di curi oleh pria arogan yang tak pernah ia fikirkan sebelumnya akan masuk ke dalam kehidupannya, mengusik hidupnya yang senang, tenang, nyaman, tentram, dan damai.
Kini di dalam mobil, mereka hanya diam tanpa kata. Tak ada perdebatan dan keributan seperti biasanya.
“Kenapa kau diam saja?” Suara berat milik Davis membuka keheningan. Menoleh sejenak untuk melihat wajah Diora yang melihat jalan.
“Lalu aku harus bicara apa?” tanya Diora kesal. Tak melihat Davis langsung, namun dari pantulan kaca mobil memperlihatkan dengan jelas wajah tampan itu.
“Kau harus menjawab tawaranku kemarin.” Davis mengerem mendadak ketika lampu merah. Membuat jidat Diora terbentur di kaca.
__ADS_1
“Kau bisa tidak jika tak membuatku kesal,” ketus Diora, menatap Davis dengan wajah kesalnya.
“Tidak, aku senang membuatmu kesal,” seloroh Davis. “Karena wajahmu sangat menggemaskan ketika kesal,” imbuhnya dengan senyum kemenangan. “Jawab tawaranku sekarang.”
“Memangnya aku ada pilihan lain selain menikah denganmu?” Diora mendengus sebal.
“Good girl.” Davis mengelus rambut curly berwarna coklat milik Diora.
Diora mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan takdirnya yang sial. Hingga dirinya bisa terpenjara dengan CEO arogan.
“Mau kemana kita?” tanya Diora, menyadari jalan yang dilewati bukanlah menuju tempat tinggalnya.
“Bandara?” ulang Diora. “Kenapa kita harus ke bandara? Kenapa kau tak mengantarku langsung ke ruko saja,” lanjutnya.
“Kita akan ke Paris,” ungkap Davis. Ia sengaja membawa Diora ke negara yang terkenal dengan menara eiffel itu, untuk melihat gaun yang akan dikenakan saat pernikahannya sekaligus menjauhkan Diora agar tak bertemu Danzel lagi.
“Untuk apa ke Paris? Lagi pula aku tak membawa paspor.” Diora masih dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
“Kau akan tau nanti.”
..........
Helsinki Airport, disinilah mereka saat ini. Ramainya pengunjung memenuhi bandara itu. Diora dengan langkah kesalnya berjalan mendahului Davis, bahkan ia melupakan tasnya.
Diora langsung menuju tempat check-in otomatis, ia tak sadar jika dirinya tak membawa tiket. Membuat Davis tersenyum dan bergeleng kepala melihat tingkahnya.
“Mana tiketku?” Diora menengadahkan tangannya.
Davis mengedikkan bahunya. “Aku tak membeli tiket untukmu,” jawabnya.
“Bagaimana bisa, kau mengajakku ke Paris tapi tak membelikanku tiket,” kesal Diora mendengus sebal. Mengambil paksa tasnya yang dibawa oleh Davis untuk memesan taksi online dari ponselnya.
“Ikut aku.” Davis menarik tangan Diora agar mengikutinya.
Mereka berjalan ke landasan melalui pintu masuk yang tak pernah Diora lewati, sebab bukanlah gate menuju pesawat seperti biasanya. Tak ada pengecekan tiket sama sekali. Bahkan pilot dan pramugari memberikan hormat kepada mereka, semakin membuat Diora bertanya-tanya. Siapa sesungguhnya pria yang bersamanya.
__ADS_1
“Apakah itu jet pribadimu?” tebak Diora setelah mereka sampai di depan sebuah burung besi berwarna hitam dengan logo perusahaan Triple D. Dilihat dari luar saja sudah sangat mewah.
Kedikan bahu diberikan Davis sebagai jawaban. Ia mempersilahkan Diora untuk masuk ke dalam terlebih dahulu.