
Davis nampak tak berpengaruh dengan hinaan yang dilayangkan oleh Sanchez, suami mantan kekasihnya—Gwen.
“Berikan aku itu,” titah Davis pada karyawan, tanpa bertanya terlebih dahulu pendapat istrinya. Ia langsung memberikan black card untuk membayar. Ia sungguh malas meladeni Sanchez yang begitu sombong dengan kekayaan hasil warisan orang tuanya.
“Wah ... dari mana uang itu? Apa kau korupsi?” Sanchez menutup mulutnya setelah mengatakannya, seolah dirinya menyesal telah mengatakan itu. Namun itu adalah dusta, ia sengaja memperolok Davis.
“Bukan urusanmu.” Davis mengajak Diora untuk segera pergi. Namun langkahnya terhenti ketika suara seseorang yang telah lama tak ia dengar menggema dengan lembutnya di gendeng telinganya.
“Sayang, ternyata kau disini.” Gwen masuk ke dalam toko dengan menggandeng seorang bocah perempuan berusia delapan tahun.
Deg!
Kedua manik mata Gwen saling bertemu dengan Davis. Rasa yang ia kubur begitu lama dan mencoba ia hilangkan selama sepuluh tahun itu ternyata sia-sia setelah melihat mantan kekasihnya itu.
“Hi, lama tidak bertemu,” sapa Gwen tersenyum kaku. Namun Davis hanya diam saja tak merespon.
Sanchez langsung menghampiri Gwen dan menciumnya tepat di hadapan semua orang. “Kenapa kau lama sekali ke toilet.” Ia mencengkram lengan Gwen dengan sedikit kasar namun tak ada yang menyadari itu kecuali Davis dan George, membuat wanita itu sedikit meringis menahan sakit.
Sanchez sengaja memanas-manasi Davis, ia tahu betul siapa Davis. Ia ingin menunjukkan bahwa Davis bukanlah apa-apa baginya.
“Bagaimana jika kita makan bersama? aku akan mentraktir kalian semua,” tawar Sanchez dengan sombongnya memperlihatkan black card nya.
“Tidak,” jawab Davis dan George.
__ADS_1
“Hei ... jangan menolak rejeki,” sahut Diora yang tak tahu situasi apa di hadapannya saat ini.
Sedangkan Gabby, wanita itu masih menilai situasi yang ia lihat di depan matanya.
“Hahaha ... ternyata kekasihmu jauh lebih pintar,” puji Sanchez yang terdengar seperti hinaan di telinga Davis.
“Tak apa, jangan sungkan ... anggap saja kita sedang reuni.” Gwen tersenyum lembut.
...........
Sementara itu, di sudut belahan dunia lainnya. Tepatnya di Melbourne. Seorang pria paruh baya tengah mengamuk membanting seluruh barang yang ada di meja kerjanya.
Penarikan saham secara serempak itu membuat perusahaannya benar-benar hancur, sahamnya anjlok hingga minus.
“Siapa yang berani melakukan itu padaku ...!” raungnya dengan mata mendelik dan mencengkram kerah kemeja Gio asistennya.
Bugh ... bugh ... bugh ...
Bertubi-tubi Gio mendapatkan siksaan dari tuannya.
“Apa yang kau lakukan hingga kau tak becus mengurus para pemegang saham itu ...!” seru Dawson seraya kakinya menendang perut Gio.
“Maaf tuan, tapi ada orang yang berani menjamin mereka semua,” jelas Gio, mengusap darah di bibirnya dan berdiri tegap.
__ADS_1
“Siapa?”
“Maaf tuan.” Hanya itu yang dapat Gio sampaikan, sebab dirinya tak dapat mengatakan siapa dalang dibaliknya.
“Arghhh ... bodoh!” Membenturkan dengan keras kepala Gio pada tembok ruangannya.
“Cari perusahaan lain yang mau berinvestasi di perusahaanku!” titah Dawson dengan tatapan tajamnya.
“Ma-maaf tuan.” Lagi-lagi Gio mengucapkan itu. “Sudah berbagai perusahaan saya hubungi, namun ada rumor yang membuat mereka takut untuk bergangung di Dawson Group.”
“Rumor apa?”
Gio memperlihatkan artikel yang viral tentang istri dan anak sambung tuannya yang memiliki gangguan kejiwaan mengerikan.
Prang ...
Vas bunga di meja pecah begitu saja, kepala Gio lagi-lagi menjadi sasarannya.
“Bagaimana bisa ada orang yang tau tentang itu!” berang Dawson. “Keluar kau!” titahnya.
Gio pun keluar, ia menghubungi seseorang entah siapa. Melaporkan semua yang ia alami.
Tak lama, Cassandra—istri kedua Dawson dan Celine—anak sambung Dawson masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
“Kau ini bagaimana! Jika kita miskin, bagaimana bisa aku membayar orang lagi untuk melihat mereka menghiburku dengan siksaan!” berang Cassandra yang takut kepuasan batin anehnya tak terpenuhi lagi.
“Diam kau!” Dawson tak kalah amarahnya. Ia yang sudah terhasut oleh iblis itu pun tak pernah melarang istrinya menghamburkan uang demi hal mengerikan itu.