
Nampaknya perkiraan Diora meleset. Tadinya ia berfikir bahwa menggunakan pakaian muslim tidak akan membuatnya terlihat aneh. Sebab, mayoritas penduduk di Indonesia memanglah beragama islam.
Kini wanita itu tengah menjadi pusat perhatian banyak orang, tentunya yang menatapnya adalah beberapa wisatawan domestik yang memang memiliki kepribadian suka mengomentari orang lain. Karena wisatawan mancanegara tak pernah menatap seseorang dengan tatapan merendahkan dan mengejek, mereka sangat menghargai orang lain.
“Kenapa semua orang menatapku?” tanya Diora merasa heran, setiap orang yang melewatinya pasti tertawa cekikikan sembari menunjuk ke arahnya.
“Karena penampilanmu sangat aneh,” timpal Davis. Ia tak malu sedikitpun dengan penampilan istrinya, toh orang-orang yang melihatnya tak ada yang kenal.
“Mana ada aneh, mereka saja menggunakan pakaian sama sepertiku.” Diora menunjuk segerombolan wanita berjilbab yang tengah menatapnya.
“Biarkan saja! jika kau nyaman dengan yang kau pakai, tak perlu kau perdulikan tatapan mereka.” Davis tak mau ambil pusing, dirinya yakin pasti ada sesuatu dari istrinya yang belum ia ketahui.
Diora mengikuti saran suaminya, ia menikmati pemandangan sebuah hamparan lautan lepas dengan air asin yang begitu jernih.
Tak lupa satu buah es degan segar langsung disajikan dari batoknya. Sepasang suami istri itu nampak seperti pasangan romantis meminum yang segar-segar bersama dari sedotan yang sama pula.
__ADS_1
“Bule kere ... masa minum es degan lima belas ribuan untuk berdua.” Sebuah hinaan terlontar dari mulut sepasang kekasih yang berada di samping mereka.
Davis mengeluarkan dompetnya, lalu ia memberikan uang senilai seratus euro kepada orang yang menghinanya tadi. “Untuk kalian membayar minuman.” Davis berucap dengan nada dingin dan tatapan tajamnya, ia menggunakan bahasa Indonesia. Davis memang menguasai lima puluh bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
Skak!
Pasangan yang menghinanya tadi tak dapat berkata lagi, mereka kira bule yang dihina tak paham dengan bahasa negaranya. Namun mereka salah, kini mereka tengah malu sendiri. Tapi tetap tak melewatkan untuk mengambil rejeki nomplok dari Davis.
Untuk menghadapi orang yang merendahkan dirinya, memang tak perlu banyak bicara. Cukup memberikan bukti kepada mereka bahwa ia tak seperti apa yang dituduhkan. Cara itu pasti akan langsung membungkam mulut mereka.
“Aku hanya memberi mereka pelajaran,” terang Davis seraya memberikan sunblock kepada istrinya agar mengoleskan krim itu ke tubuhnya. Sebab ia tak ingin terlalu gosong tersengat sang surya.
“Memangnya kau guru, memberikan pelajaran,” timpal Diora. Tangannya dengan telaten mengolesi tubuh suaminya.
“Memangnya hanya guru saja yang bisa memberikan pelajaran pada seseorang?”
__ADS_1
“Iyalah.”
“Guru hanya memberikan pelajaran sebuah materi, tapi aku memberikan mereka pelajaran hidup agar tak mudah merendahkan seseorang. Apalagi orang itu mereka tak kenal,” sergah Davis yang dirinya tak ingin dipandang sebelah mata.
Obrolan sepasang suami istri itu terhenti ketika ada seseorang berpakaian layaknya petugas villa datang menghampiri mereka.
“Sorry Mr and Mrs,” ujar pegawai itu dengan sopan.
“Ada apa?” Davis berkata dengan bahasa Indonesia.
“Maaf, saya ingin mengambil taplak meja dan juga sapu tangan yang dikenakan oleh nona. Karena itu milik villa dan tidak boleh dipakai untuk menutupi kepala, sebab fungsinya untuk menutupi meja.” Pegawai itu menunjuk ke arah Diora dengan jempolnya.
“Dia bicara apa?” tanya sang tersangka dengan polosnya.
“Dia meminta kain yang kau pakai tanpa permisi itu,” kesal Davis yang tak habis fikir dengan kelakuan istrinya. Bisa-bisanya istrinya memakai barang yang bukan miliknya tanpa ijin. Seperti suaminya tak mampu saja membelikan benda itu.
__ADS_1
Lagi-lagi pria yang sudah kembali menjadi the real sultan itu mengeluarkan sepuluh lembar euronya sebagai ganti rugi. Namun pegawai villa menolaknya.