
“What?” pekik Diora yang nampak sangat terkejut. “Bali? Nusa Tenggara? Itu kan di Indonesia.” Nada bicaranya seolah tak menginginkan pergi kesana.
“Memang.” Davis meletakkan kembali iPadnya, lalu duduk kembali di sofa dalam walk in closet seraya menatap istrinya.
“Sedang musim apa disana?” Ada gurat kegelisahan dari wajah cantik Diora.
“Mungkin panas.” Kedikan bahu Davis berikan sebagai gambaran ia tak begitu yakin dengan cuaca di Indonesia, sebab setahunya memang tak menentu.
“Kenapa kita tak berbulan madu di Eropa saja?” Diora nampak mengajak suaminya untuk bernegosiasi.
“Tidak, aku bosan sudah berkeliling di seluruh Eropa,” tolak Davis.
Davis merasa aneh dengan istrinya, biasanya wanita sangat suka diajak bepergian, apa lagi dengan pemandangan alam yang sangat indah. Dibandingkan dengan Eropa yang sudah sangat biasa mereka lihat, Indonesia adalah pilihan terbaik untuk wisata. Sebab banyak pulau indah disana.
“Tapi aku tidak bosan.” Diora berjalan ke arah Davis, lalu duduk di samping suaminya untuk bernegosiasi berdua.
“Tidak ada bantahan,” tegas Davis menatap tajam Diora. “Kau harus ingat isi perjanjian kita, bahwa kau harus menuruti semua perintahku.” Davis mengingatkan lagi apa yang sudah dibaca dan ditanda tangani secara sadar oleh Diora.
__ADS_1
Diora masih tak gentar untuk bernegosiasi, entah mengapa ia sangat tak ingin pergi ke negara beriklim tropis itu.
“Jika kau bosan di Eropa, bagaimana jika ke Jepang?” usul Diora dengan wajah yang nampak bahagia, seolah di negara itu tak kalah indahnya dengan Indonesia. “Disana ada sushi dan ramen yang enak, aku belum pernah kesana ... bagaimana jika bulan madunya pindah ke Jepang saja?”
“Tidak! aku tak ingin bertemu Miyabi Ozawa,” tolak Davis bergidik ngeri jika bertemu dengan artis film dewasa yang terkenal itu. Ia takut akan di goda oleh wanita sepertinya.
Diora mengerutkan keningnya. “Siapa itu?” tanyanya sangat polos.
“Kau masih kecil, tak perlu kau tahu,” elak Davis seraya mendorong kening istrinya.
Tatapan tajam dari mata elang Davis dihunuskan pada istri yang tak sopan karena berani menghinanya itu. “Daripada kau ingin tahu, lebih baik kau praktekkan saja langsung denganku.” Senyum mesum terbit di wajah Davis.
Diora nampak penasaran dengan nama yang disebutkan suaminya hingga menyuruhnya untuk mempraktekkan langsung. Ia mengambil iPad milik Davis, lalu mencari pada kolom pencarian google.
“Hiyuhh ... ternyata kau suka menonton film seperti ini.” Diora bergidik sembari memperlihatkan berita tentang Miyabi Ozawa di iPad yang ia pegang seolah jijik dengan benda itu.
“Untuk apa aku menonton itu, hanya mengotori mata dan otakku saja.” Davis berkata jujur seraya mengambil iPad yang dipegang istrinya.
__ADS_1
“Bagaimana kau bisa tau dengan wanita itu jika tak pernah menontonnya?” Diora masih terus penasaran dengan hal yang tak seberapa penting itu.
“Satu kali.” Jawaban tak jelas dilontarkan oleh Davis.
“Apanya? Kau ini bicara jangan membuatku pusing harus berfikir maksudnya,” protes Diora.
“Hanya satu kali aku pernah menontonnya,” terang Davis dengan wajah dan nada datarnya, seolah hal itu bukanlah aibnya.
“Kenapa hanya satu kali? Bukankah pria biasanya suka dengan film seperti itu?” cecar Diora seolah belum terima dengan jawaban suaminya.
“Aku tak suka melihat wanita murahan.” Davis memberitahu alasannya.
“Lalu, kenapa kau tak bertanya kepadaku apakah aku seperti wanita itu atau tidak?” Kini wajah Diora nampak serius menatap suaminya.
“Tak perlu aku bertanya padamu, aku sudah mengetahui jawabannya.” Jawaban itu membuat Diora nampak seperti istri yang bodoh.
Suaminya mengetahui banyak hal tentang Diora. Namun dirinya hanya tahu segelintir informasi tentang suaminya yang ia yakini seorang tuan muda pemilik Triple D Corp. Perusahaan yang menolak proposalnya. Meskipun informasi tentang pemilik perusahaan itu sangat tertutup rapat. Namun wanita itu sangat meyakini, sebab Diora yang sangat senang membaca novel itu otaknya sudah tercemar dengan cerita-cerita CEO misterius.
__ADS_1