
Diora telah sampai di penthouse. Ia langsung masuk ke dalam dan segera membersihkan dirinya.
“Belum pulang juga?” gumamnya setelah selesai mandi namun belum mendapati suaminya datang.
Ia berganti pakaian santai, entah mengapa wanita itu sangat senang menggunakan kaos milik Davis yang besar sehingga ia tak perlu memakai celana untuk menutupi bagian bawahnya.
Langsung bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Hanya butuh waktu tiga puluh menit, masakannya sudah siap.
Wanita itu langsung merebahkan dirinya di sofa ruang tengah untuk menunggu kepulangan Davis. Begitu bosan dirinya menunggu, biasanya jika sedang tak melakukan apa-apa, ia membaca novel.
“Aku akan menginstal ulang aplikasi novel online kesukaanku.” Dengan senyum mengembang ia mulai berselancar dengan ponselnya. “Pasti suamiku tak akan tau.” Begitu bahagianya dia setelah berhasil mengembalikan aplikasi kesukaannya.
Diora langsung mulai membaca lagi novel yang telah lama tak ia baca itu. Hingga ia lupa dan tak sadar bahwa suaminya sudah berada tepat di atas kepalanya dan ikut membaca.
“Ehem ....” Davis berdehem, membuat Diora langsung menjatuhkan ponselnya.
“Aduh ....” Wanita itu mengusap hidungnya yang tertimpa ponsel, begitu sakit. Langsung duduk dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia kini seperti maling yang tertangkap basah.
__ADS_1
“Apa yang kau baca?” Davis langsung duduk di samping istrinya dan merengkuh tubuh itu, tak lupa mencurukkan kepalanya di pundak Diora hingga hembusan nafas yang begitu hangat sangat terasa melintasi kulit mulus istrinya.
“Aku membaca berita,” kilah Diora, matanya berputar kemana-mana dan tak berani menatap mata elang yang kini sudah berada di hadapannya.
“Oh ya? Coba ku lihat.” Suami yang kini selalu bertutur kata lembut itu menengadahkan tangannya meminta ponsel.
“Mmm ....” Diora mencari alasan untuk menghindari hukuman. “Batrenya habis.” Memberikan senyum termanisnya agar suaminya percaya.
“Biar aku yang mengisi daya baterainya.”
Davis mencoba untuk merebut ponsel keluaran lima tahun lalu itu, namun Diora menyembunyikan di balik tubuhnya dan merapatkan punggungnya ke sofa.
“A-apa yang kau lakukan? My Love ... Engh ....” Lenguhan itu lolos begitu saja ketika usapan dari tangan kekar semakin naik ... naik ... dan naik hingga jari jemari masuk mengusap lembut bagian sensitif disana.
Menatap istrinya penuh damba. “Memberikanmu hukuman.”
Segera menanggalkan kain pembungkus kelembutan itu. Lidahnya bermain-main disana, memberikan sengatan listrik yang begitu kuat.
__ADS_1
“Ahh ... geli ... ku mohon hentikan ....” Mulutnya berhianat dengan hati dan tangannya. Nyatanya wanita itu malah memegangi kepala suaminya agar terus memberikan sensasi yang begitu nikmat membahana.
Davis langsung menjauhkan kepalanya ketika milik istrinya telah basah.
“Ke-kenapa kau menyudahinya?” protes Diora yang sudah menginginkan sesuatu yang lebih. Ia sudah seperti wanita tak memiliki harga diri saja kini, dilambungkan hingga ke angkasa lalu dihempaskan begitu saja setelah melayang tinggi.
“Ingin lebih ya?” Seringai penuh kemenangan terbit di wajah tampan itu. “Itu adalah hukuman untukmu karena tak memberikanku ponselmu.”
“Ti-tidak.” Merah sudah seluruh wajahnya menahan malu.
“Aku lapar, ayo makan,” ajak Davis. Ia segera memakaikan kembali kain yang sudah ia lepaskan tadi dan langsung menggendong istrinya menuju ruang makan. “Kenapa ada dua hidangan?” tanyanya setelah mendudukkan dirinya.
“Hanya ingin saja,” seloroh Diora menunjukkan rentetan gigi putih dan rapinya.
“Untuk hari ini saja, lain kali tetap makan satu piring berdua, jika perlu kau menyuapi dengan mulutmu.”
Byur ...
__ADS_1
Untuk kedua kalinya, wajah tampan Davis terkena semburan dadakan.
Beruntung pria itu begitu mencintai istrinya, jadi ia tak marah sedikitpun. Ia hanya bisa menghela nafasnya dan segera membersihkan wajahnya.