
Tiga hari telah berlalu, Davis, George, dan Lord sungguh menghancurkan perusahaan Dawson. Tinggal menunggu kebangkrutan saja keluarga itu.
Selama tiga hari pula hubungan pasangan suami istri itu berjalan biasa saja, Davis masih belum bisa masuk ke dalam sarangnya. Namun, mereka selalu tidur berpelukan dan ciuman sesuai perjanjian sebelum menikah semua dilakukan.
Tanpa sadar, Diora pun mulai terbiasa hidup bersama Davis. Perubahan sikap suaminya yang begitu drastis dalam memperlakukan dirinya membuatnya luluh begitu saja. Apa lagi setelah pengakuan cinta ketika di Bali, membuatnya mulai membuka hati.
“Kau, pulang jam berapa?” tanya Davis seraya memakai jam tangannya.
“Ujianku selesai pukul tiga sore,” jawab Diora. Tangannya masih menimang-nimang dasi mana yang cocok untuk dikenakan suaminya.
“Aku akan menjemputmu hari ini,” terang Davis membuat Diora mendongakkan kepalanya untuk menatap manik mata suaminya.
“Kenapa? Aku bisa menggunakan mobil sendiri,” tolak Diora. “Ini cocok,” imbuhnya setelah mendapatkan dasi yang cocok dikenakan suaminya. Dasi berwarna maroon bermotif garis-garis miring. Padahal semua dasi yang ia bandingkan sama semua warnanya, hanya motifnya saja yang berbeda. Memang dasar wanita, membuat apa saja yang mudah menjadi sulit.
“Menurut saja, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” pinta Davis dengan lembut. Pria itu tak pernah berkata kasar dan membentak lagi. “Dan aku akan mengantarmu hari ini.”
“Baiklah.” Diora memakaikan dasi dengan telaten, tentu saja dia sangat mahir memakaikan dasi setelah suaminya mengajari selama ribuan kali hingga tangan halus itu terbiasa.
Setelah mengurus pakaian suaminya, Diora pun menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Roti panggang dengan isi beef sliced sesuai permintaan Davis.
“Bisa kita sarapan di mobil saja?” Davis melihat jam tangannya, ia sangat buru-buru pasalnya ia harus bertemu pemegang saham Dawson Group yang bersedia menarik saham mereka.
__ADS_1
“Aku siapkan dulu.” Diora memasukkan makanan yang sudah ia siapkan ke dalam wadah.
Buru-buru wanita itu menyusul suaminya yang sudah menunggu di basement.
Langsung masuk ke dalam mobil setelah Davis membukakan pintu untuknya.
“Aaa ....” Diora meminta suaminya untuk membuka mulutnya, ia ingin menyuapi sembari Davis fokus menyetir.
Pria itu menurut saja apa yang diperintahkan. Mereka makan dari bekas gigitan yang sama satu sama lain.
“Tunggu aku sampai datang, jangan pergi kemanapun atau pulang sebelum aku menjemputmu,” titah Davis ketika mereka sampai di Helsinki University.
“Hmm.”
Sudut bibir Diora terangkat sempurna mendapat perlakuan manis itu. “Hati-hati,” pintanya setelah turun dari mobil.
Davis pun melajukan mobilnya.
“Sepertinya ada yang sudah jatuh cinta,” seloroh Gabby yang melihat semua kejadian di dalam mobil, termasuk kecupan itu.
“Mungkin,” jawab singkat Diora, segera menggandeng lengan sahabatnya untuk masuk ke dalam ruangan ujian.
__ADS_1
...........
Davis dan George sudah berada di dalam ruang rapat bersama pemegang saham Dawson Group.
“Ada masalah apa?” suara baritone itu membuka keheningan yang beberapa saat lalu terjadi.
“I-itu.” Ragu-ragu salah satu pemegang saham mengatakannya.
“Katakan saja,” titah Davis.
“Tu-tuan Dawson mengancam kami, ji-jika kami menarik saham dari Dawson Group, maka mereka akan melenyapkan kami,” terang pemegang saham itu.
Membuat Davis memijat pelipisnya, berbeda dengan George yang biasa saja.
“Kalian tetap menarik sahamnya, aku akan menjamin keselamatan kalian semua,” sambung George.
Davis menengok ke arah sahabatnya itu untuk meminta penjelasan, George hanya menjawabnya dengan anggukan kepala pertanda percayakan saja padaku.
Pertemuan pun berakhir, tinggallah sepasang sahabat itu.
“Apa rencanamu?” tanya Davis.
__ADS_1
“Tentu saja ini urusan Lord untuk menjamin keselamatan mereka, kau lupa? Lord ketua mafia terbesar dan paling ditakuti di Eropa, menjamin keselamatan mereka bukan hal yang sulit untuknya,” jelas George.