
Setelah memberikan hukuman pada kedua wanita pengganggu rumah tangganya. Davis segera bergegas membersihkan dirinya dari keringat yang bercucuran akibat terlalu lama berada di dalam ruang bawah tanah. Ruangan yang pengap tak ada pendingin dan hanya terdapat sedikit inhalasi.
Ternyata mempersiapkan semua keperluan di markasnya ada gunanya juga. Ia tak perlu jauh-jauh pulang ke penthousenya hanya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Setelah dirasa tubuhnya sudah tak lengket dan kotor lagi, Davis segera berjalan menuju mobilnya.
Semua anak buahnya membungkuk memberikan hormat untuk dirinya.
“Hati-hati dijalan, tuan,” ucap anak buahnya yang membukakan pintu mobil untuk Davis.
Davis hanya membalas dengan anggukan pelan dan sedikit senyuman. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia memberikan pesan kepada anak buahnya. “Jaga markas!” Lalu ia membenamkan diri ke dalam kendaraan roda empat yang sangat mewah itu.
Mobilnya melesat ke berbagai tujuan karena semua yang dipesan oleh istrinya bukanlah satu lokasi. Davis tak menggerutu sama sekali dengan permintaan istrinya dan tak merasa disulitkan karena rasa cintanya jauh lebih besar, sehingga ia melakukannya dengan senang hati.
Satu jam lamanya untuk Davis mendapatkan seluruh makanan dan snack yang diminta Diora. Ia ingin memastikan kembali apakah istrinya masih menginginkan sesuatu lagi atau tidak, agar ia bisa langsung membelikannya. Efisien waktu menurutnya.
Davis segera melakukan video call dengan Diora dan langsung diangkat oleh istrinya itu karena Diora memang tengah bermain ponselnya sehingga tak membutuhkan waktu lama.
Belum sempat Davis mengucapkan apapun, dirinya sudah mendapatkan semburan dari singa hamil yang kelaparan.
__ADS_1
“Dimana kau? Kenapa lama sekali? Anakmu sudah berdemo terus sedari tadi, mungkin mereka akan jadi duta demonstran jika besar nanti karena sedari di kandungan sudah rajin mendemo Daddynya yang lama sekali memberi makan anak-anaknya,” sembur Diora panjang lebar tanpa jeda.
Davis yang terkena amukan malah tersenyum mendengarnya. Sangat lucu baginya ekspresi wajah istrinya ketika kesal.
“Daddy minta maaf sayang, ini sudah Daddy belikan semua yang diminta kalian dan Mommy.” Pria itu menunjukkan kursi di sampingnya yang berisi banyak papper bag makanan.
Diora yang melihat hidangan sebanyak itu matanya langsung membulat. Air liurnya bahkan sudah meluap, buru-buru ia menyekanya.
“Cepat kemari, aku sudah sangat lapar,” rengek Diora.
“Iya, aku akan segera kesana, ada lagi yang kau inginkan? Agar aku bisa sekalian membelikannya?” tawar Davis sangat lembut.
“Sudah itu saja?”
“Ya, segeralah kemari, anak-anakmu sudah sangat rindu,” kelakar Diora mengarahkan ponselnya ke perut ratanya.
Davis terkekeh. “Anak-anakku atau Mommynya yang rindu?” godanya menaik turunkan alisnya.
Rona merah menghiasi wajah putih Diora saat ini, ia sangat malu ketahuan merindukan suaminya. Padahal baru ditinggal tiga jam lamanya.
__ADS_1
“Sudahlah, cepat kembali!” Diora langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak.
Sudut bibir Davis terangkat sempurna, ia sangat senang istrinya merindukannya. Ia langsung bergegas ke cafe yang dimaksud Diora.
Setelah semua pesanan dibeli olehnya, Davis menuju ruang rawat Diora dengan langkah mantap dan hati yang gembira membayangkan istrinya akan sangat senang sekali menyambut kehadirannya yang menenteng berbagai hidangan.
“Aku datang.” Kalimat pertama yang meluncur dari bibir pria itu setelah membuka pintu. Senyumnya merekah menyambut istrinya. “Kau boleh pergi, untuk upahmu akan aku transfer nanti,” usirnya pada Dokter yang menemani istrinya.
Dokter itu langsung berpamitan dengan Diora dan Davis. Ia menuju ruangannya dan kembali melanjutkan aktifitasnya.
“Kemarilah.” Diora melambaikan tangannya memanggil suaminya.
Davis mendekati istrinya dan meletakkan tentengannya di nakas.
Diora langsung menarik tangan suaminya dan memeluk tubuh kekar itu. Menghirup dalam-dalam aroma maskulin suaminya.
Davis pun membalas pelukan itu, ia mengusap punggung istrinya dengan lembut. Sepertinya istrinya itu begitu merindukan dirinya hingga berinisiatif untuk merengkuhnya.
Diora langsung melepas pelukannya ketika Davis hendak menyerang bibirnya. Helaan nafas suaminya begitu menusuk indera penciumannya. “Kau merokok?”
__ADS_1
Diora tak suka dengan bau rokok, apa lagi saat ini ia sedang hamil dan menambah indera penciumannya bertambah kuat.