
“Tapi, papamu kan bukan papaku,” ujar Diora sembari dirinya di make up ulang oleh MUA ternama di Helsinki, karena wajahnya saat ini terlihat kacau setelah menangis.
“Kau bisa menganggap papaku adalah papamu juga,” usul Gabby, menatap Diora dari pantulan cermin.
“Memangnya papamu mau untuk mendampingiku ke altar?” tanya Diora memastikan, ia melihat ke kaca depannya untuk melihat Gabby yang terlihat jelas disana.
Tentu saja dia akan setuju. Gumam Gabby dalam hati.
“Aku akan tanyakan dulu dengannya,” kilah Gabby, ia pun memberikan tanda menggoyangkan ponselnya pertanda akan menelfon papanya. Lalu ia langsung keluar ruangan untuk melakukan panggilan telefon.
Sementara itu di dalam ruangan, Davis nampak tak setuju dengan usulan sahabat calon istrinya itu.
“Aku tidak setuju jika papa sahabatmu yang mendampingimu untuk ke altar,” tolak Davis. Ia berjalan menuju meja rias, lalu duduk di meja itu dengan angkuhnya melipat kedua tangannya dan menatap datar Diora.
“Kenapa tidak setuju?” Diora mendongakkan kepalanya untuk menatap Davis.
__ADS_1
Jantung Davis berdebar hebat ketika kedua manik matanya saling beradu dengan mata beriris biru keabuan milik Diora. Sangat cantik wanita di hadapannya itu. Jika tak dapat mengontrol hasrat, mungkin saat ini juga Davis sudah melahapnya. Namun ia tak mungkin melakukannya sekarang, bisa tidak jadi menikah karena olahraga yang satu itu membutuhkan waktu tentunya sangat lama.
“Karena papanya adalah pria, dan aku tidak mau ada pria lain yang menggandengmu selain aku,” kilah Davis, ia mengalihkan pandangannya agar tak menatap Diora.
“Bukankah memang seharusnya pria yang mengantarkan ke altar, kau ini bagaimana,” decak Diora memberenggut.
“Biar sahabatmu itu saja yang mendampingimu untuk diserahkan padaku,” usul Davis. Ia beranjak untuk duduk kembali ke sofa, sebab berada di dekat Diora terlalu lama akan membuat akal sehatnya terhambat bekerja.
“Selain arogan, ternyata kau juga posesif,” kelakar Diora yang saat ini tengah ditata rambutnya.
“Siapa yang posesif? Aku hanya tidak suka milikku disentuh orang lain,” elak Davis tak terima.
“Mana mungkin, kau itu terlalu percaya diri,” timpal Davis mengelak.
“Lalu kenapa kau malah menjadikanku istrimu bukannya pembantumu untuk membayar hutangku?” Diora sangat penasaran dengan motif pria itu menikahinya, jika bukan karena mencintainya lalu apa alasannya.
__ADS_1
“Karena aku ingin, memangnya harus ada alasan mencintaimu dulu untuk menjadikanmu istri?” seloroh Davis mengedikkan bahunya.
*Tentu saja dia menikahimu bukan karena cinta*, tapi karena dia hanya terobsesi padamu. Ujar George dalam hati. Ia duduk manis sedari tadi di sofa.
Diora berdiri lalu berjalan dengan sangat anggun, ia menghampiri Davis. Membuat pria itu langsung membulatkan matanya dan menelan salivanya melihat penampilan Diora sangat berkilau.
“Bagaimana kalau kita taruhan? Siapa yang mencintai lebih dulu, maka dia yang kalah dan harus menerima hukuman dari pemenang,” usul Diora sembari tersenyum penuh arti. Ia yakin pasti pria di hadapannya itu akan mencintainya terlebih dulu. “Setuju?” Ia mengulurkan tangannya ke hadapan Davis untuk melakukan kesepakatan.
“Oke.” Davis membalas uluran tangan Diora sembari tersenyum penuh arti.
Beberapa saat keduanya saling memberikan senyuman yang hanya dimengerti oleh fikiran mereka masing-masing apa artinya.
Sementara itu, setelah menelfon dan menunggu papanya datang, Gabby pun masuk ke ruangan Diora. Tak membutuhkan waktu lama, sebab papanya ternyata juga sedang berada disana.
“Diora, perkenalkan ini papaku ... namanya Lordeus.” Gabby beserta papanya berjalan menuju dua orang yang saat ini tengah bersalaman.
__ADS_1
Diora dan Davis langsung melepaskan tangan mereka untuk melihat ke arah suara berasal. Begitupun dengan George, ia ikut melihat ke arah yang sama.
Davis dan George langsung menelan salivanya secara bersamaan, tahu betul siapa pria yang baru saja datang bersama dengan Gabby. Mereka tak menyangka jika dunia sungguh sangat sempit.