My Rich Husband

My Rich Husband
Part 13


__ADS_3

“Aku tak enak hati untuk menagihnya, mungkin saja dia masih membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ibunya,” tukas Diora.


“Jika kau tak mau menagihnya, biarkan aku yang menagih,” usul Gabby. “Berikan padaku ponselmu.” Gabby menengadahkan tangannya, meminta ponsel Diora.


Gabby pun menggambil ponsel Diora dengan paksa, karena tak kunjung diberikan. Diora terlalu banyak berfikir dan terlalu tak enakan orangnya. Selalu memikirkan kepentingan orang lain dibanding kepentingannya sendiri. Bahkan Diora tak berfikir kenapa keluarga Eliana tak mencukupi kebutuhan biaya rumah sakit ibu mereka atau tak berusaha untuk bekerja keras demi membiayai keluarga mereka.


“Nomornya tidak aktif,” kesal Gabby. Ia mencoba menelefon nomor Eliana, namun dijawab oleh suara seorang wanita yang tak lain adalah operator.


“Sudahlah, mungkin dia masih berada di Kota Puolanka.” Diora mengambil kembali ponselnya.


“Mana mungkin! Besok kita ada ujian,” tampik Gabby.


Benar apa kata Gabby, jika besok ada ujian. Pasti hari ini semua mahasiswa sudah berada di Helsinki. Jika tidak, maka tidak akan bisa mengikuti ujian yang akan dilaksanakan kurang dari dua puluh empat jam lagi.


“Sebentar ... aku angkat telfon,” pamit Diora ketika ponselnya berbunyi ada panggilan masuk.


Diora pun bangkit dari duduknya dan menjauh dari Gabby untuk berbicara dengan si penelfon.

__ADS_1


“Halo,” sapa Diora setelah ia menggser tombol hijau di ponselnya.


“....”


“Sekarang?” tanya Diora. Ia melihat jam di tangannya. Masih pukul enam sore.


“....”


“Baiklah ... aku akan kesana sekarang, dua puluh menit lagi mungkin aku akan sampai,” sahut Diora. Ia melirik ke arah Gabby yang sedang bermain ponsel dan duduk manis di sofa.


“....”


“Ikut aku,” ajak Diora.


“Kemana?” tanya Gabby penasaran.


“Stockmann Department Store,” jawab Diora.

__ADS_1


“Apakah ada yang tidak beres?” tanyanya lagi, ia berfikir ada sesuatu yang penting dan mendesak hingga harus ke mall itu. Sebab itu adalah mall terbesar dan hanya barang branded dan restoran mahal yang ada di sana.


“Sudah ikut saja, kau mau ganti pakaian? Ada pakaianmu tertinggal di sini,” tanya Diora.


“Tentu saja, siapa tahu aku bertemu pria tampan dan mapan disana,” seloroh Gabby, lalu bangkit menuju lantai dua untuk berganti pakaian.


Begitupun dengan Diora, dia juga berganti pakaian. Celana panjang berkain tebal, sweater tebal, jaket berbulu, tak lupa sepatu boots. Itulah style mereka, sebab saat ini masih musim dingin.


Diora dan Gabby memilih untuk berjalan kaki menuju tujuan, jarak tempat tinggalnya dengan mall yang akan dituju tidak terlalu jauh.


“Ayo.” Diora buru-buru, sebab sudah hampir lima belas menit mereka berjalan tak kunjung sampai. Ia tak ingin membuat orang yang menelfonnya menunggu terlalu lama.


“Kau seperti akan bertemu dengan client saja,” tebak Gabby asal. Sedetik kemudian ia tersadar dengan ucapannya, buru-buru ia ikut berlari.


Tepat dua puluh menit seperti perkiraan Diora, mereka kini sudah memasuki mall. Tujuan mereka adalah Ravintola, restoran yang terkenal dengan harga makanan dan minuman termurahnya setara dengan harga Hermes Dogon Duo wallet.


“Tunggu.” Gabby mencekal tangan Diora untuk berhenti.

__ADS_1


“Ada apa? Aku buru-buru, tidak ingin membuatnya menunggu.”


“Lihatlah ... bukankah itu si rubah betina.” Gabby menunjuk ke arah seseorang yang menenteng berbagai macam papperbag, baru saja keluar dari salah satu store Hermes.


__ADS_2