
Hari senin saatnya untuk semua orang kembali beraktifitas seperti biasanya. Davis dan Diora pun demikian, mereka sudah siap dan rapi untuk berangkat ke kantor. Ya, Diora sudah mulai menjalankan proyek besar setelah peresmian beberapa hari yang lalu.
Entah mengapa, Diora begitu manja dan selalu ingin menempel dengan suaminya. Sedari bangun tidur hingga masuk ke dalam mobil, dirinya memeluk lengan kekar Davis. Meskipun Davis tak masalah dengan hal itu.
“Turun, sudah sampai.” Davis membukakan pintu mobilnya setelah mereka berada di depan pintu masuk perusahaan milik Diora.
Diora turun dari mobil dan kembali bergelayut manja. “Temani aku, aku tak mau jauh darimu,” pintanya dengan puppy eyes.
Gemas sekali Davis melihatnya, ingin sekali dirinya menggendong dan menggagahi istrinya saat ini juga. Namun ia urungkan, sebab ada pekerjaan penting yang harus ia kerjakan saat ini juga.
“Kita kan bisa bertemu lagi nanti di rumah, sekarang aku harus bekerja,” tolak Davis dengan sangat halus.
Wajah Diora langsung berubah cemberut, ia pun menjauhkan tubuhnya dari sang suami. “Pergi sana ... pergi ... jangan temui aku lagi.” Langsung masuk ke dalam dengan rasa kesal.
Davis hendak menyusul istrinya yang sepertinya sedang merajuk. Namun ponselnya berbunyi, George yang menelfon memberitahukan bahwa client sudah menunggu sejak lima menit yang lalu. Ia pun buru-buru berjalan ke gedung seberang, meninggalkan mobilnya. Ia tak mungkin menggunakan mobil, sebab akan memakan waktu yang lama harus mencari putar balik.
Diora membalikkan tubuhnya, berharap suaminya mengejar dirinya. “Dasar pria, tidak peka!” gerutunya seraya menggemelatukkan giginya.
__ADS_1
Diora langsung membanting pintu setelah masuk ke dalam ruangannya.
“Kau kenapa?” tanya Gabby yang sudah berada di dalam sana menunggu kedatangan sahabatnya itu.
“Kau, mengagetkanku saja, sejak kapan berada disini?” Diora mengelus dadanya yang berdebar.
“Sedari tadi aku sudah berada disini, bukankah aku asisten yang rajin?” Gabby membanggakan diri sendiri.
“Kau sangat rajin,” puji Diora segera duduk di kursinya.
“Kau kenapa? Wajahmu seperti sangat kesal.”
“Hari ini ada bimbingan untuk tugas akhir, kau jangan lupa.” Gabby mengingatkan.
“Ya, nanti kita pergi bersama, kita selesaikan dulu saja pekerjaan kita,” pinta Diora.
Dua wanita itu pun akhirnya fokus melihat desain-desain yang sudah dibuat oleh karyawannya.
__ADS_1
...........
Sedangkan di perusahaan Davis, ia baru saja selesai menyepakati proyek baru. Ia dan George langsung masuk ke dalam ruangannya.
Davis menghempaskan tubuhnya dengan kencang di sofa, menghembuskan nafasnya. “Istriku sangat aneh,” desahnya.
“Aneh kenapa?” tanya George.
“Dia begitu mudah emosi seperti kucing hutan dan seketika berubah manis manja seperti kucing peliharaan,” keluh Davis.
“Dasar wanita, memang sulit dimengerti,” gerutu George. “Apa kau sudah mencoba bertanya dengan google, kenapa istrimu itu emosinya berubah-ubah? Mungkin saja dia tahu, secara dia begitu pintar menjawab apapun yang kita tak tahu.”
“Kau benar, kenapa aku tak berfikiran hingga kesana.” Davis segera membuka ponselnya dan mengetikkan keluhannya itu.
“Kenapa? Apa katanya?” George bertanya ketika melihat raut wajah sahabatnya itu mengerutkan keningnya.
“Katanya ada dua kemungkinan, dia sedang datang bulan atau hamil, jadi, mana yang benar?” Davis menunjukkan hasil pencariannya.
__ADS_1
“Kenapa kau tak bawa istrimu itu ke dokter kandungan saja? Bisa saja dia hamil,” celetuk George.
“Terima kasih idenya.” Davis segera berdiri dan berlari untuk menemui Diora.