My Rich Husband

My Rich Husband
Part 50


__ADS_3

Kornea mata Diora menangkap pria otoriter yang baru saja mengikatnya dengan perjanjian. Pria yang saat ini tengah terlelap di balik selimut tebal.


“Kenapa dia tidur disini,” gumamnya.


Tubuh dan fikirannya sudah lelah, ia membiarkan Davis yang tengah tertidur lelap di atas kasur kamar hotelnya. Ia sedang tak ingin berdebat, hatinya sedang kacau.


Bagaimana ia harus menjelaskan tentang pernikahannya yang secara tiba-tiba pada sahabatnya atau dengan mantan kekasihnya. Mungkin mereka akan berfikiran bahwa Diora tengah hamil dengan Davis, sehingga menikah dadakan. Atau dirinyalah yang menghianati Danzel alih-alih mantannya yang menghianati dirinya.


Diora tak ingin tidur satu ranjang dengan Davis, dia masih belum siap. Ia mengambil jaket tebal untuk ia gunakan sebagai selimut. Sofa adalah pilihannya saat ini. Meskipun sempit, namun setidaknya cukup untuknya beristirahat.


Dengan langkah gontai, ia berjalan ke arah sofa di dekat ranjang. Merebahkan dirinya, lalu meringkuk agar seluruh tubuhnya dapat terselimuti oleh jaket yang tak seberapa besar itu. Menangis dalam diam, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Hingga akhirnya ia terlelap.


...........


Davis terbangun dari tidurnya karena merasakan kering di tenggorokannya. Ia membuka perlahan matanya, berharap Diora mengikutinya tidur di sampingnya. Namun dirinya tak mendapati wanita itu.

__ADS_1


Matanya menyapu seluruh ruangan dengan cahaya yang minim, hanya diterangi oleh lampu tidur di atas nakas. Pandangannya terhenti pada sofa tepat di bawah ranjang.


“Apakah setidak suka itu dia denganku? ... hingga ia memilih tidur terpisah,” lirih Davis dengan sedikit perasaan tak enak sudah tidur terlelap dengan selimut hangat tanpa mengajak Diora.


Davis bangkit dari tempat tidur, mendekati Diora dengan langkah perlahan agar tak menggangu tidur wanita itu. Ia berjongkok tepat di hadapan Diora. Memandang lekat wajah cantik di hadapannya.


“Kau menangis,” gumamnya melihat mata bengkak Diora. Ia usap pelupuk mata Diora dengan halus. Mengecupnya tepat di mata yang tengah terpejam.


Sudut bibir Davis terangkat sempurna tat kala Diora hanya menggeliat tak terusik dengan kelakuannya. Tanpa permisi seperti biasanya, Davis langsung menggendong tubuh Diora yang baginya sangat enteng. Merebahkan tubuh wanitanya di ranjang dan menyelimutinya.


Davis ikut menelusupkan dirinya pada selimut sama, setelah menghabiskan air mineral dari dalam kulkas yang disediakan hotel.


...........


Getaran ponsel di atas nakas membangunkan Davis yang sedang asik tidur berpelukan dengan Diora. Rasanya baru sebentar ia tertidur, namun kenyataannya sudah enam jam lamanya matanya terlelap.

__ADS_1


Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap untuk melakukan perjalanaan kembali ke Helsinki. Membiarkan Diora masih terlelap, ia tak berniat sedikitpun membangunkan wanita itu.


...........


“Mama ...,” teriak Diora. Mimpi buruk yang selalu dialaminya membuat wanita itu terbangun dari tidurnya dengan peluh yang sudah bercucuran di wajahnya.


“Mimpi itu lagi,” gumam Diora, mengusap wajahnya untuk menghilangkan peluh, lalu menghela nafasnya dalam-dalam.


“Semoga bukan pertanda buruk,” harapnya.


Ia baru menyadari bahwa dirinya sudah tak tidur di sofa lagi setelah beberapa saat nyawanya terkumpul. “Apa dia yang memindahkanku di ranjang?”


Buru-buru Diora mengecek kelengkapan bajunya, takut jika Davis sudah melakukan sesuatu yang tidak-tidak dengannya. Untung saja pakaiannya masih utuh sehingga ia bisa bernafas lega.


Tiba-tiba dirinya merasa tersentuh hatinya ketika mengetahui Davis tak membiarkannya tidur di sofa dan tak melakukan perbuatan yang dapat membuatnya membenci Davis seumur hidup. Ternyata pria otoriter itu tak sekejam yang ia fikirkan.

__ADS_1


__ADS_2