My Rich Husband

My Rich Husband
Part 163


__ADS_3

Diora hanya membolak-balikkan badannya. Matanya terus terpejam namun kesadarannya masih melekat. Ia tak bisa tidur tanpa dipeluk oleh suaminya. Sepertinya kebiasaan tidur saling berpelukan membuatnya tak nyaman jika tak melakukan itu.


“Kenapa?” Davis begitu lembut bertanya setelah istrinya membuka mata dan menatap ke arahnya. Ia langsung menyimpan kembali ponsel yang berada di genggamannya.


Davis sedari tadi melihat apapun yang dilakukan Diora, namun mencoba biasa saja karena belum mendapatkan ampunan sehingga tak berani langsung memeluk untuk menenangkan istrinya yang terlihat gelisah.


“Aku tak bisa tidur.” Bibir wanita itu melengkung ke bawah berharap suaminya peka dan langsung menawarkan diri untuk memeluknya. Pasti dia akan menerimanya dengan senang hati.


“Tenang, aku disini tak akan kemanapun.” Tangan kekarnya mengelus lembut punggung tangan istrinya.


Mendengus sebal Diora mengerucutkan bibirnya dan mencoba untuk memejamkan matanya lagi.


Tetap tak bisa, ia tak bisa berselancar ke alam mimpi. “Peluk ...,” rengeknya dengan terpaksa.


Pria itu menyunggingkan senyumnya dan langsung merebahkan dirinya di samping sang istri. Tanpa basa basi dan banyak bicara. Ia memeluk istrinya, begitupun dengan Diora. Tangannya mengusap kepala istrinya dengan lembut.


Tak lama, hembusan nafas Diora mulai teratur. Menandakan wanita hamil itu sudah tertidur.


“Tidur saja harus dipeluk, masih mencoba merajuk,” gumam Davis terkekeh dengan tingkah istrinya.

__ADS_1


Dalam hati, Davis bersykur karena Diora sudah bergantung dengannya. Ia ikut tertidur juga setelah beberapa saat memandangi wajah cantik di depan matanya.


...........


Cahaya terang mencoba menerobos masuk melalui celah-celah kaca yang sedikit tak tertutup gorden itu. Menyilaukan kedua manusia yang masih tertidur.


Davis segera membuka matanya. Ia menutupi cahaya itu dengan tangannya agar tak menggangu tidur istrinya.


“Engh ....” Diora bangun dan meregangkan otot-otot di tubuhnya.


Davis langsung menghempaskan tangannya, tak menutupi lagi cahaya. “Mau mandi? Atau makan dulu?” tawarnya.


“Tunggu sebentar.” Davis langsung turun dan mengambil nampan berisi sarapan yang sudah dibawakan oleh perawat. “Aku suapi, ya?” ijinnya.


Diora menjawab dengan anggukan. Bukan, itu bukan keinginan dirinya. Ia ingin menolak dan melanjutkan aksi mogok bicaranya. Tapi keempat anaknya sepertinya berpihak pada sang pemilik benih.


Dengan telaten Davis menyuapi istrinya. Belum sampai habis makanan itu. Pintu sudah ada yang mengetuk.


“Masuk ....” Suara Diora mempersilahkan orang di luar pintu.

__ADS_1


Klek!


Pintu terbuka, memperlihatkan seseorang yang semalam Davis kirimi pesan agar datang ke rumah sakit bertemu dengannya.


“Hi, kenapa kau tak memberitahuku jika berada di rumah sakit? Aku pasti akan menjengukmu.” Kalimat pertama yang dilontarkan orang itu setelah masuk ke dalam ruangan.


“Aku tidak sakit, hanya hamil saja,” jawab Diora sedikit menyunggingkan senyumnya.


“Hamil anakku, empat.” Davis menekankan setiap katanya. Ia begitu menyombongkan dirinya karena berhasil mencetak empat sekaligus.


“Selamat.” Tersenyum getir orang itu. Mencoba menguasai perasaannya agar tetap ikut bahagia.


“Bagaimana kau tahu aku disini?” Sedari tadi Diora bingung tentang hal itu.


“Oh ... itu aku yang menyuruhnya datang kesini.” Davis sudah menjawab terlebih dahulu sebelum orang yang ditanya menjawab.


“Kenapa?”


“Bukankah kau ingin aku meminta maaf dengan Danzel? Aku akan melakukannya langsung di hadapanmu, karena aku tak tega meninggalkanmu sendirian,” terang Davis seraya tangannya terus aktif menyuapi istrinya. Ia ingin terlihat gentleman di depan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2