
Bab 109
"Aku ingin sekali melihat bagaimana dia menangani pekerjaannya nanti!"
Sonia mendengus dingin saat matanya bersinar penuh kemenangan.
Tiba-tiba, seorang karyawan laki-laki berseru lantang: "Hei, dia ada di sini. Ibu manajer ada di sini!"
"Di mana?"
"Yang mana mobilnya?" seseorang bertanya. "Kenapa aku belum melihatnya?"
"Orang yang duduk di boncengan skuter listrik itu seperti Ibu Manager!" Seorang pegawai pria menunjuk skuter yang perlahan mendekati bahu jalan.
"Ya ampun, itu benar dia! Siapa pria itu? Yang pasti bukan suaminya, 'kan? Ada tas bergambar bunga di pangkuannya. Apa suaminya dalam perjalanan ke tempat kerja dan menurunkan istrinya di sini?"
Felicia kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Mungkinkah? Bukankah kau bilang kalau gaji manajer satu juta dolar sebulan? Dengan gaji setinggi itu, kenapa juga suaminya harus ikut bekerja?"
Seorang karyawan laki-laki mengerutkan kening mendengar ucapan rekan kerjanya.
__ADS_1
"Hehe. Kau mungkin tidak tahu tapi dia adalah wanita cantik yang sangat terkenal, Selena Taylor. Dia yang diusir oleh keluarga Taylor," tambahnya. "Suaminya pasti sudah kembali dari perang!"
"Kuberitahu sesuatu, ya. Kamu tahu kenapa dia naik skuter listrik? Itu karena dia tidak punya uang. Beberapa waktu lalu, seseorang melihat Selena bersama putrinya memulung sampah untuk dijual. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana dia bisa mendapatkan pekerjaan bergaji satu juta dolar per bulan ini. Selain itu, bukannya masih sebulan lagi ya gajiannya?"
Felicia mencemooh dan menumpahkan apa yang dia ketahui kepada karyawan lainnya.
"Tidak mungkin dia tidak punya uang. Kalau dia tidak punya uang, kenapa manajer mengundang kita ke hotel bintang enam?"
Karyawan laki-laki itu menyela setelah berpikir sejenak.
"Aku yakin manajer pasti orang kaya."
"Kalau dia kaya, kenapa dia tidak beli mobil? Kenapa dia mengendarai skuter listrik?"
"Hei, apa yang kau bicarakan? Pokoknya, hari ini manajer mentraktir kita. Bukan urusan kita kalau dia punya uang atau tidak. Kita hanya perlu menikmati malam ini!"
Sonia berkomentar sok pintar.
Setelah Fane dan Selena menemukan tempat untuk memarkir skuter, mereka berjalan beriringan.
Selena bergabung dengan kerumunan, tersenyum bahagia. "Aku minta maaf telah membuat semua orang menunggu!"
__ADS_1
"Jangan khawatir, Ibu Manajer. Kami juga baru saja sampai kok" seorang karyawan wanita menjawab dengan riang.
"Biar aku perkenalkan semuanya. Ini suamiku, Fane! Dia baru saja pulang kerja, jadi dia datang menjemputku!"
Sonia tersenyum pada Fane. "Suamimu ini. Kudengar dia dulunya pengantar makanan, 'ya? Pada saat itulah dia mendaftar wajib militer mengatas namakan Tuan Muda Taylor, 'kan?"
Wajah Selena berubah muram tapi dia berusaha memaksakan seulas senyum sopan. "Wow, Supervisor, kau tahu banyak hal!"
"Hehe. Aku memang tahu banyak hal. Aku juga dengar kalau beberapa hari yang lalu manajer kita ini memulung sampah. Kenapa kau tiba-tiba bisa jadi manajer? Sungguh luar biasa!" Sonia mengejek. "Kalian berdua sangat cocok!"
"Ibu Manajer, Sonia bermaksud menghina, bukan sebaliknya!"
Felicia melangkah maju dan mengingatkan Selena.
"Benarkah? Oh, aku bodoh sekali. Kupikir itu cara yang bagus untuk memuji orang. Ternyata aku sangat bodoh, mungkin aku harus banyak belajar lagi!" Sonia berkata sambil tersenyum.
"Gadis Cantik, apakah kau menggosok gigi hari ini?" Fane tiba-tiba membantah dengan dingin.
"Tentu saja. Kenapa memangnya?"
"Tapi kenapa mulutmu bau sekali?"
__ADS_1
Bersambung.......
Terima kasih