My Rich Husband

My Rich Husband
Part 93


__ADS_3

Davis masuk ke dalam penthousenya dengan wajah lebam dan tangan yang terluka. Ia menutupi seluruh tubuhnya seperti seorang maling. Pria itu tak ingin membuat istrinya khawatir melihat kondisinya saat ini.


Diora yang sedang memasak di dapur pun melihat ke arah suara kaki berasal. Ia langsung mengambil penggorengan dengan besi yang begitu tebal.


Prang ...


Diora memukul sekuat tenaganya. “Siapa kau! Mau apa kau ke rumahku mengendap-endap?”


Bertubi-tubi wanita itu melayangkan pukulan.


“Awww ... ini aku, suamimu.” Davis mencekal tangan Diora agar tak memukulnya lagi.


“Kau, kenapa seperti seorang maling.” Diora hendak membuka penutup wajah Davis, namun pria itu memalingkan wajahnya.


“Aku sedang flu,” kilah Davis mencari alasan.


“Flu?” Diora mengernyitkan keningnya. “Suaramu terlihat baik-baik saja, tak seperti orang sedang sakit.”


“Flu orang kaya berbeda,” dalih Davis.


“Ohh ....” Diora percaya saja dengan perkataan suaminya, lalu ia hendak kembali ke dapur meneruskan aktifitas memasaknya.


“Untung saja ada sisi bodohnya dia,” gumam Davis mengelus dadanya lega, penyamarannya tak ketahuan.


Namun ...

__ADS_1


“Kau berbohong ya ...,” tuding Diora kembali ke arah suaminya. “Mana ada flu rakyat biasa dan orang kaya berbeda.” Setelah ia menyadari akan kepolosannya.


Diora langsung membuka penutup wajah suaminya, matanya membulat sempurna melihat luka lebam di wajah tampan yang tetap tampan meski memar.


“Kau berkelahi?” cecar Diora seraya mengajak Davis untuk duduk.


“Biasa ... urusan lelaki,” balas Davis cengengesan.


“Ternyata kau bisa kalah juga berkelahi, ku kira kau akan menembak orang yang berani memukulmu,” seloroh Diora, tangannya menggoyangkan kepala Davis ke kanan dan ke kiri untuk melihat luka lebamnya.


Jika bisa ku tembak, akan ku tembak dia. Tapi dia mertuaku, papa kandungmu. Ingin sekali rasanya Davis mengatakan itu.


“Aku sudah membalasnya dengan hal yang sama.” Hanya itu yang dapat Davis ucapkan dari bibirnya.


Dengan telaten wanita itu membersihkan dan mengobati luka yang ada di wajah suaminya.


“Aww ...,” pekik Davis.


“Malu dengan otot, masa begitu saja kesakitan,” hina Diora tat kala melihat wajah Davis yang merintih kesakitan.


“Bukan karena wajahku aku kesakitan, tapi tanganmu itu menindih tanganku yang terluka.” Davis meluruskan kesalah pahaman itu.


“Oh ... maaf, aku tak tau.” Diora kini melihat luka yang ada di tangan suaminya. “Astaga ... bagaimana bisa ada pecahan kaca di tanganmu dan kau tak bersihkan langsung,” kesalnya merasa khawatir akan ada infeksi.


“Hanya luka kecil,” elak Davis. “Kenapa reaksimu begitu? Apa kau sangat khawatir denganku? Apa artinya kau sudah mencintaiku?” godanya seraya menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Plak ...


Diora memukul pelan kening suaminya dengan telapak tangannya. “Diam kau ... sakit masih saja bisa menggodaku.”


Gelenyar-gelenyar yang tak aneh bagi Davis mulai terasa ketika istrinya mulai membersihkan luka di tangannya. Ditambah posisinya saat ini yang duduk di sofa dengan kaki yang terbuka lebar, sedangkan Diora duduk di bawah di sela-sela kakinya membuat pikirannya travelling kemana-mana.


Davis menelan salivanya dengan kasar. Dari posisinya ini, ia bisa melihat sebuah belahan yang terlihat menantang untuk didaki.


Pria itu langsung menarik istrinya, ia rebahkan tubuh molek itu di sofa dan mengunci dalam kungkungannya.


“Aku sudah tak dapat menahannya lagi.”


Davis langsung menyecap bibir yang menggoda itu, tak memperdulikan berontakan istrinya. Lidahnya mulai perpindah ke leher jenjang, meninggalkan bekas kemerahan disana. Tangannya sudah bergerilya memasuki kain yang menutupi tubuh molek itu.


Diora pun mulai terpancing dengan foreplay yang dilakukan suaminya. Ia mulai membalas pagutan yang diberikan lagi oleh Davis.


Tak ada penolakan dari istrinya membuat Davis sudah seperti orang kesetanan, tubuhnya saat ini sungguh panas. Bukan demam yang ia rasakan, namun panas hasrat yang kian menggebu.


Ia melucuti seluruh pakaiannya, meninggalkan boxer bermotif macannya.


“Tunggu ....” Diora menghentikan aksi suaminya ketika hendak melucuti kain pembungkus kulitnya. “Aku sedang datang bulan.” Ia berkata jujur.


Davis mendesah, lalu mengacak-acak rambutnya frustasi. “Arghhh ....”


Terpaksa ia meminta istrinya untuk bermain dengan tangannya berulang kali sebagai gantinya. Hingga tangan Diora begitu lemas karena sesuatu yang ia pegang saat ini tak juga memuntahkan lahar putih hangat.

__ADS_1


__ADS_2