
Para tamu sudah mulai berdatangan memenuhi kapal pesiar. Tidak hanya kalangan atas saja yang datang, kalangan menengah kebawah pun turut hadir memeriahkan pesta yang dibuka untuk umum itu. Tak ada pembeda antara kasta, semuanya dianggap sama. Namun, sang pemeran utama lagi-lagi belum juga menampakkan dirinya.
“Apa kau melihat Davis dan Diora?” tanya George pada Gabby yang tengah duduk menatap lautan manusia seolah dirinya tengah menelisik satu persatu orang disana, wanita itu ingin memastikan bahwa tak ada orang yang berbahaya diantara puluhan ribu orang itu.
“Kau fikir aku ekornya yang selalu mengikuti mereka kemana saja!” ketus Gabby sebagai jawaban. Matanya beralih menatap George dengan tatapan tajamnya. “Kau itu kan asistennya, seharusnya tau dimana tuanmu itu berada,” sinisnya, lalu mengalihkan lagi pandangannya.
George menghembuskan nafasnya, niat hati ingin mencoba membuka perbincangan dengan Gabby. Ternyata singa betina itu malah mengaum seolah pertahanannya sedang dalam bahaya.
Pria itu pergi meninggalkan Gabby sendiri. Tujuan utamanya adalah kamar yang paling besar sendiri. Ia begitu mengetahui tata letak setiap sudut kapal ini.
Dok ... dok ... dok ...
Gedoran kencang George layangkan pada pintu kayu yang tak bersalah itu. Ia melampiaskan kekesalannya karena tak berhasil mengajak wanita incarannya berbicara.
“Davis! Pesta akan dimulai!” panggilnya dengan tangan terus menggedor kencang.
Sepasang suami istri itu ternyata masih bergelung manja dibawah selimut yang sama. Mereka masih berselancar di alam mimpinya.
“Engh ....” Diora mengerjapkan matanya merasa ada suara yang memanggil suaminya. “My Love, asisten pengacaumu memanggilmu.” Ia menggoyang-goyangkan tubuh Davis.
“Hemm ....” Davis segera membuka matanya untuk mengumpulkan kembali nyawanya. Ia langsung berdiri dan mencari celananya untuk dia pakai setelah kesadarannya kembali.
Klek!
Pintu terbuka sedikit memperlihatkan tubuh kekar Davis. “Ada apa?” tanyanya santai.
“Kau, ingin ku seret bersama istrimu dan ku arak di lautan manusia itu! Masih bisa bertanya ada apa! Cepat bersiap, pesta akan segera dimulai.” George berkata dengan wajah dinginnya, namun setiap katanya terdengar penuh emosi. Mungkin efek gagal mendekati wanita yang diminati.
__ADS_1
“Pergilah ... sebentar lagi aku akan kesana.” Davis mengibaskan tangannya, lalu menutup kembali pintunya.
“Kenapa asistenmu itu?” tanya Diora masih dengan tubuh polos yang ia tutupi dengan selimut.
“Hanya memberitau, jika acara akan dimulai,” terang Davis seraya mendekati tubuh istrinya dan menggendong untuk dia ajak mandi bersama. Pria itu sungguh tak membiarkan istrinya berjalan kaki setiap usai bercinta. Ia begitu memahami betapa remuk tubuh istrinya akibat kegagahan dirinya.
Tiga puluh menit, akhirnya mereka siap. Diora sudah memakai gaun dari rancangan Valentine Gauthier yang khusus dipesan Davis untuk acara ini, wanita itu terlihat berkilau dengan gaun berwarna maroon bertabur berlian.
Begitupun dengan Davis, pria itu mengenakan setelan jas dengan perancang dan warna yang sama dengan Diora.
“Selalu pegang tanganku dan di sampingku, jangan pernah lepas dari pandanganku,” pinta Davis seraya memposisikan tangan istrinya untuk melingkar di lengannya.
Diora mengangguk tanda mengerti.
Mereka pun berjalan beriringan, menuruni anak tangga yang menghubungkan lantai atas ke lokasi pesta.
Semua mata menatap takjup dan pujian-pujian pun mereka utarakan untuk pasangan yang sempurna itu.
“Terima kasih untuk semua yang hadir pada pesta kami. Ini adalah pesta pertama yang saya buat, selain untuk merayakan peresmian perusahaan istri tercinta saya, ini juga sebagai pesta pernikahan kami yang belum diselenggarakan.” Davis berhenti sejenak, ia melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dan menatap penuh cinta.
Diora pun tak kuasa menahan haru, matanya sudah berkaca-kaca karena suaminya ternyata romantis juga mempersiapkan pesta pernikahan yang bahkan dirinya tak pernah memintanya.
“Untuk istriku, terima kasih sudah hadir dalam hidupku yang kelam. Berkat dirimu, hidupku jadi lebih berwarna dan bermakna. Terima kasih sudah mencintaiku. Aku sangat mencintaimu.” Davis berucap dengan menatap wajah Diora. Ungkapannya begitu tulus hingga membuat wanita di hadapannya meloloskan air mata harunya.
Diora tak dapat berkata apapun, ia hanya bisa menangis dan memeluk tubuh suaminya.
Davis pun membalasnya, tangannya aktif membelai rambut indah istrinya.
__ADS_1
“Aku juga mencintaimu, suamiku,” aku Diora, langsung melayangkan ciuman pada bibir Davis.
Untuk sesaat mereka menjadi bahan tontonan adegan dewasa. Para tamu yang membawa anaknya langsung menutup mata bocah kecil itu dengan tangan mereka agar tak melihat.
...........
Disudut kapal itu, Danzel dan asistennya Steve menyaksikan langsung. Mereka sengaja datang untuk memastikan apakah Diora mantan kekasihnya sungguh hidup bahagia atau tidak. Ternyata bukti yang ia lihat lebih dari cukup untuk merelakan cintanya pergi selama-lamanya dari hidupnya.
“Apa anda baik-baik saja tuan?” tanya Steve yang merasa takut jika atasannya itu akan sakit hati melihat adegan Diora dan Davis.
“Apa kau akan baik-baik saja jika melihat orang yang sangat kau cintai tak bisa bersamamu?” desah Danzel, tatapan matanya begitu kosong seolah jiwanya hilang bersama cintanya yang kandas.
“Ya, aku akan bahagia jika orang yang aku cintai hidup bahagia,” terang Steve. “Kau pasti akan mendapatkan kebahagiaanmu kembali tuan, karena kau orang yang sangat baik.” Ia memberanikan diri untuk menepuk pundak atasannya, memberikan semangat.
Danzel menghembuskan nafasnya. “Aku baik-baik saja Steve, aku senang melihatnya bahagia, meskipun hatiku terluka, tapi aku akan mencoba mengikhlaskannya.” Ia tak ingin merasa dikasihani oleh siapapun.
Percakapan Danzel dan Steve terenti tat kala ada anak kecil menangis memanggil orang tuanya tepat di samping mereka duduk.
“Mama ... mama ... mama ....”
Danzel pun langsung menghampiri bocah itu. “Hei manis, kenapa kau menangis?” tanyanya seraya mensejajarkan diri dengan bocah itu.
“Aku terpisah dengan mamaku, uncle,” isak bocah itu.
Danzel membelai rambut bocah perempuan itu. “Tunggu disini saja, jangan kemana-mana agar mempermudah mamamu menemukanmu. Jika kau terus berjalan mencari mamamu, maka akan semakin sulit kau ditemukan.” Ia mendudukkan bocah itu di kursi.
Bocah kecil itu mengangguk mengerti. “Baik, uncle.”
__ADS_1
“Anak pintar, siapa namamu?” tanya Danzel dengan lembut.
“Selena.”