My Rich Husband

My Rich Husband
Part 147


__ADS_3

Davis menunggu di depan ruang pemeriksaan. Ia masih terlihat tenang meskipun hatinya begitu cemas. Pandangan matanya terus tertuju pada pintu dan berganti pada Leoni yang menangis sembari bersimpuh di lantai.


Melihat wanita tua itu membuat Davis mengeraskan rahangnya. Ia mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi anak buahnya.


“Apa Gabby sudah menghubungi kalian?” tanya Davis.


“Sudah, tuan,” sahut anak buah Cosa Nostra.


“Apa kalian sudah membawa wanita yang bersamanya ke markas?”


“Sudah, tuan, kami sudah mengamankannya di ruang bawah tanah.”


“Bagus, kemarilah! Kau harus menjemput satu orang lagi,” titah Davis. “Aku akan mengirimkan alamatnya,” imbuhnya.


“Baik, tuan.”


Panggilan pun diakhiri. Davis langsung membagikan titik lokasinya saat ini.


“Penjara terlalu ringan sebagai hukumannya dan mati terlalu cepat untuk kalian,” gumam Davis, otaknya terus berfikir mencari hukuman yang cocok untuk dua orang pengganggu itu.

__ADS_1


Salah satu pintu pun terbuka, Dokter yang menangani Gwen muncul.


Leoni langsung berdiri dan menghampiri orang berjas putih itu. “Bagaimana kondisi anak saya, dok?”


“Kami membutuhkan donor darah, karena darah yang keluar terlalu banyak, persediaan kantong darah kami sedang habis, namun golongan darah putri anda tidak langka, kami akan mencari pendonor yang berada di rumah sakit ini,” jelas Dokter.


“Ambil darahku, golongan darahku sama dengan anakku.” Leoni menepuk-nepuk dadanya dengan keras.


“Mari, ikut bersama saya, kita harus cek terlebih dahulu kesehatan anda, apakah bisa mendonorkan darahnya atau tidak,” terang Dokter seraya melenggangkan kakinya menuju suatu ruangan.


Leoni menggangguk, ia pun mengikuti kemana dokter itu melangkah.


“Bagaimana kondisi istri saya, dok?” tanya Davis setelah ia melihat pintu terbuka dan Dokter keluar, ia langsung berdiri dan menghampiri.


Dokter itu tersenyum. “Istri anda baik-baik saja, dan anak dalam kandungannya juga baik-baik saja, namun kondisinya sangat lemah karena kurang cairan, sehingga butuh dua hari untuk dirawat disini,” jelasnya.


“Anak? Maksud anda, istri saya hamil?” Davis ingin memastikan kembali apa yang ia dengar.


“Benar, untuk memastikan kembali, saya sarankan melakukan USG dengan dokter kandungan langsung,” saran Dokter. “Ada di ruang sana.” Ia menunjuk dua lorong yang berjarak dari tempatnya saat ini.

__ADS_1


“Lakukan sekarang juga, aku ingin memastikannya,” titah Davis tak sabaran.


“Kondisi istri anda belum sadarkan diri, saya sarankan untuk melakukan pengecekan di ruang rawatnya saja. Kami memiliki ruang rawat khusus ibu hamil, disana sudah ada alat untuk USG setiap kamarnya sehingga anda tak perlu membawa istri ke ruangan dokter kandungan.”


“Pindahkan saja, pastikan kamarnya sangat nyaman dan paling mahal.”


“Baik, saya akan memindahkan istri anda ke ruang perawatan terlebih dahulu.” Dokter itu masuk kembali ke dalam ruangan dan memberikan perintah pada perawat.


Tak lama, brankar Diora pun di dorong menuju ruang rawatnya.


Davis langsung mengikuti di belakang.


“Langsung panggilkan dokter kandungan untuk melakukan USG pada istriku!” titah Davis sesampainya di ruangan.


Dokter itu mengangguk mengerti, ia langsung memanggil menggunakan saluran interkom yang ada di ruang tersebut.


Davis duduk di samping Diora, tangan kirinya ia gunakan untuk menggenggam tangan kanan Diora, sedangkan tangan kanannya itu gunakan untuk mengelus perut istrinya yang masih rata.


“Semoga, dengan adanya kehidupan disini, kau tak akan meninggalkanku setelah mengetahui semuanya,” harap Davis. Ia kecup tangan Diora begitu lama.

__ADS_1


__ADS_2