
Kapal pesiar Davis segera kembali ke pelabuhan dimana kapal milik Diora telah bersandar disana. Terlihat sudah sepi tak ada lagi tamu pesta yang masih disana.
Davis ingin berjalan mendahului George dan Lord yang berjalan begitu lamban. Ia sudah sangat rindu aroma tubuh istrinya.
“Mau kemana kau terburu-buru?” George mencekal jas yang dipakai Davis sehingga sahabatnya itu mau tak mau memberhentikan langkah kakinya.
“Menemui istriku.” Davis melepaskan jasnya agar ia dapat berjalan dengan mudah tanpa beban berat yang diberikan George.
“Dengan tampilanmu seperti itu?” George menunjuk bercak darah yang ada di kemeja dan wajah Davis. “Coba kau cium aroma tubuhmu itu, kau mau langsung menemui istrimu dalam kondisimu sekarang?” sindirnya.
Davis sungguh mencium aroma tubuhnya, bau alkohol dan nikotin sisa semalam mereka menghabiskan waktu ketika menunggu ajang pergiliran.
“Ya, kau benar ... aku akan mandi dulu.” Davis langsung berlalu pergi meninggalkan dua pria yang bergeleng kepala melihatnya seperti orang sedang dimabuk cinta, tak dapat jauh terlalu lama dengan pasangannya.
Tiga puluh menit, Davis sudah selesai membersihkan tubuhnya dan mengganti pakainnya dengan yang baru. Beruntung ia sudah membawa pakaian ganti.
Pria itu langsung ke kamar dimana terakhir kali meninggalkan istrinya. Terlihat Lord sudah menunggu di depan pintu. Sedangkan George langsung pamit pulang, sebab ia tak menemukan Gabby disana, daripada menjadi obat nyamuk untuk dua pasangan beda generasi yang sedang dimabuk cinta.
__ADS_1
“Kenapa tak masuk?” tanya Davis dengan santainya.
“Kenapa? Kuncinya kan kau yang bawa,” decak Lord heran dengan menantunya yang melupakan hal itu.
Davis tak menanggapi lagi, ia langsung membuka pintunya. Terlihat dua wanita yang tengah tidur di bawah selimut saling berpelukan.
“Biarkan mereka, jangan ganggu,” cegah Lord ketika Davis hendak menggendong Diora untuk kembali ke kamarnya.
“Ck! Aku sudah rindu tidur dengannya.” Mendengus kesal pria itu. Mau tak mau ia menuruti Lord. Mereka duduk di sofa dalam ruangan itu, menunggu hingga sang ratu terbangun.
“Kenapa tak membangunkan aku?” Suara wanita yang begitu Davis rindukan membuat pria tampan yang setia memandangi ranjang tersenyum hambar.
“Hanya tak ingin menggangumu dengan mamamu saja,” bohong Davis. Tak mungkin ia mengatakan jika Lord mencegahnya, bisa diberondong banyak pertanyaan oleh Diora nantinya.
Diora berohria, namun ia merasa aneh mengapa ada papa Gabby juga di ruangan itu. “Kenapa papa Gabby masih disini?” tanyanya.
“Emm ....” Davis nampak bingung harus menjawab apa, bola matanya memutar ke kanan dan ke kiri mencari alasan. “Ah ... dia terpisah dengan Gabby dan tertinggal, jadinya menginap disini,” kilahnya.
__ADS_1
Makin bingung saja wanita itu, sebab ia sangat ingat jika Gabby datang bersama George bukan bersama papanya. Ditambah Lord semalam begitu terharu melihat bersatunya dirinya dan mamanya. Mata Diora terus menelisik setiap inchi wajah Lord.
“Ayo, aku ingin mengajakmu berkeliling seluruh isi kapal ini.” Ajakan Davis membuyarkan tatapan wanita itu.
Diora beralih menatap suaminya. “Tapi, aku belum mandi,” elaknya menunjuk dirinya yang masih berantakan.
“Nanti saja mandinya,” timpal Davis dengan senyum penuh artinya.
Diora pun mengikuti ajakan suaminya, meninggalkan mamanya yang masih terlelap dan Lord yang tertidur di sofa.
Davis mengajak istrinya berjalan menyusuri lantai demi lantai.
Disetiap bagian sudutnya ada foto Diora dan juga Davis ketika pernikahan. Tercetak besar, sehingga siapa saja pasti tahu jika kapal itu milik mereka.
“Kenapa ada kereta kencana disini?” tanya Diora ketika mereka sampai di lobby kapal dan ada alat transportasi jaman dahulu utuh dengan empat roda, hanya saja tak ada kudanya.
“Ingin mencoba seperti di film titanic?” tawar Davis. Padahal dirinya yang begitu ingin mencoba produksi anak di kereta kencana itu karena terinspirasi dari film yang begitu melegenda di televisi.
__ADS_1